Suara pengumuman penerbangan bersahutan dengan deru roda koper di lantai marmer bandara yang dingin. Aroma kopi dari kedai terdekat bercampur dengan bau khas AC bandara yang selalu membuatku merasa berada di antara dua dunia—tidak benar-benar pergi, tidak juga benar-benar tinggal.
Aku berdiri menggenggam gagang koperku, menatap Mas Roy yang sedang sibuk menjadi wasit di tengah medan perang kecilnya sendiri. Dua anaknya bertengkar memperebutkan satu mainan robot berwarna biru, sementara istrinya tampak kewalahan menenteng tas perlengkapan bayi yang tampaknya berisi separuh isi rumah.
Sementara Tristan sedang berpamitan dengan Om Hadi dan Tante Lilis. Dia tersenyum lepas mendengar guyonan Om Hadi.
Aku menatapnya dalam. Ini sudah setahun setelah ujiannya. Setahun ia harus bergelut dengan obat-obatan psikiater. Harga yang mahal untuk melihat senyum Tristan tersenyum seperti itu.
“Kalian ini bisa diam tidak, sih?!” seru Mas Roy frustrasi.
“Jangan berantem di sini. Ini tempat umum,” omel Mbak Tari.
“Dia duluan, Mama.”
“Kakak!”
Mas Roy akhirnya menghampiriku. Napasnya memburu, rambutnya sedikit berantakan, namun tatapannya melembut seketika saat ia berdiri di depanku. Ada sesuatu di matanya yang tidak pernah berubah sejak dulu—kehangatan yang selalu ia sembunyikan di balik nada suaranya yang tegas.
“Sudah semua, El? Tidak ada yang ketinggalan di rumah?”
Aku menggeleng pelan, meski dalam hati aku tahu ada banyak hal yang kutinggalkan di rumah itu—bukan barang, melainkan kenangan yang akhirnya berhasil kubuat damai dengan diriku sendiri.
“Semua sudah di sini, Mas. Termasuk yang tidak muat di koper.”
Mas Roy mendesah panjang, bahunya merosot seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang dipikulnya bertahun-tahun. “Seharusnya kau tidak menjual rumah itu, El. Dengan begitu, kalian masih punya alasan kuat untuk pulang ke Jakarta suatu saat nanti.”
Aku tertawa kecil, mencoba meringankan suasana yang tiba-tiba terasa berat. “Kenapa? Apa pintu rumah Mas sudah tertutup buatku? Lagian rumah itu terlalu banyak menyimpan bekas luka.”
Mas Roy tertegun sejenak, seolah pertanyaan itu menusuk sesuatu yang lebih dalam daripada yang kumaksud. Lalu tangan besarnya mendarat di kepalaku, mengacak rambutku yang kini mulai memanjang, gerakan yang sama persis seperti yang selalu ia lakukan sejak aku masih remaja canggung yang tidak tahu harus ke mana.
“Dasar kau anak nakal,” gumamnya sambil tertawa pahit, meski matanya berkaca-kaca. “Pintu rumahku, akan selalu terbuka. Kau dengar itu?”
Aku mengangguk, tidak sanggup menjawab dengan kata-kata.
“Apa yang akan kamu lakukan di London, El?” tanyanya.
Aku diam sejenak. Berpikir. “Aku ingin buat game bareng teman kuliahku yang ada di sana. Dan juga di sana aku bisa ngawasi Tristan lebih dekat setelah dia memutuskan buat kuliah di sana.”
Mas Roy menoleh ke Tristan. “Kalian memang anak yang pintar. Dua-duanya kuliah ke luar negeri. Om Liam dan ibumu pasti bangga, El.”
Aku tersenyum lembut. Hingga tiba-tiba—
“Oeeeeaaaakkkk!”
Tangisan kencang anak bungsunya memecah percakapan kami, melengking di antara hiruk-pikuk bandara.