Mungkin Hanya Ayah

Ahmad Uwais Al-Khalafi
Chapter #1

Chapter 1: Keluarga Di Rumah Sederhana Yang Kecil, Pengenalan

‎​"Siapa yang mau merakit istana kayu malam ini?" Pertanyaan itu selalu menjadi hal yang paling aku rindukan.

‎​"Aku, Yah! Aku mau pasang pintunya!" jawab adikku.

‎​"Kalau aku mau buat atapnya, Yah!" jawabku dengan penuh rasa bahagia.

‎Pada hari itu, kami tertawa bersama, mengukir memori yang sangat indah.

‎​Namaku Bumi. Sebelum aku membuka lembaran kisah tentang keluargaku, izinkan aku memperkenalkan mereka terlebih dahulu. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik pertamaku bernama Bintang. Sementara itu, adik bungsuku masih bersemayam hangat di dalam rahim Ibu. Usianya baru tujuh bulan. Kata Dokter, malaikat kecil itu berjenis kelamin perempuan, dan aku bersiap menghadiahkan nama Mentari untuknya.

‎​Ibuku bernama Mutia, sosok wanita penyabar yang hatinya seluas samudra. Lalu ayahku bernama Arga, seorang lelaki yang seru, baik, dan penuh pengertian. Setidaknya, kehangatan itulah yang selama ini mengalir dan kurasakan dari kedua orang tuaku.

‎Kami tinggal di sebuah rumah sederhana buatan Ayah. Walau tak semegah rumah-rumah mewah yang kerap kupandangi di luar sana, di sinilah aku menemukan kenyamanan sejati. Rumah ini merangkulku dengan hangat, membantuku tetap fokus belajar karena setiap sudutnya telah menjadi bagian dari jejak langkahku.

‎​"Kamu adalah anak yang hebat, Bumi. Bintang, kamu juga sangat pintar!" puji Ayah Arga suatu kali.

‎​Kalimat penuh kebanggaan itu seolah menjadi kidung yang selalu mampir di telinga kami setiap hari. Ayah menaruh harapan besar agar kelak kami bisa meneruskan jejaknya.

‎​Pria yang kami kagumi itu bekerja sebagai perancang maket bangunan. Saat Ayah membawa pekerjaannya ke rumah, aku dan Bintang kerap menempel di sisinya, mengulurkan tangan-tangan kecil kami untuk membantu merakit miniatur tersebut.

‎​"Bintang, bukan di situ nempelnya... Ah, kamu ini. Sini lemnya, biar Kakak yang tempel," ucapku di sela-sela kesibukan kami.

‎​"Aaa... Aku saja! Aku bisa, kok!" sahut Bintang dengan nada tidak terima.

‎​"Tadi saja kamu salah. Adik, adik!" jawabku dengan nada mengejek.

‎Bukannya marah, ​Ayah pun tertawa geli melihat aku dan adikku yang terus beradu argumen.

‎​Ibu pun tak pernah absen mendampingi. Bahkan di saat kami sedang asyik dengan dunia kami sendiri dan tidak ikut membantu, Ibu akan tetap setia berada di sisi Ayah, menjadi penyokong terbaiknya.

----


‎Akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu oleh keluarga kami pun tiba. Ayah mendapatkan pesan dari seorang pengusaha properti swasta yang sangat terkenal, Pak Hendra. Beliau menugaskan Ayah untuk membuat maket 3-D dari kertas cetak biru yang telah dirancangnya. Tentu saja, itu adalah sebuah proyek yang sangat besar. Karena skala proyeknya yang serius, aku dan Bintang tidak diperbolehkan Ayah untuk ikut membantu merakit maket tersebut. Kali ini, hanya Ibu dan Ayah yang turun tangan.

‎​Ayah mengerjakannya dengan penuh ketelitian dan kesabaran. Ibu pun turut membantu dengan sepenuh hati, walaupun kondisinya saat itu sedang mengandung tua. Maket itu diperkirakan akan selesai pada tanggal 27 Agustus 2014. Tepat pada keesokan harinya, adalah hari kelulusanku pada jenjang sekolah dasar.

‎​"Mut, tolong ambilkan lem itu, dong," ucap Ayah dengan nada serius.

‎​"Oh, iya, boleh. Ini lemnya," sahut Ibu sembari mengulurkan benda tersebut ke tangan Ayah.

‎​Pada saat itulah, aku memberanikan diri masuk ke gudang tempat Ayah dan Ibu tengah sibuk menyusun maket. Aku hanya ingin menanyakan satu hal penting kepada Ayah.

‎​"Ayah, nanti tanggal 28 Agustus temani aku di sekolah, ya? Ada acara kelulusan," ucapku penuh harap agar Ayah bisa menghadiri momen berhargaku itu.

‎​"Oh, sungguh? Ayah janji, pasti Ayah akan datang," jawab Ayah hangat.

‎​Ayah tampaknya lupa bahwa pada tanggal 28 Agustus itu, beliau juga harus mengumpulkan maket tersebut kepada Pak Hendra. Sementara aku, yang sama sekali tidak mengetahui rumitnya urusan itu, langsung merasa sangat senang karena mengira Ayah benar-benar bisa menghadiri acara kelulusanku.

‎Ayah dan Ibu kemudian melanjutkan kembali maket tersebut. ‎

‎---

Tanggal 27 Agustus 2014 pun tiba.

‎​"Akhirnya... selesai juga. Terima kasih ya, Sayang," ucap Ayah pada pukul 23.32 malam.

‎​"Sama-sama, Yah. Ini semua hasil jeri payahmu, tugasku cuma membantu, Sayang," sahut Ibu dengan nada penuh kelembutan.

‎​"Yah, Ayah, tidur. Biar besok tidak telat ke acaraku..." ucapku saat terbangun dari tidurku dan melihat Ayah dan Ibu yang ternyata belum juga istirahat.

‎​"Iya, Nak... Ini Ayah mau tidur," sahut Ayah menjawab seruanku.

‎​Namun, setelah aku kembali terlelap, Ibu menatap Ayah dengan cemas. "Kamu besok tidak ke kantor Pak Hendra? Kok bisa ke acara Bumi?" tanya Ibu dengan penasaran.

‎​"Ha... oh, iya, aku lupa. Eee... Nanti aku berangkat jam enam pagi. Nanti kalau Bumi bertanya kepadamu, bilang saja aku berangkat duluan bersamamu. Katakan kalau Ayah masih mandi dan nanti akan menyusul," bisik Ayah dengan gelisah.

‎​Pagi hari pun tiba. Hari kelulusan Bumi, anak pertama Arga dan Mutia. 28 Agustus 2014, sebuah hari yang sangat spesial bagi Bumi.

Lihat selengkapnya