Mungkin Hanya Ayah

Ahmad Uwais Al-Khalafi
Chapter #2

Chapter 2: Hari Kelam Digudang Belakang

Keesokan harinya, saat aku dan Bintang ditemani oleh tetangga takziah di rumahku, Ayah tidak ada di samping Ibu. Ayah malah berada di dalam gudang. Ketidakhadiran Ayah di sisi jenazah Ibu memicu kasak-kusuk di antara para pelayat. Sebagai seorang kepala keluarga, mengurung diri di saat pelepasan sang istri dinilai sangat tidak lazim. Orang-orang saling berbisik, melemparkan pandangan penuh tanya ke arah lorong gelap tempat gudang berada. Tatapan mata mereka yang dipenuhi rasa iba sekaligus penasaran membuat atmosfer rumah menjadi semakin tidak nyaman untuk kami berdua.


Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ayah saat itu, tetapi suaranya berisik membuat orang-orang sangat terganggu. Suara hantaman logam yang berat berulang kali memantul dari dinding semen, menciptakan gema ritmis yang merusak keheningan doa. Beberapa tetangga sempat menghentikan lantunan ayat suci mereka, mengkerutkan dahi sembari menoleh ke belakang dengan raut wajah yang jelas menunjukkan rasa tidak senang. Kegaduhan itu terasa sangat tidak sopan, seolah-olah sengaja menantang kesakralan momen duka yang sedang berlangsung di ruang depan.


Suara tersebut berlangsung sampai takziah selesai. Ketika para pelayat satu per satu mulai berpamitan pulang dengan menyisakan sebuah pertanyaan besar, gema bising itu pun masih belum juga mereda dari bagian belakang rumah. Setelah memastikan pagar depan ditutup dan ruang tamu kembali sepi, rasa cemas yang bercampur penasaran mendorong langkah kakiku untuk mendekati sumber suara. Aku mencoba pergi ke gudang untuk mengecek Ayah, tetapi pintu gudang terkunci rapat. Aku mencoba untuk memutar gagang pintu yang sudah berkarat dan dingin itu untuk beberapa kali, tetapi jawabannya tetap sama, pintu itu tetap terkunci.

---

Aku pun bertanya dalam hatiku, "Mengapa Ayah mengunci pintunya?"


Aku mencoba berpikiran baik, “Mungkin saja Ayah sedih karena kehilangan sosok istri yang sangat ia sayangi sehingga ia mengunci diri karena tidak mau melihat istrinya yang sudah pergi?” Logika kecilku berusaha menyusun berbagai alasan yang menurutku masuk akal. Aku juga terbayang seandainya Ayah tidak mengunci dirinya di gudang dan ikut bertakziah bersama kami.


Namun, pernyataan tersebut seketika terbantah ketika aku melihat sebuah celah dan memperhatikan Ayah lewat celah tersebut. Celah yang mungkin sudah lama ada di situ membuka jalan bagiku untuk melihat kenyataan yang jauh berbeda dari perkiraanku. Aku menekuk lututku di atas lantai kayu yang dingin, menempelkan sebelah mataku ke lubang sempit itu, lalu menahan napas sedalam mungkin agar keberadaanku tidak terendus.


Di dalam keremangan cahaya yang menerobos dari ventilasi atas, pemandangan itu membuat sekujur tubuhku mendadak kaku. Aku melihat Ayah sedang membongkar dinding. Dengan tubuh yang basah kuyup oleh keringat dan napas yang memburu, ia menghantamkan ujung linggis besi ke arah batako di sudut ruangan secara membabi buta. Puing-puing semen hancur berantakan di sekeliling kakinya, menciptakan kepulan debu putih tipis yang menari-nari di udara yang pengap. Aku tidak tahu apa yang Ayah sembunyikan di balik dinding. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat Ayah menyembunyikan sesuatu di balik dinding. Tindakan Ayah yang sangat mengerikan melahirkan berbagai spekulasi buruk yang menghantam kepalaku bak kawanan burung yang terbang menjauh dari bahaya.

---

Ketika aku masih terpaku mengintip dengan jantung yang berdegup kencang, sebuah bayangan kecil mendekat dari arah belakang koridor. Suara langkah kakinya yang menggeser lantai membuatku tersentak kaget. Beberapa saat kemudian, Bintang memanggilku.


“Kak, lagi ngapain?” tanya Bintang yang sedang menghampiriku.

“Oh... ini Kakak lagi lihat Ayah,” jawabku setengah berbisik sembari buru-buru menarik lengannya agar ikut merunduk bersamaku di lantai.

“Memangnya Ayah lagi ngapain, Kak?” tanya Bintang, matanya yang polos mengerjap penuh rasa ingin tahu di tengah kegelapan lorong.

“Kakak enggak tahu juga, tetapi kayaknya Ayah lagi bongkar-bongkar sesuatu,” jawabku.

“Coba sini Adik lihat,” pinta Bintang yang langsung mencondongkan tubuhnya ke arah daun pintu, tidak sabar ingin meniru apa yang baru saja kulakukan.

“Iya, tetapi jangan berisik. Nanti ketahuan sama Ayah,” ancamku dengan nada sedalam mungkin, memperingatkannya akan bahaya yang mengintai jika ketukan linggis di dalam sana tiba-bisa terhenti karena mendengar suara kami.

Setelah memberikan ruang yang cukup di depan celah kayu tersebut, kami pun mulai membagi pandangan secara bergantian. Aku dan Bintang saling bergantian mengintip apa yang Ayah lakukan. Kami tidak bisa melihat benda apa yang Ayah bongkar karena celahnya sangat kecil. Sudut pandang yang sangat terbatas hanya mampu menangkap gerakan punggung Ayah yang naik-turun dan kilatan ujung logam yang tajam menghantam sela-sela beton bangunan rumah kami.

Lihat selengkapnya