Mungkin Hanya Ayah

Ahmad Uwais Al-Khalafi
Chapter #3

Chapter 3: 2026, Jalur Yang Berbeda Dari Kita

Tahun 2026

‎​Kembali lagi denganku, Bumi, di tapak waktu yang berbeda. Dua belas tahun ini adalah bentang waktu yang penuh dengan patahan ujian. Ibu Mutia telah tiada. Sejak hari itu, entah mengapa Ayah mendadak menjelma sosok yang asing dan pemarah, sementara Bintang terus mengunci hatinya, menuduh Mentari sebagai penyebab hilangnya nyawa Ibu.

‎​Di usiaku yang kini menginjak dua puluh lima tahun, aku tumbuh menjadi seorang arsitek. Seseorang yang tenang, gemar bekerja dalam senyap, menyelesaikan segalanya dengan presisi, dan tentu saja, berusaha adil. Pencapaian ini jelas bukan karena restu atau doa Ayah, melainkan murni dari peluh yang kuperas sendiri sejak dini.

‎​Berbeda denganku, Bintang adik laki-lakiku tumbuh menjadi pemuda yang kerap memberontak. Barangkali, dingin dan kasarnya sikap Ayah pada kami berdua telah mematangkan frustrasinya, menempanya menjadi jiwa yang liar. Bagiku, Bintang adalah adik yang hangat, juga sosok kakak yang baik bagi Mentari. Namun di hadapan Ayah, ia menjelma badai; selalu membentak, bahkan pernah nyaris melayangkan pukulan hanya karena sebuah permintaan tolong yang sepele.

‎---

‎Saat ini aku sedang memegang proyek besar. Namun, satu per satu klien justru memutuskan untuk berhenti bekerja sama tanpa alasan yang jelas. Aku tidak tahu apa penyebabnya sampai akhirnya, salah satu klien ku, yaitu Pak Bagas memasuki ruangan ku.

‎​"Pak, mohon maaf ya... Di detik ini, saya putuskan untuk berhenti dari proyek besar ini," ucap Pak Bagas, salah satu klien utamaku.

‎​"T-tapi, kenapa, Pak? Mengapa saya sering mengalami hal-hal seperti ini? Selalu berhenti di tengah jalan," jawabku dengan nada kesal bercampur penasaran.

‎"Kalau boleh tahu, apakah ada yang menghasut Bapak untuk membatalkan proyek kita?" tanyaku lagi dan lagi kepada Pak Bagas.

‎​Pak Bagas menatapku dingin sebelum bertanya, "Bapak anak dari Pak Arga, bukan?" Tanya Pak Bagas.

‎​"Iya, benar. Kalau saya anak dari Pak Arga, memangnya kenapa, Pak?" tanyaku, kian tidak mengerti.

‎​"Ya sudah, itu alasan saya menghentikan kerja sama kita. Sebelum saya meninggalkan ruangan ini, selesaikan dulu masalah Ayahmu dengan Pak Hendra," jawab Pak Bagas seraya merapikan dokumennya dan berjalan keluar.

‎​Aku tertegun di ruang kerja yang mendadak hening. Pak Hendra orang tua yang sampai sekarang belum juga pensiun itu ternyata tega mencemarkan nama baik Ayah hingga berdampak pada karierku.

‎​"Ayah... Bisa enggak sih, sekali aja enggak hancurin proyek aku?" gumamku pelan, menahan amarah yang membakar dada.

‎---

‎Aku dengan segera kembali ke rumah dan melemparkan tas kerjaku ke lantai.

Lihat selengkapnya