Mungkin Hanya Ayah

Ahmad Uwais Al-Khalafi
Chapter #4

Chapter 4: Rumah yang sunyi & Ayah terlupakan

Waktu mengalir bagai air keruh yang lambat-lambat menghanyutkan sisa kehangatan dari rumah kami. Hari berganti menjadi bulan, dan bulan merajut tahun, membawa segala perubahan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Beberapa tahun telah berlalu sejak badai pertengkaran hebat di meja makan malam itu, saat Aku dan Bintang meluapkan seluruh rencana untuk angkat kaki dan membawa Mentari keluar dari rumah yang penuh kepalsuan ini. Meja makan yang semestinya menjadi tempat berkumpul hangat, malam itu runtuh menjadi garis pembatas yang memisahkan ikatan darah kami untuk selamanya. Rencana patungan kami untuk membeli rumah baru memang akhirnya benar-benar terwujud dari tetesan keringat dan kerja keras kami selama bertahun-tahun. Namun, kami gagal membawa Mentari. Adik perempuan kami itu memilih keras kepala, menolak tunduk pada logikaku dan ego Bintang. Mentari lebih memilih mengikuti kata hatinya yang naif ketimbang masa depannya yang jauh lebih cerah di luar sana. Ia memilih bertahan di rumah kayu ini, mengorbankan masa mudanya demi merawat seorang pria tua yang menurutku sudah tidak layak disebut Ayah. Rumah kayu tua yang menjadi saksi hancurnya masa kecil kami, kini justru menjadi penjara sukarela bagi adik bungsu kami sendiri.


Memasuki masa tuanya, kondisi fisik Ayah Arga menurun drastis akibat penyakit sesak napas kronis dan gejala demensia yang kian hari kian parah menggerogoti tubuh serta pikirannya. Laki-laki tegap yang dulu suaranya pernah menggelegar meruntuhkan nyaliku dan Bintang di masa kecil, kini telah menjelma sesosok manusia ringkih yang rapuh di mataku. Kekuasaan dan ketakutan yang dulu sengaja ia tanam di dalam dada kami, kini menguap bersama rapuhnya tulang-tulang tuanya. Setiap kali Aku terpaksa menginjakkan kaki di rumah ini, Aku hanya melihatnya duduk termangu di atas kursi roda tua, menatap kosong ke arah jendela luar yang berdebu. Sorot matanya kabur, seolah-olah ia sedang menanti sesuatu yang ia sendiri sudah lupa apa wujudnya.


Napasnya terdengar sangat berat, berbunyi nyaring dan tersendat-sendat di dalam dadanya yang semakin kurus. Bagiku, bunyi itu menyerupai mesin tua karatan yang dipaksa bekerja di ujung batas usia. Penyakit paru-paru itu seolah sedang menguras sisa tenaga yang ia miliki. Setiap tarikan napasnya memancarkan penderitaan yang panjang, namun Aku memilih bergeming. Bukan hanya fisiknya yang hancur, melainkan isi kepalanya pun mulai menunjukkan keretakan yang parah. Akibat demensia yang dideritanya, pikiran Ayah sering kali tersesat jauh di dalam labirin ingatan masa lalu yang kabur. Ia kerap kali melupakan waktu, bingung membedakan antara siang dan malam, sering kali terbangun dengan ketakutan luar biasa di tengah kegelapan ruangan. Bahkan, terkadang ia menatapku dengan tatapan asing, seolah-olah Aku adalah orang asing yang menyusup ke rumahnya. Pria tua itu telah benar-benar kehilangan kendali atas memorinya sendiri; ia melupakan nama anak-anak kandungnya sendiri.

---

Namun, berlalunya waktu ternyata tidak pernah benar-benar mampu menyembuhkan luka lama yang sudah terlanjur membusuk di dalam dadaku dan dada Bintang. Luka yang digoreskan oleh keegoisan pria itu terlalu dalam untuk ditutup oleh debu waktu yang berlalu. Karena dendam masa lalu yang teramat pekat dan mengakar kuat sejak malam kematian Ibu, Aku dan Bintang memilih untuk bersikap sangat abai terhadap kondisi kesehatan Ayah yang kian memprihatinkan. Sebagai seorang arsitek yang menuntut kesempurnaan dan keteraturan, Aku mendapati diriku tumbuh menjadi pria yang dingin. Aku membangun dinding pertahanan yang tebal di dalam hatiku, memastikan tidak ada ruang sedikit pun bagi rasa kasihan yang tidak rasional. Aku hampir tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini kecuali jika ada dokumen kerja yang tertinggal. Sementara Bintang, si pemberontak itu, hanya sesekali pulang sekadar untuk berganti pakaian, lalu pergi lagi tanpa pernah menyapa Ayah. Kami berdua sepakat melepaskan diri dari bayang-bayang pria tua itu.


Bagi kami berdua, setiap erangan kesakitan yang keluar dari tenggorokan Ayah dan setiap tatapan linglung dari sepasang matanya yang mulai rabun tidak lebih dari sekadar panggung sandiwara demi memancing rasa iba. Suara batuknya yang memecah keheningan rumah malam hari hanyalah gangguan bising di telinga kami. Aku menutup mata dan telingaku rapat-rapat, menolak keras untuk mengeluarkan sepeser pun uang atau tenaga untuk merawatnya. Mengapa Aku harus memedulikan seseorang yang dulu menelantarkan emosi kami saat kami sangat membutuhkannya? Aku sengaja membiarkan rasa sakit hati masa kecil memenangi nurani yang orang-orang katakan harus dimiliki oleh seorang anak. Dunia di luar sana boleh saja menghakimi kami sebagai anak durhaka, tetapi mereka tidak tahu bagaimana dinginnya rumah kayu ini saat Ibu pergi. Aku dan Bintang selalu menganggap penyakit Ayah hanyalah alasan untuk mencari perhatian dari sekelilingnya. Kami melihat segala kelemahannya sebagai sebuah taktik usang dari seorang pria tua yang kini ketakutan menghadapi kesunsian di masa senjanya, setelah dulu pernah mengunci diri di gudang dengan penuh keangkuhan.

“Biarkan saja dia terbatuk-batuk seperti itu. Dia hanya sedang mencari perhatian kita karena tahu kita sudah tidak peduli lagi padanya,” ketusku kepada Bintang pada suatu sore, saat Aku terpaksa pulang untuk mengambil beberapa cetak biru proyekku yang tertinggal.

saat Aku terpaksa pulang untuk mengambil beberapa cetak biru proyekku yang tertinggal. Suara batuk dari kamar tengah terasa begitu menyiksa telinga, memantul di antara tiang-tiang kayu rumah yang mulai rapuh. Langkah kakiku sengaja kupercepat melewati kamar tengah, seolah enggan menghirup udara yang sama dengan pria tua itu. Aku menolak membiarkan atmosfer kamar itu memperlambat urusan kerjaku.

Bintang yang saat itu sedang berada di ruang tamu hanya melirik sekilas ke arah lorong kamar tanpa ada niat sedikit pun untuk melangkah ke sana. Ia tetap duduk diam, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang sekaku es. Tatapannya lurus ke depan, sedingin salju yang tidak akan pernah mencair.

“Dulu dia mengusir kita dan mengunci diri di gudang tanpa memikirkan perasaan kita yang sedang berduka karena kehilangan Ibu. Sekarang, saat dia tua dan sakit-sakitan seperti ini, untuk apa kita harus repot-repot peduli? Anggap saja ini hukum tabur tuai,” balas Bintang dengan nada yang tidak kalah hambar dari suaraku.

Lihat selengkapnya