Lima bulan setelah pisah rumah dengan Ayah telah kami lalui. Rasanya jauh lebih tenang tanpa beban. Nama Ayah yang sering mengacaukan pekerjaanku kini mulai mengasing dari karierku. Bintang pun mengalami perubahan besar setelah kami berpisah dari Ayah. Dulu, ia sering berkumpul bersama teman-temannya dengan jam pulang tak tentu, dan kerap pulang dalam keadaan emosi yang mendadak meledak.
Namun kini, Bintang lebih sering berada di rumah bersamaku. Bahkan, ia kerap ikut bekerja sebagai tenaga magang denganku. Tutur katanya santun dan luar biasa baik, itulah Bintang yang sebenarnya setelah lepas dari bayang-bayang Ayah.
Saat itulah aku sadar, perilaku Bintang yang dulu bukanlah sifat bawaannya sejak lahir, melainkan dampak dari mental yang rusak karena tak nyaman tinggal bersama sang penghancur.
Sementara itu, Mentari, adik bungsuku, sudah semakin terbiasa tinggal bersama Ayah. Bagaimana tidak? Dialah yang memasakkan makanan, menyiapkan obat untuk Ayah, hingga merapikan dan menyapu seluruh sudut rumah, bahkan sampai ke gudang.
---
Pada hari ini, Mentari berencana membersihkan gudang karena tak nyaman melihatnya kotor. Mentari memang anak yang rajin, sampai-sampai sela-sela gudang pun tak luput ia bersihkan.
Ketika sedang menyapu sela-sela gudang, tiba-tiba suara "cit-cit" terdengar dari balik tumpukan kardus. Begitu Mentari menggeser kardus tersebut, benar saja, muncul hewan yang paling ia takuti, yaitu tikus. Seolah mengejarnya, Mentari yang ketakutan langsung melompat mundur, namun malang, ia tersandung kakinya sendiri. Tubuhnya jatuh keras menghantam dinding semen yang rapuh.
"Aduh, sakit banget... Ha, darah?" gumam Mentari pada dirinya sendiri seraya mengusap keningnya.
Mentari hampir saja menangis menahan sakit, namun tak ada siapa pun di sana untuk menolongnya. Saat ia merintih, matanya tak sengaja tertuju pada dinding rapuh yang baru saja dihantamnya.
Dinding itu retak. Namun, bukan keretakan itu yang menarik perhatiannya, melainkan sesuatu di balik retakan tersebut: lapisan kulit dari sebuah koper cokelat berukuran sedang.
Rasa penasaran mendadak mengalahkan rasa sakit di kepalanya. Mentari segera meraih telepon genggamnya, memotret dinding retak berisi koper rahasia itu, lalu mengirimkannya kepadaku tanpa menyertakan keterangan pesan apa pun.
Begitu foto itu masuk, aku langsung menelepon Mentari. Di dalam obrolan telepon itu, kami banyak berdebat, berdiskusi, dan berusaha saling mengerti.
---
"Dek Mentari, itu tadi apa ya?" tanyaku di dalam telepon.
"Nggak tau, Kak. Tadi aku lagi nyapu di gudang, tiba-tiba ada tikus. Aku lari, terus langsung ketabrak dinding rapuh ini, Kak," jawab Mentari.
"Yang Kakak tanya bukan kronologinya, tapi yang kulit warna cokelat di balik retakan itu apa, Adikku yang cantik?" tanyaku dengan penasaran, karena menurutku ini berhubungan dengan kejadian pada tiga belas tahun yang lalu.
"Masalahnya, aku juga nggak tau, Kakakku yang ganteng dan baik hati..." jawab Mentari dengan kesal.
"Coba kamu ambil palu, habis itu bongkar dindingnya," suruhku karena sangat penasaran dengan apa yang ada di balik dinding rapuh itu.
"Aku bukan laki-laki, Kak! Jangan mentang-mentang Kakak anggap aku rajin, malah jadi nyuruh aku pakai alat berat," jawab Mentari karena ia tidak berani memegang alat yang berbahaya.
"Jadi gimana dong? Kakak penasaran. Takutnya barang itu membahayakan kamu, Dek," jawabku dengan khawatir.
"Gimana kalau Kakak pulang aja ke rumah?" tanya adikku memberikan solusi.
"Dek, Kakak ini beda kota dengan kamu! Nggak semudah itu untuk ke sana. Butuh biaya, butuh tenaga, butuh energi, Dek. Paham-paham dikit lah, kan kamu udah besar, pasti paham!" jawabku menentang solusi dari Mentari.
"Jadi ini gimana dong?" tanya Mentari.
"Kakak matikan dulu ya teleponnya. Kakak mau coba diskusi sama Bintang," jawabku.
"Ah, Kakak mau diskusi sama Kak Bintang? Jawabannya pasti lari ke mana-mana, nggak akan nyambung..." jawab Mentari.
Setelah itu, aku langsung mematikan teleponku dengan Mentari. Aku harus berdiskusi dengan Bintang. Meskipun karakternya impulsif, aku tidak bisa memutuskan masalah sebesar ini sendirian aku butuh pendapat!
---
"Bintang! Tadi Kakak teleponan sama Mentari. Nah, Mentari itu kayak nemu sesuatu gitu di balik dinding. Jangan-jangan... itu berhubungan dengan apa yang Ayah lakukan saat takziah," ucapku mengawali diskusi, menatap Bintang yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa kontrakan kami.
Bintang terdiam sejenak. Dahinya berkerut dalam, mencoba mencerna kalimatku yang datang tiba-tiba.
"Bentar-bentar, kok bisa? Dinding itu kan keras, kok bisa dia tau ada benda di balik dinding?" tanya Bintang dengan kebingungan, kini memajukan posisi duduknya.
"Kata Dek Mentari, tadi dia nyapu di gudang. Habis itu ketemu tikus, kabur dia, tapi kebentur dinding. Kebetulan dindingnya rapuh, jadi retak," jawabku menjelaskan kronologi kebiasaan konyol sang adik kepada Bintang.
Bintang mendengus pelan, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.