Tiba pada dua bulan setelah obrolan kami di dalam telepon, aku dan Bintang memutuskan untuk pulang dengan keberanian penuh. Kami sengaja tidak menelepon Mentari terlebih dahulu, agar ia tidak mengingat kembali obrolan panas kami saat itu.
Sesampainya di rumah, benar saja, kami disambut hangat oleh Mentari. Aku dan Bintang sudah berjanji sejak masih di kontrakan bahwa kami tidak akan mendekati kamar Ayah. Tidak ada sedikit pun rasa rindu kepada Ayah di benak hatiku maupun Bintang.
Tanpa membuang waktu, kami langsung menuju gudang dan membongkar dinding rapuh itu. Semua berjalan lancar. Dan benar saja, benda itu adalah sebuah koper cokelat seperti yang kami duga. Melihat koper cokelat itu, ingatan masa laluku mendadak terlempar pada percakapan Ayah dan Pak Hendra di malam setelah Ibu melahirkan lalu meninggal. Seingatku, Pak Hendra sempat menyebut kata "koper" pada perdebatan panjang malam itu.
Namun, aku, Bintang, dan Mentari tidak bisa langsung membuka koper itu pada hari yang sama. Kondisi saat itu sudah sangat malam, lagipula koper cokelat tersebut sepertinya dirancang khusus dengan kunci rumit untuk menutupi sebuah rahasia.
---
Keesokan harinya, aku langsung pergi ke gudang. Lantai kayu gudang tua ini terasa jauh lebih dingin daripada malam-malam biasanya. Di bawah temaram seberkas cahaya lampu kuning yang bergoyang ditiup angin, sebuah koper tua berbahan kulit kusam tergeletak di atas meja kerja kayu yang sudah lapuk. Koper itu adalah misteri yang selama lima belas tahun ini mengunci kewarasan keluarga kami, sebuah kotak berwarna coklat yang enggan disentuh oleh siapa pun karena aura kelam yang dipancarkannya. Bintang berdiri di sampingku dengan napas yang memburu, sepasang matanya menatap tajam pada sebuah gembok besi kuno yang melingkari ruji penutup koper tersebut. Sementara itu, di sudut ruangan yang remang, Mentari duduk meringkuk sembari memeluk lututnya, menatap kami berdua dengan ketakutan yang mendalam.
Gembok besi itu sudah berkarat, tebal oleh korosi bertahun-tahun, seolah-olah sengaja dirancang untuk menahan rahasia di dalamnya agar membusuk bersama waktu. Bintang berkali-kali mencoba menghantam gembok itu menggunakan obeng besar, namun usahanya sia-sia; logam tua itu bergeming. Rasa frustrasiku memuncak melihat ketidaksabaran adikku. Sebagai seorang arsitek, aku terbiasa melihat segala sesuatu dari sudut pandang struktur, mekanisme, dan ketepatan. Aku tahu kekuatan tidak akan bisa mengalahkan keteraturan sebuah kunci.
Bumi menggunakan keahlian arsitekturnya untuk menjebol gembok koper tua tersebut. Menggunakan sebatang kawat baja tipis dan pinset pertukangan milik Ayah yang tertinggal di laci, aku mulai meraba-raba sela-sela mekanisme mekanis di dalam lubang kunci gembok itu. Di dalam kepalaku, aku membayangkan cetak biru dari silinder pengunci yang rumit ini. Tanganku bergerak dengan presisi yang sangat hati-hati, mendengarkan setiap bunyi klik kecil yang dihasilkan oleh geseran pin besi di dalam gembok. Setiap getaran logam yang merambat ke ujung jariku terasa seperti denyut nadi dari rahasia Ayah yang siap meledak. Hanya butuh beberapa menit bagi logikaku untuk menaklukkan pertahanan besi tua itu. Sebuah bunyi dentang keras terdengar saat gembok berkarat itu akhirnya terlepas dan jatuh ke atas lantai kayu.
Suasana gudang mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru napas kami bertiga yang bersahut-sahutan. Bintang maju satu langkah, jemarinya yang gemetar perlahan membuka penutup koper kulit yang sudah berjamur tersebut. Bau apak kertas tua langsung menyeruak memenuhi udara yang pengap, membawa aroma masa lalu yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh Ayah. Di dalamnya, Bumi dan Bintang terkejut menemukan cetak biru asli sebuah bangunan megah milik Perusahaan Hendra
Aku terpaku, jantungku seolah berhenti berdetak saat mataku menyapu lembaran kertas kalkir biru berukuran besar yang terlipat rukun di bagian atas koper. Sebagai seorang arsitek, aku sangat mengenali gaya guratan garis, proporsi ruang, dan detail struktur bangunan tersebut. Ini adalah sebuah mahakarya, sebuah desain kompleks dari gedung pencakar langit yang menjadi ikon kesuksesan Perusahaan Hendra di pusat kota. Namun, kejutan terbesar bukanlah kemegahan desain tersebut. Mataku beralih ke bagian pojok kanan bawah kertas kalkir yang sudah mulai menguning itu. Di sana, di sudutnya tertera tanda tangan asli almarhumah Ibu kami sebagai perancang utama.
Udara di sekitarku mendadak terasa hilang. Guratan tinta hitam itu adalah tulisan tangan Ibu yang sangat aku rindukan, sebuah bukti otentik yang menegaskan bahwa seluruh kejayaan perusahaan raksasa milik Hendra dibangun di atas pondasi pemikiran Ibu kami. Otakku berputar cepat, mencoba menyusun potongan teka-teki yang selama belasan tahun ini membuat kami menderita. Mengapa karya sebesar ini bisa berada di dalam koper rahasia Ayah? Mengapa Perusahaan Hendra yang mendapatkan nama, sementara Ibu kami meninggal dalam kesunyian dan kemiskinan di rumah kayu tua ini?
Sebelum pertanyaan di dalam kepalaku sempat terjawab, tangan Bintang bergerak merosot ke bagian dasar koper, membongkar tumpukan kain tua yang melapisi bagian bawah. Di dalam koper itu juga terdapat buku tabungan berisi uang tebusan senilai miliaran rupiah yang sama sekali tidak pernah disentuh Arga. Bintang menarik buku tabungan bersampul usang itu dengan kasar, membuka lembar demi lembar catatan transaksi yang tercetak di dalamnya. Deretan angka yang berbaris rapi di kolom saldo membuat mata Bintang membelalak tidak percaya. Angka itu terlampau besar, sebuah nominal fantastis yang dikirimkan oleh Perusahaan Hendra tepat tiga hari sebelum Ibu mengembuskan napas terakhirnya di rumah ini.
Miliaran rupiah. Sebuah angka yang seharusnya bisa membiarkan Ibu mendapatkan pengobatan terbaik di rumah sakit paling mewah di negeri ini. Sebuah angka yang seharusnya bisa menjauhkan aku dan Bintang dari masa kecil yang kelam dan kelaparan. Namun, buku tabungan itu bersih dari catatan penarikan. Lembarannya kaku, membuktikan bahwa Ayah tidak pernah mencairkan sepeser pun uang dari sana. Uang itu dibiarkan membusuk di dalam kegelapan koper, bersamaan dengan tubuh Ibu yang perlahan-lahan digerogoti penyakit hingga meninggal dunia.
Fakta-fakta yang terhampar di depan mata kami terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh dinding ego dan rasionalitas yang kubangun selama bertahun-tahun. Kepalaku pening, dadaku naik turun menahan gelombang emosi yang bercampur aduk antara amarah, kecewa, dan rasa tidak percaya. Seluruh hidupku, seluruh perjuanganku untuk menjadi arsitek sukses agar bisa membalaskan dendam Ibu, mendadak terasa hambar. Aku merasa dikhianati oleh kenyataan bahwa mahakarya yang selama ini kujadikan kiblat dalam duniaku ternyata menyimpan darah dan air mata Ibu yang dikorbankan.