Langkah kakiku menuju kamar tengah, yaitu kamar Ayah Arga. Namun, entah kenapa langkah itu terhenti oleh diriku sendiri. Hati kecilku membisikkan sesuatu yang seolah mengikatku dengan Bintang, "Diskusi dulu sama si Bintang."
Pikiranku sepenuhnya tertuju pada bisikan itu. Hingga akhirnya, saat tanganku memegang gagang pintu ruang tengah, jemariku mendadak kaku seolah membatu dan tak bisa bergerak. Pilihannya hanya satu: melepaskan gagang pintu itu, lalu melangkah menuju kamar bersama Bintang.
Dengan kesadaran penuh, aku melepaskan peganganku pada gagang pintu kamar Ayah, lalu berjalan dingin menghampiri Bintang. Tanpa ucapan sepatah kata pun, aku langsung menarik bajunya dan menyeretnya menuju kamar kami.
"Kak, kenapa ini? Jangan narik-narik bajuku dong! Kontrol emosi Kakak, sabar!" ucap Bintang, mencoba menahanku dengan wajah gusar.
"Cepat masuk ke kamar, nggak usah banyak ngomong!" potongku tegas, tak lagi bisa mengontrol emosi yang membakar dada.
"Iya, tapi kan bisa pakai cara yang baik-baik, nggak usah tarik-tarik begini lah!" balas Bintang sambil menghempaskan peganganku.
Aku dan Bintang melanjutkan perdebatan kami di dalam kamar. Mentari? Kami sengaja mengunci kamar kami rapat-rapat. Hanya ada kami berdua di dalam ruang sempit tanpa pendingin udara itu. Suasana mendadak terasa makin tegang, sesak, dan dingin oleh perdebatan yang kian memanas.
Kami meributkan hal-hal yang membuat kami bingung selama ini. Tak ada ruang diskusi yang terarah saat itu. Semuanya murni luapan emosi. Pembahasan kami melompat ke sana-kemari tanpa kejelasan, berputar-putar pada rasa benci dan keraguan.
"Ini gimana, Bintang? Mau Kakak selesaikan pakai cara apalagi? Kakak sebenarnya... juga ada rasa nggak tega sama Ayah," ucapku dengan nada melemah, akhirnya mengakui ganjalan di dadaku.
"Ya nggak tahu! Tapi saranku, Kakak hapus rasa tega itu! Kakak marahin Ayah, pokoknya Kakak apa-apaan lah Ayah!" jawab Bintang tajam, dadanya naik-turun menahan gusar.
"Kamu nggak tega liat Ayah sakit-sakitan, Dek? Kakak rasanya malah jadi musuh Ayah sendiri. Kakak nggak sebegitu jahat, Dek!" sahutku balik menatap matanya, mencoba mencari sedikit empati dari adiknya itu.
"Kak, kamu masih ada rasa tega ke dia? Aneh banget!" seru Bintang tak percaya. Ia melangkah mendekat, menunjuk ke arah pintu. "Dia aja nggak ada rasa tega sama kita! Bahkan parahnya, waktu itu kita masih kecil! Kita nggak boleh terlalu baik, Kak! Semua perbuatan harus dibalas dengan perbuatan yang sama, atau bahkan lebih kejam!"
"Tapi kamu nggak ingat Ayah pernah sebaik itu sama kita?" celatukku cepat, tak mau kalah. "Kan kata kamu semua perbuatan harus dibalas dengan hal yang sama. Masa kita cuma balas yang buruknya saja? Yang baiknya mana?"
"Kakak masih ingat kebaikan Ayah? Setelah kejahatan dan kekejamannya yang tak sebanding dengan kebaikan itu?" Bintang tertawa hambar, menggelengkan kepala penuh ketidakpercayaan. "Keterlaluan kamu, Kak!" Lanjut Bintang dengan singkat.
---
Di balik pertengkaran kami di kamar, ada Mentari yang sedang ketakutan di luar. Mentari juga takut untuk mendekati kamar Ayah.
Sementara itu, Ayah pun di kamarnya sedang pusing mendengar pertengkaran kami yang menembus penjuru rumah—bahkan sampai terdengar keluar, hingga tetangga-tetangga sebelah rumah pun ikut mendengarnya.
Namun, mungkin Ayah bukan sekadar pusing mendengar keributan kami. Ayah pusing karena dipaksa mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Kepala Ayah berdenyut hebat mencoba mengingat siapa saja anak-anaknya, serta mengingat tragedi apa yang sedang diributkan orang-orang di dalam rumahnya sendiri. Mengingat, Ayah memang sedang mengidap penyakit demensia.
Tetapi, walaupun dengan penyakit demensianya, Ayah tetap berusaha keras untuk ingat. Kepalanya terasa tertusuk-tusuk setiap kali mencoba mengingat pecahan masa lalu dan siapa saja nama anak-anaknya.
Hingga akhirnya, Ayah mulai sedikit mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Walaupun saat ini Ayah baru mengingat koper cokelat itu beserta isinya, dan baru berhasil mengingat satu nama anaknya.
Dengan kondisi Ayah yang sudah mulai mengingat potongan peristiwa itu, Ayah kembali mendengar perdebatan sengit yang terdengar sampai ke kamarnya.
"Jadi ini gimana? Cetak biru dengan nama Ibu ini mau kita apakan? Uang yang amat banyak ini—yang kita pun tak tahu berapa jumlah pastinya—mau kita apakan? Mau tanya ke Ayah? Ayah juga lagi sakit demensia, jadi gimana?" ucapku frustrasi.
"Kita kubur lagi aja gimana?" jawab Bintang pendek, memutar bola matanya.
Tok, tok, tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.