Suasana ruang tamu malam itu mendadak berubah menjadi sangat mencekam, seolah-olah udara di sekitar kami membeku dan menolak untuk dihirup. Segala kemarahan, ego, dan dendam yang selama belasan tahun ini kami pelihara seperti bara api, mendadak padam oleh hantaman kenyataan fisik yang mengerikan di depan mata kami. Arga ambruk di kursi ruang tamu dengan dada yang naik-turun secara ekstrem akibat pasokan oksigen yang menipis. Pria tua yang dulunya begitu tegap and kami takuti itu kini tampak begitu kecil, ringkih, dan tidak berdaya. Tubuhnya gemetar hebat, kedua tangannya mencengkeram pinggiran kursi kayu yang lapuk, sementara wajahnya memucat pasi dengan keringat dingin yang bercucuran deras membasahi keningnya yang keriput.
Napasnya terdengar sangat memprihatinkan, sebuah bunyi parau yang tersendat-sendat dan melengking lirih, menyerupai gesekan kayu tua yang siap patah. Melihat kondisi kritis itu, kepanikan seketika menyerang Mentari. Adik bungsu kami itu langsung menjatuhkan lututnya di lantai, menangis histeris sembari memegangi tangan Ayah yang sedingin es. Bintang yang tadinya berdiri penuh amarah di sudut ruangan pun mendadak terpaku, kemarahannya seolah lumpuh melihat maut yang kini sedang mengintai di ambang pintu rumah kami. Aku sendiri merasakan denyut jantungku berpacu tidak beraturan; otak arsitekturku yang biasa tenang mendadak kehilangan kemampuannya untuk berpikir secara logis.
“Bintang, cepat telepon ambulans! Kita harus bawa Ayah ke rumah sakit sekarang juga!” teriak Mentari di antara sela-sela tangisnya yang pecah, suaranya melengking memohon bantuan di tengah kesunyian malam yang mencekam.
Bintang dengan tangan yang bergetar hebat langsung meraba saku celananya, berusaha mengeluarkan ponselnya demi menuruti kepanikan Mentari. Namun, belum sempat jemari Bintang menyentuh layar, sebuah gerakan lemah dari tangan Ayah menghentikan kami semua. Dengan sisa tenaga yang masih tertinggal di ujung jemarinya, Ayah mencengkeram lengan Bintang, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan sorot mata yang teramat cekat. Sadar waktunya tidak lama lagi, Arga menolak dibawa ke rumah sakit dan memaksa anak-anaknya untuk mendengarkan penceritaannya. Ada sebuah kilasan kesadaran yang sangat jernih di balik bola matanya yang rabun akibat demensia, sebuah kilasan yang membuktikan bahwa di detik-detik terakhirnya, otaknya kembali utuh demi menyelesaikan sebuah utang masa lalu yang belum terbayar.
“Jangan... tidak usah...” suara Ayah keluar dari sela-sela bibirnya yang pecah-pecah, begitu pelan hingga kami semua harus menundukkan kepala sedalam mungkin agar bisa mendengarnya.
---
Dengan suara yang sangat parau, putus-putus, dan tersengal-sengal menahan sakit yang luar biasa, Arga membongkar kebenaran lima belas tahun lalu. Setiap patah kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti hantaman godam yang meretakkan dinding-dinding kesombongan yang selama ini kubangun di dalam hatiku. Ayah memandangku dan Bintang secara bergantian, membiarkan air matanya menetes bebas membasahi pipinya yang cekung. Dia menjelaskan bahwa dia tidak pernah menjual karya Ibu. Kenyataan itu meluncur begitu saja, meruntuhkan seluruh fondasi kebencian yang selama ini menjadi alasan bagi aku dan Bintang untuk menelantarkannya di dalam kamar gelap berbau obat ini.
Aku terpaku di tempatku berdiri, merasa seolah-olah lantai kayu di bawah kakiku baru saja amblas ke dalam palung yang paling dalam. Selama lima belas tahun ini, aku mengunci diriku menjadi pria yang dingin karena percaya bahwa pria di hadapanku ini adalah penjahat serakah yang menukar nyawa Ibu dengan tumpukan uang di dalam koper tua itu. Namun, getaran ketulusan dan penderitaan di dalam suara parau Ayah malam ini menolak untuk disebut sebagai sebuah kebohongan. Bintang menjatuhkan ponselnya ke atas tikar, berdiri termangu dengan mulut setengah terbuka, tidak siap menerima kenyataan bahwa musuh terbesar di dalam hidupnya ternyata bukanlah pria tua yang sedang sekarat ini.
Ayah kembali mengambil napas dengan sangat berat, dadanya membusung ekstrem sebelum akhirnya mengempis kembali dengan bunyi helaan yang menyakitkan telinga. Ia mencengkeram dada kirinya sendiri, mencoba meredam rasa sakit yang luar biasa yang sedang mengoyak jantungnya. Ayah mulai bercerita tentang malam kelam belasan tahun yang lalu, malam di saat Ibu masih terbaring lemah di ranjang ini dan sebuah koper tua tiba-tiba diantarkan ke rumah kami oleh orang suruhan Perusahaan Hendra.