Mungkin Hanya Ayah

Ahmad Uwais Al-Khalafi
Chapter #9

Chapter 9: Misteri Tabungan Ayah.

Suara angin malam yang berembus di luar jendela rumah kayu kami terdengar bagai bisikan lirih yang enggan pergi, menyusup lewat celah-celah dinding dan membekukan sisa kehangatan di dalam ruangan. Di dalam ruang tamu ini, waktu seolah-olah memadat, menciptakan tekanan psikologis yang membuat dadaku sendiri ikut terasa terhimpit parah. Di atas kursi roda tua itu, tubuh pria yang selama belasan tahun ini kutuduh sebagai lambang keserakahan tampak kian mengecil di bawah bayang-bayang lampu minyak yang bergoyang ditiup angin. Masih dalam kondisi sesak napas yang semakin memburuk, Arga melanjutkan penjelasannya mengenai uang miliaran di buku tabungan tersebut. Setiap patah kata yang keluar dari bibirnya yang membiru harus melewati perjuangan yang teramat menyiksa, diselingi oleh suara parau yang tersendat-sendat di dalam tenggorokannya yang menyempit. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana jemari kurus Ayah yang gemetar hebat mencoba menunjuk ke arah buku tabungan bersampul usang yang tergeletak lecek di atas lantai semen.


Di dalam keheningan yang mencekam itu, suara parau Ayah kembali memecah kesunyian, meruntuhkan sisa-sisa kesombongan arsitekturku hingga tidak berwujud lagi. Ayah membisikkan sebuah rahasia besar yang selama ini mengunci kewarasan kami bertiga. Uang itu adalah uang kompensasi paksa dari Hendra. Deretan angka nominal fantastis yang tertera di kolom saldo tersebut bukanlah hasil dari sebuah transaksi bisnis yang saling menguntungkan, melainkan tumpukan kertas bungkam yang dilemparkan oleh kekuasaan raksasa Perusahaan Hendra untuk membeli harga diri keluarga kami dan menutup rapat hak cipta mahakarya almarhumah Ibu.Logika rasional yang selama ini kujadikan perisai untuk membenci Ayah mendadak terasa hambar dan tidak memiliki arti apa-apa lagi. Melalui tatapan matanya yang mulai rabun dan berkaca-kaca, Ayah menceritakan bagaimana hancurnya perasaan dia malam itu saat dipaksa menerima koper berisi uang haram tersebut di bawah ancaman keselamatan nyawa anak-anaknya yang masih kecil. Arga sengaja tidak pernah menyentuh atau menggunakan sepeser pun dari uang itu karena menganggapnya uang haram. Bagi Ayah, selembar saja uang dari koper itu dicairkan untuk membeli makanan atau obat Ibu, maka sama saja ia telah mengamini kejahatan Hendra dan mengotori kesucian karya perancangan utama milik istrinya yang sedang sekarat. Itulah alasan terbesar mengapa lembaran buku tabungan itu tetap kaku, bersih dari catatan transaksi penarikan tunai sejak lima belas tahun yang lalu. Ayah memilih untuk membiarkan dirinya hidup dalam kemiskinan yang mencekik, membiarkan tubuhnya sendiri kelelahan bekerja serabutan hingga paru-parunya hancur, ketimbang harus menodai kehormatan Ibu dengan menyentuh uang hasil rampasan hak cipta tersebut.


Namun, di balik sikap dinginnya yang menolak uang itu untuk kebutuhan hidupnya sendiri, ada sebuah rencana masa depan yang teramat sunyi yang sengaja ia persiapkan untuk kami bertiga tanpa pernah kami sadari sedikit pun.Ayah kembali terbatuk parah, membuat Mentari refleks mendekap pundaknya yang kurus sembari terus membisikkan kata doa di telinganya.

Dengan sisa tenaga yang kian menipis seiring dengan pasokan oksigen yang terus merosot, Ayah mencengkeram tepi mantelku, menarik tubuhku agar merunduk lebih dekat ke arah kursi rodanya. Pria tua itu menangis tanpa suara, membiarkan air matanya membasahi punggung tanganku yang kaku saat ia melanjutkan bisikan paraunya. Ayah menjelaskan bahwa namun ia menguncinya rapat-rapat di gudang agar kelak bisa menjadi modal hidup yang utuh bagi Bumi, Bintang, dan Mentari jika dirinya sudah tiada. Gudang tua berdebu yang selama belasan tahun ini kami kutuk sebagai tempat persembunyian rahasia kejamnya, nyatanya adalah sebuah brankas pelindung tempat ia menyimpan masa depan pendidikan dan karir kami agar tidak runtuh saat raga ringkihnya sudah tidak lagi mampu bekerja. Air mata yang sejak tadi kutahan di sudut kelopak mataku akhirnya runtuh bebas, merembes membasahi pipiku tanpa bisa kucegah lagi.

Seluruh tubuhku gemetar hebat menahan hantaman rasa bersalah yang teramat pekat. Aku memandang Bintang yang kini bersimpuh pasrah di atas lantai kayu dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam, meratapi ketidaktahuan kami yang teramat kejam kepada pria di hadapan kami ini.


Selama belasan tahun ini, kami telah memperlakukan Ayah seperti musuh bebuyutan, menguncinya di dalam kamar gelap, dan melakukan pengabaian total yang menyiksa batinnya setiap hari. Namun, pria yang kami benci itu justru berdiri sebagai perisai sunyi yang menanggung seluruh penderitaan sendirian.Arga rela dicap sebagai suami yang gagal dan ayah yang kejam, asalkan anak-anaknya tetap aman dan bisa sekolah tinggi tanpa diusik oleh kekuasaan Hendra. Di dalam kesunyian malam yang kian larut itu, aku sangat menyadari betapa hebatnya pengorbanan yang dilakukan oleh pria tua ini. Ia dengan sengaja membiarkan dirinya dibenci oleh anak-anak kandungnya sendiri, membiarkan nama baiknya hancur berantakan menjadi puing-puing fitnah, dan menerima kutukan sebagai sosok ayah yang kaku dari aku dan juga Bintang. Semua rasa sakit psikologis itu ia telan bulat-bulat tanpa pernah membela diri sedikit pun, hanya demi memastikan bahwa masa depan pendidikanku di sekolah arsitektur dan masa depan Bintang tetap berjalan lancar di bawah perlindungan hukum yang aman dari jangkauan Perusahaan Hendra. Keheningan malam kini kembali membungkus ruang tamu rumah kami dengan sangat pekat, menyisakan deru napas Ayah yang masih naik-turun dengan sangat payah di atas kursi rodanya.


Bagi aku dan juga Bintang, kebenaran yang baru saja tersingkap dari balik sisa helaan napas parau Ayah malam ini telah terlebih dahulu menjemput kesadaran kami dari tidur panjang kesombongan ego yang salah arah. Di tengah kepasrahan malam yang mendingin, kami bertiga hanya bisa saling merapatkan bahu di sekeliling kursi roda itu. Pria yang paling kami kutuk sepanjang hidup kami, nyatanya adalah perisai sejati yang masih berjuang mencintai kami melebihi keselamatan nyawanya sendiri di dalam sunyinya dunia yang sangat fana ini. Aku menggenggam jemari Ayah yang terasa semakin mendingin, merasakan denyut nadinya yang lemah namun masih terus bertahan menantang maut. Di sebelahku, Bintang mulai memindahkan tumpukan kertas cetak biru yang berserakan ke atas meja, merapikannya dengan tangan yang masih gemetar hebat akibat hantaman rasa bersalah. Sementara itu, Mentari dengan telaten mengusap peluh di kening Ayah menggunakan handuk kecil, bertindak seolah-olah ruangan ini adalah satu-satunya tempat paling aman di dunia bagi mereka berdua.

Otak arsitekturku yang biasanya selalu mengandalkan logika dan perhitungan yang presisi, kini harus menyerah pasrah pada sebuah ketulusan yang tidak sama sekali memiliki rumus matematika. Kami membiarkan malam yang kian pekat ini membungkus sunyinya ruang tamu, bertekad menjaga sisa helaan napas pria tua yang ternyata adalah pelindung sejati kami. Kebenaran yang terlambat ini meremukkan seluruh keangkuhan yang selama belasan tahun kami jaga.

---

Lihat selengkapnya