Malam semakin menua di atas atap rumah kayu kami, merajut keheningan yang teramat pekat. Di dalam ruang tamu ini, aroma obat-obatan mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mencekam dari perbatasan maut yang kian mendekat. Tensi kesedihan dan rasa bersalah di ruang tamu mencapai titik kulminasi tertinggi. Sebagai narator dari kehancuran ini, aku ingin kalian tahu bahwa tidak ada lagi ruang bagi keangkuhan arsitekturku yang diagung-agungkan di ibu kota, dan tidak ada lagi tempat bagi pemberontakan Bintang yang meledak-ledak. Kami berdua kini hanyalah sepasang anak laki-laki bodoh yang sedang bersimpuh pasrah di atas lantai semen yang dingin, dipaksa menyaksikan detik-detik runtuhnya benteng pertahanan terakhir keluarga kami.
Paru-paru Arga sudah tidak mampu lagi menghirup udara dengan normal, matanya mulai berkaca-kaca menatap anak-anaknya yang kini terpaku membeku dalam penyesalan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dada Ayah berjuang naik-turun dengan sangat payah, sebuah gerakan ekstrem yang sangat menyakitkan telinga karena memantul di keheningan ruangan. Sisa-sisa kesadarannya yang kabur akibat demensia kini sepenuhnya tersingkap, menampilkan sorot mata seorang bapak yang penuh dengan ketulusan yang sunyi.
Bintang merosot dari posisinya, mencengkeram lengan kursi roda Ayah dengan jemari yang bergetar hebat.
"Ayah... tolong katakan sesuatu, Ayah! Jangan diam saja seperti ini! Tolong maki aku, marahi aku karena sudah menjadi anak durhaka selama belasan tahun ini!" Ucap Bintang dengan penuh penyesalan
"Bintang... sudahlah, Nak..." suara Ayah keluar bagai bisikan parau yang tersendat di tenggorokan.
"Tidak, Ayah! Aku tidak akan diam! Selama ini aku mengutuk Ayah sebagai pria serakah yang menjual karya Ibu, tapi ternyata Ayah adalah tameng yang melindungi nyawa kami dari Hendra! Kenapa Ayah menyembunyikan uang miliaran itu di gudang? Kenapa Ayah biarkan kami membenci Ayah?!" Jawab Bintang dengan tangis yang tak tertahan
"Uang itu... uang haram, Bintang. Ayah tidak akan pernah... menyentuh uang hasil rampasan hak cipta Ibu kalian..." Ucap Ayah dengan suara yang tersendat-sendat, tapi dengan nada yang tegas.
Aku memberanikan diri melangkah mendekat, menjatuhkan kedua lututku di atas lantai kayu yang dingin tepat di hadapan Ayah. Air mata yang selama bertahun-tahun ini sengaja kubekukan demi mempertahankan citra dingin arsitekturku, akhirnya runtuh bebas membasahi pipi. Kalian yang membaca kisah ini mungkin berpikir aku kuat, tetapi di depan maut, seluruh logikaku lumpuh total.
"Ayah... ini Bumi. Bumi ada di sini, Ayah. Bumi minta maaf karena sudah membangun fondasi hidup Bumi di atas kebencian kepada Ayah. Aku salah, Ayah. Aku benar-benar anak sulung yang egois dan bodoh."
"Bumi... anakku..." Ayah menatapku dengan mata yang mulai menguning dan berair. Dengan sisa kekuatan dari jemarinya yang dingin, Arga meraih erat tangan Bumi, si anak sulung. Getaran dari telapak tangan Ayah yang kaku merambat langsung ke dalam nadiku, menghantarkan kehangatan purba yang sudah belasan tahun tidak pernah kurasakan lagi sejak malam kematian Ibu.
Ayah mencoba menegakkan kepalanya yang terkulai lemah, memandangku, Bintang, dan Mentari secara bergantian. Sambil tersengal-sengal hebat di batas sisa usianya, Arga berbisik, "Bumi... Ayah sudah tidak kuat... Jaga... jaga adik-adikmu, ya? Maafkan... Ayah..." Ucap Ayah Arga mengeluarkan mandat yang sedih.
"Tidak, Ayah! Jangan bicara seolah-olah Ayah akan pergi!" potong Bintang sembari memeluk erat kaki Ayah yang lumpuh, tangisnya pecah sejadi-jadinya memecah kesunyian malam.
"Ayah harus bertahan! Kami baru saja tahu kebenarannya, Ayah. Ayah tidak boleh pergi sebelum mendengar permintaan maaf kami yang sesungguhnya!" Ucap Bintang memohon Ayah, agar dia kembali sehat.
"Ayah tidak memiliki kesalahan apa pun pada kami, Ayah," sahutku dengan suara yang tercekik oleh rasa pilu yang teramat luar biasa.