Mungkin Hanya Ayah

Ahmad Uwais Al-Khalafi
Chapter #11

Chapter 11: Penyesalan Yang Sangat Terlambat.

Fajar belum juga menyingsing, tetapi kegelapan di dalam ruang tamu rumah kayu kami terasa jauh lebih padat dan membeku. Bagi kalian yang mengikuti perjalanan ini, kalian harus paham bahwa kematian bukan sekadar saat napas berhenti. Kematian adalah momen di mana realitas memukul logika kalian hingga hancur berkeping-keping. Aku berdiri di dekat meja kayu, memandangi koper berkarat yang masih terbuka. Semuanya terasa tidak nyata, sampai akhirnya kesunyian itu robek tanpa peringatan.

​Keheningan malam mendadak pecah oleh jeritan dan tangisan histeris Mentari yang mendapati tubuh ayahnya sudah tidak bergerak.

​"Ayah? Ayah, bangun! Kak Bumi, tolong, badan Ayah dingin banget! Kak Bintang, bangunin Ayah!" pekik Mentari sembari mengguncang-guncang pundak ringkih di atas kursi roda itu.

​Suara cempreng Mentari yang melengking ketakutan memantul di dinding-dinding kayu, meruntuhkan kebebalan batin kami. Detik itu juga, seluruh tembok ego, kebencian, dan sinisme yang dipelihara oleh Bumi dan Bintang selama bertahun-tahun runtuh tanpa sisa. Seluruh benteng rasionalitas arsitektur yang kubanggakan selama ini mendadak terasa seperti tumpukan pasir yang tersapu ombak besar. Aku merasa kosong, telanjang di hadapan sebuah kebenaran yang teramat pekat.

​"Mentari, menjauh dari Ayah... Tolong, menjauh dulu, Dik," ujarku dengan suara yang mendadak parau, melangkah mendekat dengan tungkai kaki yang terasa seberat timah.

​"Tidak mau, Kak Bumi! Ayah cuma tidur, kan? Ayah cuma kecapekan setelah cerita tadi, kan? Jawab aku, Kak!" jerit Mentari dengan air mata yang membahasi seluruh pipinya, menolak melepaskan dekapannya pada lengan kaku Ayah.

​Bintang melangkah maju dengan terburu-buru, wajahnya pucat pasi bagai kain kafan. Ia meraih pergelangan tangan Ayah, mencoba mencari denyut nadi yang tersisa.

​"Kak Bumi... nadinya... nadinya sudah tidak ada. Kosong, Kak. Ini tidak mungkin!"

​"Geser, Bintang! Biar aku yang periksa!" bentakku, kehilangan seluruh ketenangan arsitekturku yang biasanya selalu diagung-agungkan orang.

​Aku langsung merosot ke bawah. Bumi berlutut di lantai, menggoyang-goyang tubuh kaku Arga, memohon dengan sangat agar ayahnya membuka mata sekali lagi untuk mendengarkan permintaan maafnya. Kulit tangan Ayah yang kusentuh terasa sedingin es di kutub, sebuah kekakuan absolut yang menolak segala bentuk negosiasi logika manusia.

​"Ayah! Buka mata Ayah! Ini Bumi! Aku belum selesai bicara, Ayah! Tolong... tolong dengarkan aku sekali saja! Aku mohon buka mata Ayah!" teriakku tepat di depan wajah pucatnya, meluapkan seluruh rasa frustrasi yang selama belasan tahun ini kukunci di dalam dada.

​"Ayah, maafkan aku! Aku anak brengsek yang selalu mengutuk Ayah! Jangan pergi dulu, Ayah!" raung Bintang yang kini ikut menjatuhkan dirinya di sampingku, memukul-mukul lututnya sendiri dengan kepalan tangan yang memerah.

Lihat selengkapnya