Malam ini terasa sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Pada malam-malam sebelumnya, hatiku dan Bintang sangat menciut ketika mendengar kenyataan. Kami berdua merasa sangat bersalah kepada Ayah dan Mentari. Di dalam batinku, getaran permintaan maaf kepada Ayah masih terus berdebar kencang. Bintang pun selalu menangis, bahkan sampai tertidur sembari memeluk foto Ayah yang sudah buram karena lama ditinggalkan.
Bintang merasa sangat menyesal karena pernah memanggil ayahnya sendiri dengan sebutan "Pak Tua". Ia benar-benar tidak sadar pada saat itu bahwa perbuatannya telah menjadikannya seorang anak yang durhaka kepada ayah kandungnya sendiri. Rasa berdosa yang teramat besar menghantam batinnya, sampai-sampai ia tidak berhenti menangis di hadapanku dan Mentari.
Aku menyempatkan waktu untuk berbicara kepada Bintang di kamar sebelum tidur. Tujuanku adalah agar Bintang bisa bangkit dari keterpurukannya. Namun, entah mengapa, aku sendiri justru ikut terbawa suasana haru saat berbicara kepadanya.
"Dek Bintang, kamu nyadar nggak, kita sudah durhaka sama Ayah selama bertahun-tahun?" ucapku pelan, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Kak, cukup, Kak! Aku nggak tahan kalau harus bahas tentang kekejaman kita kepada Ayah," pangkas Bintang, mengusap matanya yang masih basah dengan ujung selimut.
"Dek, Kakak pernah baca, katanya salah satu cara mengobati luka hati itu dengan saling mengobrol, seperti yang kita lakukan sekarang. Sebenarnya kamu nggak sepenuhnya salah, Dek. Kakak juga merasa ini semua salah Kakak. Tapi setelah Kakak pikir-pikir lagi, kita bisa sampai seperti itu karena dulu kita masih labil. Kita masih remaja, belum bisa mengontrol emosi. Jadi, kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan atas kepergian Ayah ya, Bintang," ucapku panjang lebar, berusaha menatap matanya untuk memberikan ketenangan.
"Kak, tapi aku merasa gagal jadi anak yang baik. Saat usia orang tua kita makin menua dan perilakunya kembali seperti anak kecil, aku justru gagal jadi lebih baik dari sekadar baik. Aku gagal memenuhi janji kecilku dulu untuk jadi anak yang lebih berbakti dari orang tua kita. Kakak tahu kan seberapa bencinya aku ke Ayah sebelum tahu fakta ini? Dulu aku benci banget sama Ayah. Tapi setelah Ayah meninggal, aku baru sadar kalau hati nuraniku ternyata belum mati. Rasa bersalah itu ada, tapi anehnya, rasa bersalah itu baru datang setelah kita tahu kebenaran yang sebenarnya," jawab Bintang dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.
"Kakak ngerti banget kok sama perasaan bersalahmu, Dek. Cuma yang Kakak minta dari kamu, jangan stuck di situ aja ya, Dek. Kamu harus bangkit! Sama halnya kayak Kakak... Kamu kira Kakak nggak merasa bersalah sama Ayah? Mungkin rasa bersalah Kakak malah jauh lebih besar dari kamu. Tapi Kakak nggak mau terus terperangkap di fase yang sama. Coba kamu ubah pola pikirmu. Kalau kita terus meratapi hal yang sudah berlalu, kita akan terjebak di fase itu selamanya, Dek. Jadi Kakak minta, biarkan hari ini jadi hari terakhir kamu bersedih seperti ini ya. Mengingat Ayah itu boleh-boleh saja, tapi jangan terus-terusan merasa bersalah dan terpuruk. Yang bisa kita lakukan sekarang cuma mengirim doa yang terbaik untuk Ayah. Selain itu, semuanya sudah di luar kendali kita," ucapku sambil menepuk pelan bahunya, mencoba menyalurkan sisa kekuatan yang kumiliki.
"Iya, Kak. Terima kasih banyak ya dukungannya," sahut Bintang, menghela napas panjang seolah baru saja melepaskan sebagian beban berat di dadanya.
"Iya, Dek. Itu memang tugas Kakak sebagai anak sulung. Intinya, mulai sekarang kita harus saling mengerti, saling memaafkan, dan saling menguatkan satu sama lain, ya... Kakak yakin kita bisa berubah jadi lebih baik dari kita yang dulu. Ingat, Dek, nggak ada kata terlambat untuk berubah," jawabku tersenyum tipis, merangkul pundaknya dengan erat.
"Iya, Kak! Aku yakin kita pasti bisa berubah!" sahut Bintang mantap, menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang kini tampak jauh lebih lega.
"Besok kita janji, kita ngobrol sama Mentari ya... Hitung-hitung menyembuhkan luka yang masih tertinggal di dalam hatinya," ucapku pelan, mengusap puncak kepala Bintang dengan penuh kehangatan.
"Iya, Kak! Aku setuju banget. Terima kasih ya, Kak... Sudah mau jadi sosok kakak yang baik buat aku dan Mentari," ucap Bintang, menatapku dengan binar mata yang kini jauh lebih tenang.
"Iya, Dek, santai aja. Itu sudah jadi tugas Kakak," jawabku tersenyum tipis, mematikan lampu kamar dan membiarkan hening malam membungkus janji baru kami.
---
Saat Bintang sudah tertidur nyenyak, aku justru tidak bisa memejamkan mata. Entah mengapa, setiap kali kesadaranku mulai hampir terlelap, bayangan kebaikan Ayah semasa kami masih kecil selalu terkilas ulang. Kejadian demi kejadian manis itu terus berputar di dalam benakku. Rasa sesak dan riuh di dalam kamar membuatku memutuskan untuk bangkit dan melangkah ke ruang tamu demi mencari angin segar.
Aku duduk bersandar di atas sofa kecil nan sederhana. Namun, sudut ruang tamu ini pun masih dipenuhi oleh bayang-bayang Ayah. Karena rasa rindu yang teramat pekat, kakiku membimbingku menuju kamar Ayah, ruangan yang malam ini ditiduri oleh Mentari. Aku memutar gagang pintu dan mendorong pintu kayu tua itu sepelan mungkin, berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan adik bungsu kami yang pastinya teramat lelah setelah melewati hari yang penuh duka.
Langkahku terhenti saat mataku menangkap sebungkus obat tua yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Ketika kucermati baik-baik kemasannya, dadaku seketika dihantam kenyataan pahit: obat itu ternyata sudah kedaluwarsa sejak satu tahun yang lalu, dan masih tersisa dua keping tablet yang belum sempat diminum.
"Seserakah itukah aku? Sampai-sampai membelikan obat yang layak untuk Ayah saja, aku tidak pernah," bisikku meratapi diri di dalam hati, menatap kepingan obat itu dengan tangan gemetar.