Beberapa bulan kemudian, menggunakan cetak biru asli dari koper Arga, Bumi dan Bintang berhasil memperjuangkan kembali hak cipta karya almarhumah Ibu mereka melalui dewan profesi arsitektur swasta, hingga membuat Perusahaan Hendra hancur akibat skandal tersebut.
Sidang kode etik dan pengadilan publik yang kami hadapi selama berbulan-bulan terasa seperti medan pertempuran yang menguras seluruh energi batin kami. Namun, setiap kali rasa lelah itu datang menyerang, aku hanya perlu menatap lembaran kertas kalkir biru milik Ibu untuk memantik kembali keberanian yang sempat padam. Kehancuran raksasa bisnis itu bukan sekadar kemenangan hukum bagi logikaku, melainkan runtuhnya sebuah kesombongan besar yang dibangun di atas penderitaan sunyi Ayah selama lima belas tahun. Nama baik keluarga mereka akhirnya pulih sepenuhnya dari segala fitnah keserakahan yang dulu sempat membusuk di dalam rumah kayu tua kami.
Untuk kalian yang mengikuti lembar demi lembar perjalanan kami sejak awal, aku ingin kalian menyaksikan bagaimana takdir akhirnya menuntun kami kembali ke tempat di mana semuanya bermula. Sore itu, langit di atas kompleks pemakaman tampak begitu bersih, dihiasi rona jingga senja yang memancarkan kedamaian yang teramat dalam. Cerita ditutup dengan Bumi, Bintang, dan Mentari yang berdiri bersama di depan makam Arga. Kami berdiri berdampingan secara rapat, membiarkan embusan angin menyapu helai demi helai rambut kami di depan dua gundukan tanah yang kini bersanding dengan sangat tenang di bawah naungan pohon kamboja.
Bintang melangkah maju satu langkah, berlutut di atas rumput hijau yang basah sembari mengusap permukaan batu nisan Ayah yang masih bersih.
"Kita berhasil, Ayah... Nama Ibu sudah bersih sekarang. Orang-orang di luar sana akhirnya tahu siapa perancang asli dari kemegahan gedung itu," ucap Bintang dengan nada suara yang tidak lagi menyimpan kemarahan, melainkan bergetar oleh rasa haru yang teramat luar biasa.
Aku tersenyum tipis melihat perubahan besar di dalam diri adik lelakiku.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Bintang. Tanpa kegigihanmu mengawal dokumen persidangan, dewan profesi tidak akan pernah mau membuka kembali kasus lama ini."
Bintang mendongak, menatapku dengan sepasang mata yang kini memancarkan kedamaian seorang pria dewasa yang matang.
"Ini bukan cuma kerja keras aku, Kak Bumi. Kakak yang menyusun seluruh analisis strukturnya di depan para juri swasta itu. Kalau boleh jujur, aku sempat berpikir kita tidak akan pernah bisa menang melawan jaringan kekuasaan milik kolega Hendra."
Mentari ikut berlutut di samping Bintang, meletakkan seikat bunga mawar putih segar di atas pusara Ayah dengan jemarinya yang lembut.
"Ayah pasti melihat kita dari atas sana, Kak. Ayah pasti bangga melihat Kak Bumi dan Kak Bintang tidak pernah bertengkar lagi seperti dulu."
"Iya, Mentari. Kakak berjanji tidak akan pernah membiarkan rumah kita kembali dingin oleh ego yang salah arah," sahutku sembari ikut berlutut di antara kedua adikku, merapatkan bahu kami di bawah temaramnya senja yang kian meredup.
Aku mengangkat lengan kiriku, menatap sebuah benda yang melingkar erat di pergelangan tanganku. Bumi memakai arloji tua peninggalan ayahnya dan melakukan monolog akhir kepada pembaca. Jam tangan mekanis kuno dengan jarum yang terus berdetak ritmis itu kini menjadi satu-satunya kompas yang menjaga kewarasanku sebagai anak sulung. Detak jam ini seolah-olah menjadi perpanjangan dari detak jantung Ayah yang sempat terhenti, sebuah pengingat abadi bahwa mandat untuk menjaga Bintang dan Mentari kini telah berpindah sepenuhnya ke dalam tanggung jawabku.
Bagi kalian yang berdiri menyaksikan akhir dari kisah keluarga kami, aku ingin kalian merenungkan satu hal penting tentang esensi dari sebuah bangunan. Selama bertahun-tahun, otak arsitekturku selalu memuja kemegahan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menantang awan di pusat kota. Aku selalu mengira bahwa kekuatan sebuah struktur terletak pada tiang-tiang pancang beton yang terlihat mentereng dan diagung-agungkan oleh mata dunia luar. Namun sore ini, di depan gundukan tanah makam Ayah, seluruh teori arsitekturku runtuh tanpa sisa, berganti menjadi sebuah pemahaman spiritual yang teramat pekat tentang arti sebuah pengorbanan yang sunyi.
Aku menyadari bahwa di dunia ini, mungkin hanya Ayah yang rela menjadi fondasi bangunan yang terkubur di dalam tanah yang kotor dan gelap, menahan beban berat sendirian agar anak-anaknya bisa berdiri tegak menantang langit. Ayah dengan sengaja membiarkan dirinya dicap sebagai suami yang gagal, menerima kutukan sebagai sosok bapak yang kejam, dan membiarkan tubuh serta batinnya hancur digerogoti waktu dalam kesendirian yang absolut. Semua rasa sakit psikologis itu ia telan bulat-bulat tanpa pernah membela diri sedikit pun, hanya demi memastikan bahwa pondasi masa depan pendidikanku dan keselamatan nyawa adik-adikku tetap berdiri kokoh, aman dari jangkauan kehancuran yang dirancang oleh Hendra di masa lalu.
"Kak Bumi, ayo kita pulang. Hari sudah mulai malam," lirih Mentari sembari menyisipkan jemari kecilnya ke dalam telapak tanganku, memecah keheningan monolog batin yang sempat mengunci pikiranku.
Aku mendongak, menatap langit malam yang mulai memeluk pekatnya kegelapan dengan senyuman terbaik yang bisa kupahat setelah belasan tahun dilingkupi sinisme.
"Mari kita pulang, Mentari, Bintang. Rumah kita sudah tidak lagi mencekam; obor kehangatan yang dulu sempat mati karena angin lalu, sekarang sudah menyala kembali dengan fondasi yang jauh lebih baru dan kokoh."