Pagi datang perlahan, dan sinar matahari menyelinap melalui celah jendela. Anna pun membuka mata, menatap langit-langit yang putih, bersih, dan masih tampak samar.
Sebentar, batin Anna. Seperti ada yang aneh. Kenapa sangat sunyi? Tidak ada hiruk-pikuk seperti semalam, tidak ada tirai yang bergerak, juga tidak terdengar langkah kaki yang berisik.
"Kayak bukan IGD," yakin Anna dalam hati.
Anna segera mengangkat tubuhnya sampai menyeri kesakitan. Namun ia langsung terdiam dan refleks menutup mulut saat melihat sekeliling. Ha?! Bagaimana bisa ia berada di kamar inap?! Lebih tepatnya, kamar yang hanya diisi dirinya sendiri?!! Tidak ada pasien lain. Hanya meja dengan tas, kamera, laptop, dan ponselnya. Di sampingnya, meja kecil berisi hidangan lengkap dan sebuah sofa panjang di sudut ruangan. Lalu, pandangannya berhenti di arah pintu.
"V, VIP?!!" kaget Anna semakin melotot membaca papan pintu.
Tiba-tiba kesadaran Anna menurun. Ia kembali berbaring di kasur tapi bukan untuk pingsan melainkan menenangkan diri, memastikan semua yang dilihatnya hanyalah ilusi. Anna mencoba mengatur napas. Ia mengingat kembali kejadian kemarin. Apakah ia minta pindah kamar? Ia mengernyit, tidak. Ia masih ingat jelas, dokter sempat menawarkan jalur reguler agar ia cepat mendapat kamar, tetapi ia menolak karena selain menggunakan BPJS, ia hanya butuh tempat untuk berbaring sambil mengetik artikel. Itu sebabnya bermalam di IGD pun bukan masalah. Justru yang jadi masalah adalah siapa yang memindahkannya ke kamar VIP? tidak mungkin BPJS.
Eh! Apa jangan-jangan Rey? pikir Anna. Orang terakhir yang bersamanya adalah Rey. Belum dugaanya selesai, tiba-tiba ponselnya berdering.
Drrrttt! Drrttt! Drrttt! Panggilan dari Jessika. Anna langsung angkat.
"Halo, Kak!" seru Jessika nyaring.
Anna jauhkan ponselnya.
"Gua udah di rumah sakit, Kak!" panik Jessika "Tadi di kantor ada polisi yang kasih kabar soal lu, makanya gua langsung ke sini!"
Anna menghela napas pasrah. Iya. Ia semakin yakin, yang mengurusnya adalah Rey. Polisi itu pasti Rey.
"EH!!!!!" tetiba Anna kaget melihat handphonenya.
"Eh, kenapa kak?" Jessika bingung.
Buru-buru Anna langsung akhiri panggilan dan terdiam tidak percaya. Kali ini bahkan tangannya sampai gemetar. Kenapa handphonenya bisa ada? Anna semakin pusing dengan semuanya. Ia memang kecelakaan tapi tidak amnesia. Ia masih ingat, kemarin siang saat mau bayar makan siangnya Rey, uang Anna tidak cukup. Jadi, ia tinggalkan handphone sebagai jaminan dengan alasan lupa bawa dompet. Ia pergi meliput sampai malam, sampai Jessika kirim uang padanya. Lalu, saat perjalanan pulang mau menebus handphone dan belum juga sampai, bus yang ia tumpangi mengalami kecelakaan. Maksud Anna, ia bahkan belum ambil handphonenya tapi kenapa bisa ada? Apakah Rey?
Klek! pintu terbuka.
"Argh!!!" teriak Anna kaget.
Jessika terdiam bingung dan langsung masuk. Anna menghela nafas lega, ia kira Rey.
"Kak, lu kenapa?" bingung Jessika melihat kepala Anna "Kepala lu baik-baik aja kak?!"
Anna hanya mengangguk, berusaha mencerna semuanya. Tiba-tiba Jessika memeluknya erat. Anna terkesiap dan mematung, apa lagi ini sekarang?
"Kak, gua berhutang nyawa sama lu," lirih Jessika "Kalo lu gak gantiin liputan gua, mungkin gua yang terbaring disini. Gua minta maaf selama ini udah buat lu kesal kak. Mulai sekarang, gua akan jaga lu selamanya kak!!!"
Anna terdiam. Wajahnya masih menyimpan kebingungan, tapi matanya perlahan melembut. Ia tidak langsung membalas, hanya menepuk punggung Jessika pelan, canggung.
"Iya, iya. Bisa lepas dulu gak?" tanya Anna "Napas gua sesak."
Tidak ingin berlama-lama, Anna memutuskan untuk pulang walau belum sepenuhnya pulih. Selain mumpung ada Jessika yang bisa mengantarnya. Anna juga yakin biaya kamar VIP ini tidak murah. Bahkan ia sudah merencanakan negosisasi pembayaran, jika hanya setengah hari begini, semoga aja ada diskon.
"Untuk pembayaran sudah lunas semua yah bu," ucap suster di meja administrasi.
Anna terdiam tidak percaya apalagi saat suster itu memberi dokumen pembayaran, "Sudah dibayarkan oleh bapak Rey Agung Pratama dari keluarga ibu, untuk tiga hari kedepan."
"Eh, polisi tadi juga namanya Rey," ucap Jessika "Oh, jadi dia keluarga lu kak?"
Sekali lagi, Anna hanya terdiam. Bahkan ia sudah tidak kaget lagi. Tapi bingung. Bingung harus bagaimana menghadapi Rey setelah ini. Anna dan Jessika segera bergegas meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan pulang, Jessika terus bercerita. Sementara Anna justru memikirkan Rey. Kenapa Rey melakukan semua ini untuknya? Kecelakaan kemarin, rumah sakit, bahkan ponselnya? Anna menghela nafas berat. Jangankan mau menanyakan alasan itu semua, ia bahkan tidak berani untuk mengucapkan terima kasih.
"Enak yah kak punya keluarga polisi," ucap Jessika sambil nyetir "Pasti lu dipermudah kalo ada masalah."
"Gua justru malu, Jess."
"Loh, malu kenapa?"
"Karena dia bukan keluarga gua."
"Ohya?!!"
Anna berdehem, "Dia teman gua, dulu kita satu sekolah."
Jessika mengangguk, "Ah, berarti dia teman yang baik."
"Baik apanya?" Anna noleh "Gara-gara dia gua begini!"
"Ohyaaaa?!!"
Anna kembali menatap ke luar jendela, memantapkan keputusannya. Ini harus menjadi pertemuan terakhir mereka. Ia tidak ingin bertemu atau berbicara lagi dengan Rey, juga tidak ingin tahu apa pun tentangnya. Ia akan berhenti memikirkan Rey. Karena selain malu, Rey sudah tahu kekurangannya yang kurang banget ini, Anna juga merasa semakin terlibat, rasanya mereka semakin tidak mungkin. Sebagai orang yang mencintai Rey tentu ini sangat menyiksa karena akhirnya ia hanya akan kembali kecewa oleh cintanya yang tidak sampai.
****
Malam hari di kos, Anna terbaring menatap layar ponselnya. Beberapa hari ini, ia rutin mencari tahu kehidupan Rey dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak informasi beredar tentang Rey. Ayahnya yang seorang kepala polisi daerah, deretan mantan kekasihnya, hingga kabar bahwa ia kini berpacaran dengan seorang influencer bernama Lika. Anna sempat bergumam, Lika pasti sangat sabar. Namun ia segera abaikan. Bukan karena iri, melainkan karena ada informasi lain yang lebih menarik: Rey adalah seorang Komandan Pleton Samapta termuda. Waw!
Seketika Anna kagum membaca artikel itu. Ya, memang tidak heran sih. Dulu, Rey selalu jadi kapten futsal. Ia bahkan senang jika dipanggil kapten. Anna sering menyapanya begitu, walaupun hanya dibalas senyuman dan anggukan tipis.
Anna tersenyum menatap foto Rey di internet. Kini semuanya terasa masuk akal. Kamar VIP itu, cara Rey mengurusnya tanpa banyak bicara. Ia yakin, gaji seorang komandan pasti besar. Itu sebabnya semua terlihat begitu mudah bagi Rey. Anna semakin tersenyum, "Terima kasih banyak ya, Komandan!"
Tiba-tiba senyumnya hilang.
Anna mengernyit kesal, kenapa ia jadi sejauh itu memikirkan Rey. Buru-buru ia tutup semua tab pencarian di ponselnya, sekaligus mengakhiri rasa penasarannya.
****
Dalam perjalanan ke kantor bersama Jessika, Anna kembali melakukan kebiasaan aneh, menunduk hingga terperosok masuk ke kolong dashboard mobil setiap kali mereka melewati gedung Polres Jakarta Pusat, tempat Rey bekerja.
Lagi-lagi Jessika menoleh dan menghela napas, "Mulaiiii, mulai anehnya, mulaiii."
“Pinggang gua masih sakit he he," ucap Anna menyakinkan.
"Justru duduk begitu, bukannya makin sakit yah?" heran Jessika.
Anna terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, “Ini terapi.”
Jessika semakin heran, tetapi memilih tidak melanjutkan obrolan. Akhir-akhir ini, menurutnya, Anna memang terlihat aneh. Bukan sekali dua kali seperti ini. Anna sering tiba-tiba menghindar, mudah kaget, dan selalu gelisah tanpa alasan, bahkan memiliki kebiasaan aneh setiap melewati tempat tertentu. Jessika tidak mau banyak tanya. Ia pikir, mungkin itu efek dari kecelakaan.
****