Mungkin Nanti, Anna

kound
Chapter #8

Dikejar Polisi

Di sebuah kamar kost yang tidak ada jam dinding dan alarmnya, Anna yang masih terbaring selalu meraba kasur mencari ponselnya untuk memastikan apakah sudah waktunya untuk bangun atau belum. Layar menyala. Ia lihat jam.

“HAH??!!” Anna kaget langsung bangun dengan mata melotot.

Bukan, bukan karena sudah terlambat melainkan karena ia lihat satu pesan yang muncul.

Rey: [Ann, apa kabar? Sudah sembuh?]

HAHHH?!!!!!! Anna tidak percaya. Ia berkedip sekali. Dua kali. Tiga kali. Pesan itu tetap ada. Maksudnya, kenapa Rey mengirimkan pesan? Kenapa nanya begitu? Kenapa ini?

Anna langsung tampar pipinya. Aw! Sakit. Ia juga langsung beranjak dari kasur dan lari menuju jendela yang ia buka lebar-lebar. Silau. Anna mengernyit karena sinar matahari langsung menyorot wajahnya terang-terangan. Apakah ia di surga? tidak! Karena ia lihat halaman kostnya sudah ramai dengan para tentangga.

Berarti ini nyata, bukan mimpi!

Anna langsung memegang dadanya yang berdegup tidak karuan. Saat kembali lihat pesan dari Rey, Anna hanya memandangnya dengan ekspresi bercampuran antara bingung dan panik. Ia harus bagaimana?! Harus balas apa?! Ah, tidak! Anna langsung matikan ponselnya. Tidak usah langsung balas. Nanti aja. Ia mandi dulu.


Waktu terus berjalan dan pesan Rey belum juga Anna balas. Sejak berangkat ke kantor bahkan sampai tiba dan masuk jam kerja, Anna tidak berhenti memikirkan itu. Sebenarnya mudah saja untuk membalasnya, tapi entah kenapa Anna takut melakukannya.

Rani! Nama itu muncul tiba-tiba. Anna langsung buka chat Rani dan menceritakan semua kronologi yang ia alami bersama Rey. Anna pikir, Rani satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya saat ini. Pesan terbaca, namun belum dibalas, Rani justru langsung telepon Anna. Anna langsung angkat dengan antusias.

"Kok lu gak bilang sih kalo kecelakaan!!" oceh Rani tiba-tiba.

Anna langsung kaget.

"Gua kira lu udah tahu," bingung Anna "Kan viral di sosial media."

"Gua gak main sosmed sejak cerai!" potong Rani "Sekarang keadaan lu gimana?!"

"Gua udah sehat kok Ran," yakin Anna "Rey yang bantuin gua. Malam itu, dia temui gua di IGD. Bawa gua ke kamar VIP dan bayarin semua biaya rumah sakit. Tapi setelah itu kita gak ketemu lagi dan gak ada pesan apapun lagi selama satu bulan ini. Terus tadi pagi dia tiba-tiba chat, tanya gua udah sehat atau belum."

"Pasti dia mau tagih uang rumah sakit, Ann."

Anna langsung terdiam.

Lanjut Rani, "Lu tahu kamar VIP berapa per malamnya? jutaan. Lu bilang dia bayar buat tiga hari lagi. Gak mungkin dia kasih gitu aja, tapi langsung tagih juga gak enak karena lu baru kecelakaan. Makanya ini dia lagi pastiin dulu lu udah sembuh atau belum."

Anna bingung tapi masuk akal.

"Iya juga yah."

"Emang lu mikirnya apa?"

"Enggak. Gak mikir apa-apa," jawab Anna cepat.

Lalu Anna jadi pusing, "Pantesan gua degdegan banget lihat chatnya, gua belum ada uang kalo sekarang. Bales gimana yah Ran?"

"Ya, balas nanti aja pas udah ada uangnya."

Jessika muncul, “Balas sekarang aja, Kak."

Anna menoleh kaget dan langsung akhiri panggilan lalu kesal entah sejak kapan Jessika sudah di sampingnya.

"Menurut gua, belum tentu dia mau tagih biaya rumah sakit, Kak."

"Lu gak kenal dia, Jess."

“Tapi gua denger cerita lu barusan. Kalo akhirnya dia minta ganti, kenapa harus ke VIP? Kenapa harus bayarin sampe tiga hari? Harusnya dia pastiin dulu lu bisa ganti atau enggak. Bahkan waktu itu, kata Dian, dia udah dari pagi ke kantor cuma buat kasih kabar ke kita kalo lu masuk rumah sakit."

Anna terdiam, dan jadi pusing.

Jessika tersenyum, "Kayanya dia suka deh sama lu."

"Eh, enggak yah," potong Anna "Dia udah punya pacar."

"Kan baru pacar."

"Dan gak mungkin juga suka sama gua."

"Kenapa gak mungkin?"

"Gua bukan tipe nya."

"Kata siapa?"

"Gua pernah ditolak."

Jessika langsung diam. Ia tidak lagi lanjutkan obrolan dan kembali ke meja kerja. Anna menghela napas lega. Lalu lihat pesan Rey lagi. Beberapa menit berjalan, ia langsung putuskan kalau akan balas pesan itu nanti, saat tanggal gajian tiba.


****


TVS Tower, jam 18.15.

Semua karyawan mulai meninggalkan meja dan ruangan. Begitupun Anna yang jalan sambil teleponan dengan Rani. Mereka merencanakan makan pulang kerja ini tentu bersama Jessika yang memaksa ikut.

Mereka keluar lift dengan masih ngobrol sambil ketawa-ketawa. Tiba-tiba langkah dan ketawanya Anna langsung terhenti begitu sampai Lobi

"Stop, Jess!" tahan Anna begitu melihat seorang polisi berdiri di dekat pintu masuk.

Rey menoleh lihat Anna.

Anna langsung melotot, "Jes, Jes, balik Jes!"

Anna langsung lari kembali ke lift.

"Eh, Annaaaaa!" panggil Rey langsung lari mengejar.

Di lift yang kebetulan terbuka, Anna dan Jessika langsung masuk. Buru-buru Anna tekan tombol tutup berkali-kali. Sementara Jessika protes karena selain bingung mau kemana, tadi juga ada yang manggil Anna. Anna bilang gak ada. Tidak lama, pintu lift terbuka. Anna langsung buru-buru keluar dan Jessika semakin kesal karena Anna belok ke tangga darurat. Mereka turun tangga darurat lagi????!!!!

"Ih! Kak! Ngapain sih!" kesal Jessika.

“Kita turun sini aja!”

"Ada lift!"

"Udah ikut aja. Lu mau makan gak?!"

Jessika benar-benar kesal dibuat Anna. Tapi ia tidak punya pilihan selain nurut. Mereka lari menuruni anak tangga dari lantai lima ke lantai dasar parkiran mobil. Napas keduanya tersengal-sengal begitu sampai. Jessika sudah capek banget tapi Anna tetap menariknya untuk cepat mencari mobil.


Sementara itu, untuk kesekian kalinya Rey keluar lift dan tetap tidak menemukan Anna. Bahkan ia telepon berkali-kali juga tidak tersambung. Rey langsung kirimkan beberapa pesan pada Anna yang ceklis satu. Rey jadi sangat kesal. Pesannya tidak dibalas, teleponnya tidak diangkat, dan orangnya tidak bisa ditemui.


****

Lihat selengkapnya