Jakarta, 2013.
Anna bukan tipe gadis populer di sekolah. Nilainya biasa saja, wajahnya tidak masuk kategori idola, dan gaya hidupnya pun cenderung sederhana. Tapi ada satu hal yang membuat dia berbeda dari kebanyakan siswi lain: keberaniannya menaruh hati pada cowok yang paling dingin seantero sekolah, Rey Agung Pratama. Seorang kapten futsal berpostur tinggi, atletis, dan selalu jadi pusat perhatian banyak gadis karena tampan.
Rani, teman meja Anna, selalu menasihati kalau Rey memang banyak disukai para wanita tapi tidak pernah ada yang direspon. Semua Rey tolak. Rani khawatir Anna akan jadi yang berikutnya. Anna menggerutu ia juga khawatir dan tetiba Anna langsung berdiri dengan penuh semangat melantangkan tekad: Tapi ia akan tetap berusaha!!
Anna bergegas membawa kotak kuenya lalu pergi meninggalkan Rani. Rani tanya mau kemana? Anna bilang, mau ketemu Rey!!!!
Di lorong sekolah yang terlihat sepi karena memang masih jam istirahat. Langkah Anna yang awalnya terasa cepat berubah melambat begitu ia lihat dikejauhan Rey sedang jalan. Yes! Batin Anna senang karena ia bisa berikan secara langsung, tadinya ia mau taruh di laci meja Rey saja seperti biasa, tapi hari ini sepertinya tidak biasa.
Jantung Anna semakin bedegup kencang saat Rey semakin jalan menghampirinya. Batinnya sibuk menenangkan kalau hal ini bukan pertama kali ia lakukan.
"Hai Rey!" Sapa Anna penuh senyum menghalau jalan Rey.
Rey terhenti.
"Am, ini mau kasih kue," Anna menyodorkan kotak kue ke Rey.
Tidak langsung menerima, Rey hanya terdiam memandanginya, entah ini pemberian ke berapa yang pernah ditawarkan Anna, siswi kelas lain yang Rey tidak terlalu kenal itu.
Rey langsung melewati "Makasih, gue gak suka kue."
Senyum Anna memudar. Tapi ia tidak kaget karena sudah duga Rey akan pakai template jawaban kaya gitu. Hampir semua yang Anna berikan tidak diterima. Bahkan menyapa juga tidak pernah direspon. Memang, selain beda kelas, mereka juga tidak pernah kenalan. Tapi maksud Anna, sebagai cowok yang nilai ujian masuk SMAnya tertinggi dan tampan. Harusnya Rey tahu etika sosialisasi yang kalau disapa yah tersenyum atau setidaknya menoleh.
"Karena dia gak kenal lu," ucap Rani makan kue buatan Anna di kelas.
"Bukannya lu udah kenalin gue yah?"
"Iya, tapi dia gak respon, lebih tepatnya gak peduli."
Anna kembali menggerutu. Ia pikir Rani yang adalah teman SMP Rey bisa membantunya dekat tapi tidak juga. Rey memang jarang terlihat dekat wanita. Ah, entahlah, Anna mau sedih karena diabaikan tapi ia juga senang karena Rey memang mengabaikan semua wanita.
-----
Kalau saja sedang tidak di kelas, mungkin Anna sudah teriak kegirangan karena tiba-tiba Rani memberikan pin BBM Rey.
Awalnya Rani juga tidak punya. Tapi karena desakan Anna yang hampir empat bulan sejak masa ospek, masa-masa Anna jatuh hati pada Rey di barisan gugus. Akhirnya Rani minta pin BBM Rey langsung dengan mengingatkan kalau mereka satu kelas saat SMP. Rey membenarkan karena masih ingat. Rani tersenyum lalu minta BBM Rey mau undang ke grup alumni. Rey langsung memberikan dan bilang kalau pin BBM nya juga sudah tertempel pada poster futsal di mading. Rani tersenyum mengatakan minta secara langsung lebih sopan. Rey hanya mengangguk dan langsung pergi. Senyum Rani langsung memudar dan jadi kesal karena sebagai sesama alumni kenapa mereka terasa asing.
"Jadi, pin BBM dia ada di poster mading?" bingung Anna tidak percaya.
Rani mengangguk, "Makanya lu jangan lihatin dia terus. Lihatin tuh mading."
Anna hanya tersenyum.
"Coba Ann, chat aja."
"Eh, sekarang?"
"Iya, kenalan."
Anna ragu, "Chat apa yah?"
"Bilang aja mau ikut futsal."
"Ha ha ha!" Anna dan Rani ketawa bersamaan.
-----
Dengan keyakinan penuh disuatu malam. Akhirnya Anna kirim pesan ke BBM Rey.
[Hai Rey. Aku Anna. Kelas 10 IPA 3, dulu satu gugus ospek sama kamu. Aku mau kenalan aja. Bukan mau ikut futsal.]
Rey Balas: [Halo, salam kenal ya.]
Anna langsung teriak senang.
Tetiba pesan baru Rey muncul lagi: [Kenapa gak mau ikut futsal?]
Anna semakin dan semakin senang. Lalu langsung balas pesan itu dan entah bagaimana pesan itu akhirnya jadi berkelanjutan.
Hari-hari Anna terasa menyenangkan sejak ia terhubung dengan Rey di BBM.
Apalagi respon Rey di chat dan di dunia nyata sangat berbeda. Rey merespon pesan-pesannya dengan baik dan asik. Ah, Anna semakin kecintaan. Anna bahkan setiap harinya selalu buka beranda BBM Rey untuk memastikan aktivitas Rey, musik yang Rey dengar dan interaksi Rey lainnya. Hal yang paling menyenangkan adalah saat Rey merespon Anna yang menyapa di lorong sekolah. Walaupun hanya tersenyum tapi bagi Anna itu sangat berarti. Kenapa? karena akhirnya Rey tahu keberadaannya.
Anna juga selalu reply status Rey demi bisa chating. Anna bahkan sering cari perhatian lewat postingan statusnya yang berisi kode-kodean untuk Rey.
Sepanjang itu, Rani hanya tersenyum geleng-geleng memperhatikan Anna. Bahkan saat mereka jalan di koridor mau ke kantin. Anna menarik tangan Rani dengan antusias menghampiri Rey dan teman-temannya yang sedang jalan juga.
"Kapten Reyy!" Panggil Anna melambaikan tangan.
Rani kaget tidak percaya memandang Anna.
Rey dan teman-temannya langsung noleh. Memandang Anna yang lari menghampirinya.
"Halo kapten, mau kasih ini!" Anna memberikan sebuah kantong plastik hitam.
Teman-teman Rey saling memandang lalu tertawa heboh meledek satu sama lain. Tapi Rey tidak. Hanya terdiam dengan ekspresi dingin.
Rey langsung melewati, "Minggir, gua mau jalan."
Teman-teman Rey semakin ketawa dengan memanggil Rey, "Tunggu, kaptennn! Ha ha ha!"
Senyum Anna memudar.
"Lu manggil dia kapten Ann?" heran Rani.
"Am, dia, dia katanya senang dipanggil kapten."
"Tapi tadi dia marah. Jangan kayak gitu lagi, Ann. Maluuu."
Anna mau menjelaskan ke Rani tapi sepertinya sulit dipercaya. Andai Rani tahu, ia dan Rey sudah kaya sahabat kalau di chat.
-----
Hari-hari berjalan seperti biasa. Namun Anna terlihat tidak seperti biasanya. Ia jadi seperti orang kehilangan gairah hidup. Letih, lesu dan banyak melamun. Rani yang melihat itu berpikir pasti karena Rey. Itu kenapa saat Rani tidak sengaja ketemu Rey di koperasi saat antri beli ATK.
"Hai kapten," ucap Rani.
Rey noleh lalu mengabaikan. Rani jadi panik, ia kira ucapan Anna saat itu serius.
"Eh, Rey. Temen gue suka sama lu."
"Siapa?"
"Anna."
"Oh."
"Lu udah punya pacar yah?"
"Belum."
"Yaudah sama Anna aja."
Rey menghela nafas, "Pantesan yah lu temanan sama dia. Sama-sama berisik."
Rey pergi, tidak jadi beli ATK. Rani terkekeh tidak percaya dan mencibir Rey sok ganteng! Tapi memang beneran ganteng sih.
------
Sekolah sedang ada CUP Ekstrakulikuler. Anna dengan antusias lari ke lapangan karena pertandingan futsal segera di mulai.
Semalam, Rey update status BBM sedang latihan futsal. Anna reply mengirimkan kalimat dan stiker semangat. Rey langsung balas stiker terima kasih serta kalimat "Besok, nonton yah!"
Itulah alasan kenapa Anna mendadak jadi orang pertama yang sampai di lapangan untuk menonton dengan membawa tulisan di kertas sterofom "Semangat, Kapten Rey!"
Rey di lapangan melihat itu, namun tidak ada ekspresi apapun. Ia hanya fokus pada latihan saja dengan kaki yang memainkan bola dan bibir yang sedikit tersenyum.
Sementara Rani tidak bisa berhenti ketawa melihat antusias Anna yang sangat ramai dan heboh.
Pertandingan di mulai. Sorak-sorai Anna paling kencang terdengar karena Rey juga selalu mencetak gol. Namun bagaimana jika ditengah keseruan itu, teriakan Anna berubah jadi semakin kencang karena Rey lari langsung mendorong lawan yang menendang kawan timnya. Seorang langsung mendorong Rey sampai jatuh.