Mungkin Nanti, Rey.

diarymilks
Chapter #6

Pertemuan Terakhir

Pukul 09.00 pagi Rey tiba di markas dengan langkah ringan. Tubuhnya kembali bugar, luka semalam oleh kejadian begal tinggal perih tipis yang tak berarti. Namun yang paling mencolok bukan itu, melainkan senyum yang sulit disembunyikan.

Beberapa anggota saling lirik dan saling tersenyum menyapa Rey yang sedang terlihat berseri.

Bagaimana tidak, ponsel Rey bergetar menandakan pesan masuk. Rey lihat dan nama itu muncul di layar: Anna. Nomor asing yang sudah ia simpan. Rey langsung buka pesan itu.

“KTP ku gimana?”

Rey tertawa tipis. Ia membalas santai: “Ketinggalan di toilet.”

Tak sampai semenit, balasan masuk.

“Ngapain bawa KTP ke toilet, sih? Aku perlu ktp, Rey. Itu penting!”

Rey tertawa lebih lepas kali ini. Ada sesuatu dari nada kesal Anna yang justru terasa hidup.

Rey mengetik pelan: “Nggak semua yang penting selalu ada di tempat yang tepat.”

Beberapa detik tidak ada balasan. Rey menatap layar, menunggu, entah menunggu apa. Danki Irvan lewat dan memperhatikan Rey dengan tatapan aneh. Rey menoleh dan senyumnya memudar bahkan langsung menyimpan ponselnya.

“Pagi Dan, hari ini ada demo apa aja?”

Irvan mengernyit, “Semalam baru babak belur, kamu sudah mau cari ribut lagi?”

“Bukan cari ribut Dan,” ujarnya tenang, “Saya hanya mau memastikan kalau negara ini masih butuh dijaga. Banyak penjahat yang gak kelihatan.”

Danki Irvan menatapnya heran, "Ceria banget yah Komandan hari ini.”

Rey tersenyum kali ini lebih dalam, "Siap Dan, saya sudah menemukan sisi menyenangkan kerja di samapta!"

"Oh, jadi selama ini tidak?"

Rey tersenyum menggeleng lalu langsung pamit pergi dengan semangatnya. Lagi-lagi Danki Irvan menahan geram.


-----


Di ruang redaksi, suara Bu Niar menggelegar tanpa jeda.

“Kamu nggak meliput sidang, Anna? Itu agenda utama hari ini! Kamu, kamu tau siapa yang disidang kan? Komisaris pertamina!! Kasus kelas kakap!!”

Anna berdiri tegak, wajahnya tenang meski dadanya bergetar, “Iya, maaf, Bu. Tapi saya lupa bawa dompet, ktp disana semua.”

“Pulang!!!” tegas Bu Niar “Kamu reporter. Identitas itu nyawa kamu. Sekarang juga pulang, ambil!”

Anna mengangguk, “Baik, Bu.”

Anna keluar ruangan dengan langkah teratur. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Namun arah kakinya bukan ke parkiran. Ia berhenti di ujung koridor, menarik napas panjang, lalu menekan nama Rey di layar ponselnya.

Telepon tersambung.

“Kamu ada waktu nggak buat pulang ambil KTP aku sekarang?” tanya Anna tanpa basa-basi.

Di seberang sana, suara Rey terdengar lebih berat dari biasanya. “Nggak bisa. Aku lagi di Ambon.”

Anna terdiam sepersekian detik. “Ambon?” ulangnya, tidak menyangka jaraknya sejauh itu.

“Iya. Tugas.”

"Oh, am, atau aku bisa gak ambil KTP aku di toilet kamu?" nada Anna berusaha mencari solusi.

“Nanti aja. Tunggu aku pulang.”

“Aku butuh buat kerja, Rey.”

“Aku juga lagi kerja, Anna.”

Hening.

“Ktp aku di kamu, itu penting. Aku gak bisa kerja sekarang. Kalau kamu jauh, bisa minta orang lain gak buat ambil," keluh Anna.

“Ya kalo lagi gak di Ambon juga aku ambil sekarang," balas Rey, nada suaranya mulai mengeras, “Ini bukan soal jauh. Soal keadaan.”

“Iya, keadaan kamu!” potong Anna kesal “Aku juga punya keadaan! Kapan pastinya?!!"

"Nanti!"

Klik. Panggilan terputus.

Anna benar-benar pusing menghadapi Rey. Nanti kapan? Minggu Depan? Bulan Depan? Anna khawatir ia sudah dipecat.


-----


Dua hari berlalu tanpa satu pun pesan dari Anna. Tidak ada notifikasi. Tidak ada nada dering. Rey bahkan beberapa kali membuka layar ponselnya, membaca ulang percakapan terakhir mereka. Kalimat-kalimat itu terasa lebih tajam setelah sunyi mengambil alih. Rey menghela napas. Entah kenapa, dua hari tanpa kabar terasa lebih panjang dari dua malam patroli.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Rey mengernyit lalu mengangkat.

“Rey, ini gue Rani.”

“Rani mana?”

“Gue dapet nomor lu dari Anna.”

Rey langsung paham, Oh.

Rani tak berputar-putar, “Dia dimarahin bosnya udah beberapa hari nggak liputan. Mending lu balikin KTP nya. Atau kapan lu sampai Jakarta?”

“Jakarta?” bingung Rey “Maksudnya?”

“Sekarang lu di Ambon kan?”

“Enggak. Gua di Jakarta.”

“Loh? Anna bilang lu di Ambon.”

“Ohhhhh,” Rey menyandarkan punggungnya, “Maksudnya Kampung Ambon. Ada patroli di sana.”

Hening beberapa detik di ujung sana.

“Kampung Ambon, Jakarta Timur?” suara Rani berubah pelan.

“Iya.”

Rani menarik napas panjang, seolah sedang menyusun ulang logika.

“Bilang sama dia,” ujar Rey ringan, “Ambil sendiri.”

Rey langsung menutup telepon sambil ketawa siapa yang di Ambon?Pantesan dua hari tidak ada permintaan. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Anna.

Senyum Rey semakin merekah bahkan ia langsung angkat.

“Aku udah lewatin empat liputan ya Rey!!!” suara Anna meledak tanpa salam.

"Ya, kenapa kamu lewatin?"

"KTP aku di kamu!!! Aku gak bisa ngeliput!!!"

“Ya, kamu aja nggak minta kemarin. Aku kira udah nggak butuh.”

“Kamu bilang di Ambon!” protesnya gemas "Makanya ngomong yang jelas!!!”

“Aku kira kamu tahu.”

“Kira-kira aja terus!!!" balas Anna cepat “Kamu tau, kalau aku nggak liputan, gaji aku dipotong.”

Nada suara Anna mulai turun. Bukan marah lagi, lebih seperti lelah.

“Aku kemarin sampai beli berita dari kantor lain. Habis uang aku. Cari berita itu nggak gampang, Rey. Kalau cuma narasi, ditolak redaksi. Aku perlu masuk ke lapangan, tapi perlu ktp.”

"Yaudah, kalau kamu perlu, temuin aku, kamu ambil sendiri."

Emosi Anna tetiba naik ke tenggorokan dan ingin membanting handphonenya tapi jangan, tidak ada lagi. Dari kemarin kan ia juga mau ambil.

“Malam ini di Hotel Kuningan aja, gimana?” tanya Rey.

Sunyi.

Di seberang sana, Anna melongo tidak percaya, tangannya sudah mengepal. Ia tahu nada itu setengah menggoda, setengah menguji. Tanpa menjawab, ia memutus panggilan.

Rey bingung lalu kirim pesan singkat, “Mau nggak?”

Anna mengetik cepat, “Aku emang suka sama kamu, tapi aku punya harga diri.”

Ia terhenti. Membaca ulang. Menghapus. Lalu menggantinya, “Aku memang perlu KTP, tapi aku punya harga diri.”

Pesan terkirim.

Rey membacanya lalu langsung tertawa lepas.

“Mikir apa sih,” gumamnya.

Beberapa jam kemudian, layar televisi di ruang siaga menampilkan breaking news. Gala dinner petinggi ASEAN digelar di Hotel Kuningan, menjelang KTT ASEAN Jakarta. Pengamanan diperketat. Komandan pleton yang ditugaskan menjaga perimeter hotel malam itu, Rey.


-----

Lihat selengkapnya