Mungkin Nanti, Rey.

diarymilks
Chapter #9

Teror TVS

Pintu kaca lantai redaksi terbuka.

Anna masuk dengan langkah tergesa, masih membawa aroma asap dan kemejanya yang penuh oleh noda. Liputan kali ini cukup menguras tenaga. Tidak hanya siaran. Anna justru sampai ikut terlibat dalam evakuasi kebakaran. Ia lari ke barisan damkar, membantu mengangkat selang demi mempercepat proses pemadaman. Tapi api sudah cukup besar. Siapapun tidak akan selamat didalamnya. Anna sampai kehabisan tenaga pasrah melihat segalanya.

“Anna,” suara Bu Niar membuatnya beranjak dari kursi.

“Iya, Bu?”

“Masuk ruang meeting sebentar.”

Nada Bu Niar terdengar serius, itu kenapa Anna langsung mengangguk dan jalan mengikuti. Begitu masuk, langkah Anna terhenti begitu lihat tiga orang polisi sudah duduk didalamnya, sedang memandanginya.

Anna membeku saat tatapannya bertemu dengan, Rey?!

Tetiba jatungnya berdegup cepat. Langkahnya sedikit mundur. Ia bingung, sangat bingung. Ada apa ini? kenapa ada Rey?

Bu Niar menangkap keanehan Anna apalagi ia masih ingat kalau Rey itu adalah temannya. Itu kenapa Bu Niar minta Anna cepat duduk. Anna tersadar dan buru-buru masuk lalu duduk berhadapan dengan tiga polisi itu dengan rasa tidak percaya diri.

"Pulang liputan yah mbak?" tanya Eko membuka obrolan.

Anna semakin tidak percaya diri, penampilannya yang berantakan pasti terasa kontras. Sebenarnya Anna tidak masalah tapi disini ada Rey. Anna benar-benar malu.

Anna tersenyum, "Iya, tadi liput kebakaran rumah di tambora."

"Ohiya?" sambung Irvan "Berapa rumah yang ludes?"

"Lumayan banyak karena di sana padat banget," jelas Anna "Am, tadi saya ikut evakuasi jadi penampilan saya lagi gak bagus."

"Oh gak masalah mbak, tenang aja," ucap Eko menyakinkan.

"Kamu hebat loh Anna, selalu terlibat di kondisi apapun," puji Irvan "Kamu lebih cocok jadi Polwan dibanding reporter ha ha ha."

Anna hanya ketawa saja.

Rey hanya diam memperhatikan Anna tanpa berniat ikut komentar. Sorot matanya terus terpaku pada tangan Anna. Luka memar minggu lalu itu masih terlihat walau samar-samar.

"Baik, supaya gak terlalu lama," potong Bu Niar "Mungkin bapak-bapak bisa konfirmasi saja ke Anna karena dia sendiri yang mendapat ijin untuk foto mobil plat RI yang kalian minta."

Ketawa Anna memudar mendengar itu. Ia tidak sangka mereka akan membahas mobil itu lagi.

"Ohiya, jadi gini Anna," ucap Irvan masuk ke tujuan mereka datang "Kami ini dari bagian Samapta. Salah satu tanggung jawab kami adalah menjaga keamanan dan ketertiban. Jadi, apa pun yang terjadi di jalanan tentu jadi perhatian kami. Termasuk kecelakaan kemarin. Semua hal yang berkaitan dengan kejadian itu, terutama dokumentasi, bukti atau informasi di lokasi, perlu kami amankan dan kami serahkan kepada pihak yang menangani penyelidikan. Apalagi jika yang berkaitan dengan aset negara."

Eko memberikan beberapa foto yang memperlihatkan Anna foto mobil tersebut. Anna diam saja melihat itu, memang benar itu dirinya.

Eko bilang, "Jadi tujuan kedatangan kami adalah ingin meminta foto mobil ini untuk kami amankan secara prosedur dan hukum."

"Prosedur yang mana?" tanya Anna.

Hening.

"Saya gak akan ambil foto jika memang dilarang," ucap Anna "Saat itu anggota kalian mengijinkan saya masuk untuk dokumentasi."

Anna terkekeh, "Ini saya yang gak tau prosedur atau kalian yang gak bekerja sesuai prosedur?"

Irvan apalagi Eko menatap Anna tajam dengan sorotan tidak suka. Rey hanya menyaksikan saja, ia pikir ini akan seru.

"Anggota kami memang bekerja gak sesuai prosedur, Anna," ucap Irvan "Tapi semua tetap harus berjalan sesuai ketentuannya. Kami nggak menyalahkan kalian. Tapi dalam hal ini, mobil itu tidak bisa dipublikasi tanpa persetujuan kepolisian."

"Tidak memberikan data internal perusahaan ke pihak luar juga adalah prosedur kami," potong Bu Niar.

"Dari awal sudah saya katakan kalau kami tidak bisa memberikan itu. Anna pun yang terlibat langsung tidak menyalahi aturan saat melakukannya. Jadi, permintaan kalian tidak bisa kami lakukan."

"Kami kesini mau minta kerja sama bukan cari siapa yang benar atau salah."

Rey akhirnya angkat bicara.

Semua mata langsung beralih padanya.

Lanjut Rey, "Kami gak minta kalian menghentikan pemberitaannya. Kami hanya minta waktu dan kerja sama, agar informasi yang mungkin berkaitan dengan kecelakaan dapat kami selidiki dulu, maka semua barang bukti, informasi, dokumentasi harus kami amankan dulu.”

Irvan tersenyum mengangguk. Eko kembali menegakkan diri tanda memberi ruang Rey untuk maju. Tidak salah ia paksa Rey ikut. Rey sangat bisa diandalkan.

"Perusahaan kami juga sangat menjamin keamanan segala bentuk informasi dan dokumentasi, jadi kalian nggak perlu khawatir," jelas Bu Niar.

"Justru kami khawatir kalian yang gak aman!" tegas Rey dengan nada yang cukup keras.

Suasana jadi hening dan menegang. Lagi-lagi Anna harus memandang ekspresi menyebalkan dari Rey lagi. Entah kenapa Rey sekarang jadi sangat menyebalkan.

"Kami nggak mau ada oknum yang merasa terancam oleh keputusan kalian dan melakukan sesuatu yang nggak diinginkan," ucap Irvan menengahi "Apapun bisa terjadi dinegara ini. Jadi percayakan pada kami."

"Untuk apa negara ini punya kalian kalau oknum masih bisa melakukan apapun?!" tanya Anna berdiri memandang mereka bertiga tanpa terkecuali Rey.

"Anna duduk," pinta Bu Niar.

Tapi Anna tidak peduli dan tetap berdiri, "Urusan kami cuma menyampaikan apa yang kami temukan di lapangan. Oknum? itu urusan kalian!"

Rey memandang Anna tajam.

"Kami cuma minta kerja sama!" bentak Eko berdiri juga.

"Kerja saja sendiri!" bentak Anna.

Bu Niar meminta Anna keluar.

Anna masih lanjut karena kesal banget, kali ini ia pandang Rey, "Tanggungjawab kalian melindungi kan? tapi siapa yang sedang kalian lindungi? Jika semuanya aman ditangan kalian. Apa oknum memang takut pada kalian? atau justru kalian sendiri oknumnya?"

"Anna, keluar!" bentak Bu Niar hingga Anna pergi.

Eko benar-benar emosi dibuat Anna. Irvan menenangkan tapi Eko tetap tidak terima. Rey langsung beranjak bangun dan pergi. Irvan tanya mau kemana pun tidak dijawab.

Di luar, Rey mencari keberadaan Anna yang terlihat sedang duduk dan bicara dengan Jessika. Rey paham Anna sedang emosi tapi sepertinya ada yang harus ia luruskan, itu kenapa ia langsung hampiri.

Sementara, Jessika yang mendengar ocehan Anna langsung terdiam begitu Rey sampai. Jesika benar-benar tidak percaya Rey masih setampan saat pertama kali ketemu.

"Ann, aku mau ngomong."

Anna noleh dan langsung menghela nafas entah lelah atau kesal, gak tahu. Tapi tidak alasan untuk menolak juga.


Mereka pergi ke rooftop, tempat paling sepi di kantor. Keduanya saling berdiri dan memandang dengan sorot mata penuh perdebatan.

"Aku bicara sebagai polisi karena pekerjaan," ucap Rey serius "Mana foto mobilnya?!"

"Mau kamu bilang kalau kita teman dekat pun, aku tetap nggak akan kasih, Rey."

"Ann."

"Kami udah bayar mahal untuk foto itu!"

"Berapa?"

"Tanya temen kamu!"

"Kamu melanggar hukum kalau kayak gitu, Ann."

"Terus kalian?!"

Anna kesal memandang Rey.

"Mobil plat RI itu ada di posisi paling depan! Semua polisi ada di sana saat itu! Tapi gak ada satu pun yang menjelaskan tentang mobil itu ke media?!"

"Ann--"

"Bahkan sampai sekarang gak ada yang tahu penyebab kecelakaan yang bunuh belasan orang itu!"

"Terus sekarang kamu datang-datang minta fotonya?!"

Ann tatap Rey tajam, "Apa uang untuk foto ini lebih tinggi dari yang aku bayar waktu itu?!!”

"Aku gak melakukan ini karena uang!" bentak Rey tidak terima.

Anna terdiam. Tubuhnya sedikit gemetar.

Rey maju selangkah. Tatapannya tidak lagi sekadar tegas sebagai seorang polisi. Kali ini ada kekecewaan yang jelas terlihat di sana.

"Harusnya pers bisa jadi pihak yang benar-benar tahu, bukannya sok tahu kayak kamu!"

Tangan Anna jadi mengepal.

Lanjut Rey, "Kamu gak akan ngerti gimana hukum bekerja. Ini pekerjaan ku, bukan bagian kamu! Aku melakukan ini supaya hukum gak melukai siapapun!"

Anna memandang Rey untuk beberapa saat.

"Jadi maksud kamu foto ini akan melukaiku?"

Rey malas menjawab karena terkesan mengancam. Terlebih ia yakin, Anna pasti sudah paham maksudnya.

Anna mengangguk, "Kalau iya, biarlah."

"Ini gak segampang yang kamu pikirin."

"Aku sudah terbiasa terluka."

Rey kembali terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana tapi entah kenapa, ia tidak suka mendengarnya.

"Kalau bukan karena uang," suara Anna kali ini lebih pelan, "Apa kamu melakukan ini juga karena kasihan?"

"Kalau bukan kamu pun, aku tetap akan memintanya, Ann!"

"Mau siapapun yang minta, aku tetap gak akan kasih foto itu, Rey!"

Tangan Rey mengepal.

Lihat selengkapnya