Mungkin Nanti, Rey.

diarymilks
Chapter #10

Tetap Berteman Baik

Sebelum jam istirahat tiba, Anna mengetuk pintu ruangan direksi TVS, memberanikan diri untuk duduk di dalamnya.

"Pak, saya mau bicara soal foto mobil plat RI."

Pak Sulistio, direksi TVS yang sedang membaca dokumen mengangkat wajah.

"Kenapa?"

"Mungkin bapak juga sudah tahu, beberapa minggu lalu, polisi kesini untuk meminta foto itu. Sebaiknya foto itu kita serahkan ke mereka untuk penyelidikan."

"Memang mereka gak punya?"

Anna terdiam.

"Harga foto ini lebih mahal dari yang kita bayar saat itu, pasti polisi-polisi itu juga memanfaatkannya seperti kita."

"Memanfaatkannya gimana Pak?" bingung Anna.

"Mereka sedang mempertimbangkan penawaran dari perusahaan kita.”

Anna mengernyit, "Mereka? polisi?"

"Pemilik mobil itu."

Anna langsung terdiam.

Nada Pak Sulistio tampak tenang, seolah pembicaraan itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Entah kenapa Anna jadi kesal memandangnya.

"Pak, tapi karena foto itu, kita seperti dapat banyak teror."

"Kalau yang kamu maksud kepala ikan kakap itu mungkin aja paket nyasar. Saya mengizinkan beritanya tayang karena pasti berpengaruh baik untuk rating."

Anna menarik napas, "Bukan cuma itu Pak! Bu Niar ditabrak orang. Mobil Jessika tiba-tiba rusak. Kemarin dia keracunan makanan. Saya sendiri sering diikuti orang yang nggak dikenal setiap pulang kerja.”

Pak Sulistio terdiam.

“Bapak masih mau bilang itu semua kemungkinan?”

“Bisa saja.”

Anna menatapnya tidak percaya. Ia menahan emosinya.

“Saya nggak tahu siapa yang melakukan semua ini, Pak. Tapi sejak kita punya foto itu, hal-hal aneh terus terjadi. Saya cuma minta kita berhenti mempertaruhkan karyawan.”

Pak Sulistio bersandar di kursinya, "Anna, seorang pers tidak boleh mengambil kesimpulan sebelum ada bukti.”

"Jadi kita tunggu sampai ada yang meninggal dulu?"

Hening.

Sekali lagi Anna hanya bisa menghela nafas.

"Saya kesini karena cuma bapak yang bisa melindungi kami. Kalau gitu, saya permisi yah Pak.”

Anna beranjak dan keluar. Begitu pintu tertutup, ekspresi Pak Sulistio berubah. Ia langsung ambil ponselnya dan membuka kontak seseorang.

Pesan diketik singkat: [Kau hentikan teror ini. Atau kami posting mobil dan profilmu sekarang.]

Pesan terkirim.

Tidak sampai satu menit, balasan masuk, [Teror apa?]

Pak Sulistio mengernyit.

Pesan berikutnya muncul, [Kami belum melakukan apa-apa.]

Pak Sulitio terdiam. Sorot matanya kini berubah jadi serius. Kalau pemilik mobil plat RI itu benar-benar tidak mengirimkan teror, lalu siapa yang melakukannya?


****


Kalau saja tidak ada pendingan artikel yang harus dipublikasikan besok, mungkin Anna sudah pulang teng go.

Sejak mengetahui bahwa perusahaan memilih memanfaatkan kondisi yang membahayakan karyawan demi keuntungan, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah. Untuk apa selama ini ia berdedikasi? Untuk apa ia bekerja sampai lupa waktu, mengejar berita, menjaga nama baik perusahaan, bahkan mempertaruhkan keselamatan dirinya? Toh, kalau suatu hari ia terluka bahkan mati sekalipun, besoknya perusahaan tetap berjalan.

Tetiba Anna teringat, Rey. Teringat apa yang pernah ia katakan kalau semuanya akan aman di perusahaan ini. Anna menghela nafas, ternyata tidak. Jadi, ia hanya ingin selesaikan apa masih bisa ia selesaikan sebelum kondisi ini benar-benar melukainya.

Jam menunjuk pukul sepuluh malam saat Anna keluar dari gerbang TVS.

Jalan depan kantor sudah jauh lebih sepi dibanding biasanya. Mungkin itu normal saja karena sudah malam, tapi beberapa hari terakhir, kondisi seperti ini sedang membuatnya tidak nyaman.

Anna percepat langkahnya. Tasnya ia pegang lebih erat. Beberapa meter kemudian, ia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Anna kembali jalan. Namun beberapa langkah setelahnya, perasaan itu muncul lagi. Seperti ada seseorang yang mengikutinya. Ia menoleh sekali lagi. Kosong.

Anna menarik napas dan berusaha menenangkan diri. Ia kembali jalan, kali ini lebih cepat. Terdengar suara langkah seseorang. Jantung Anna berdegup kencang. Ia langsung noleh ke belakang dan melihat beberapa pria yang jalan. Anna gemetar. Kali ini ia tidak mau mengambil risiko. Langkahnya berubah menjadi setengah lari.

Sampai di trotoar, lampu penyeberangan sudah menyala merah tapi Anna tetap menerobos masuk hingga kendaraan-kendaraan yang melintas memberikan klakson kencang.

TINNNNNN!!!!!!

Langkah Anna terhenti, terkejut.

TIN! TIN! TINNN!!!

Tubuhnya membeku di tengah trotoar. Kakinya gemetar lemas seperti tidak ada tenaga melangkah lagi.

Beberapa kendaraan melintas cepat di kanan kirinya. Beberapa suara memintanya minggir. Tapi Anna tidak bergeming. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai dadanya terasa sesak. Untuk beberapa detik, ia hanya bisa menatap jalan di depannya dengan wajah pucat.

"Pak, maju! maju! Yang kanan maju!"

"Sebentar, jangan jalan dulu!"

Anna menoleh ke arah seseorang yang datang ke tengah jalan itu. Samar-samar ia lihat sosok itu karena wajahnya tertutup sorot lampu kendaraan.

Namun suara itu. postur tubuh itu. Bahkan cara orang itu berjalan pun terasa begitu familiar.

Anna terdiam saat orang itu mendekat, menghampirinya.

Rey?

"Kamu ngapain di tengah jalan begini?" tanya Rey.

Anna terdiam memandang Rey. Ketegangan dan ketakutan yang sejak tadi memenuhi tubuhnya perlahan mereda. Napasnya mulai lebih teratur. Meski kini ia jadi bingung harus jawab apa.

"Ayo, minggir dulu. Jangan disini."

Rey meraih tangan Anna lalu menariknya menyeberang jalan. Anna menurut tanpa protes, tanpa bertanya. Ia hanya mengikuti langkah Rey sampai mereka tiba di halte seberang. Begitu sampai, Rey melepaskan tangannya.

"Tadi kaki aku tiba-tiba keram," ujar Anna canggung, seolah merasa perlu menjelaskan.

Rey terdiam menatapnya, lalu mengangguk, "Untung aku lagi patroli di sini. Kalau nggak, pasti bakal macet."

Anna terdiam. Ia sempat mengira Rey datang sebagai penolongnya. Ternyata bukan. Namun, entah kenapa, Anna tetap merasa sedikit lega.

"Kamu baru pulang jam segini?" tanya Rey lagi.

Anna mengangguk, "Ada beberapa artikel yang harus diselesain."

"Mungkin ini yang buat kaki kamu keram, terlalu lama kerja. Langsung pulang dan istirahat."

"Am, Rey, aku mau ngomong."

Potong Anna.

Rey terdiam memandangnya lalu mengangguk dan jalan ke kursi halte. Anna pun mengikuti. Mereka duduk disana dengan menyisahkan sedikit jarak.

Lihat selengkapnya