Di meja kerjanya, Anna masih merasakan denyut kepalanya yang agak kencang. Mungkin karena sepulang dari Pondok Melati 3000 jam enam pagi itu, dua jam kemudiannya ia harus sampai kantor. Ditambah ia belum menemukan alasan apa yang bisa disampaikan dari liputannya yang belum selesai. Tidak mungkinkan ia bilang karena tidur dengan Rey.
Anna tetiba semakin pusing begitu mengingat Rey. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Berharap mengatur napas bisa melupakan segalanya, tapi justru ingatan tentang malam itu muncul lagi. Bagaimana semalam Rey menarik bahunya mendekat. Berlari bersama hingga masuk ke kamar. Lalu mereka bercinta.
Anna langsung menggeleng keras. Tidak. Ia tidak ingin mengingatnya lagi. Tangannya segera meraih botol minum di atas meja. Ia meneguk air beberapa kali, seolah bisa menghapus ingatan itu bersama rasa hausnya. Anna kembali memegang kepalanya. Kenapa ia bisa melakukan itu? Kalau dirinya mungkin ia tidak heran. Dari dulu ia memang jatuh cinta pada Rey. Mungkin terkesan seperti tidak punya harga diri tapi siapa yang bisa menolak sentuhan dari orang yang kamu cintai?
Justru yang Anna bingungkan adalah Rey. Kenapa semalam tiba-tiba seperti menginginkannya?
“Ann!”
“Eh!” Anna langsung tersentak menoleh.
Ali sudah duduk di kursi sebelahnya sambil menatap serius.
"Gue kayaknya gak bisa ikut liputan, Ann."
Anna mengerutkan kening, “Kenapa?”
“Gua gak mau ke sana lagi.”
"Iya kenapa?" bingung Anna "Ini tugas kita yang harus diselesain. Semua kameramen udah punya agendanya masing-masing."
Ali terdiam cukup lama. Ia mengusap wajahnya sebelum akhirnya mengembuskan napas berat.
“Gue gak mau ketemu cewek-cewek yang di sana lagi, Ann.”
“Maksud lu?”
Ali mendekat ke Anna, “Sejujurnya, semalam gua diajak tidur sama mereka.”
Anna kaget, "Serius lu?!”
Ali mengangguk dan minta suara Anna pelan-pelan.
Anna langsung menutup mulut dan agak mendekat ke Ali.
“Kok bisa?” bisik Anna.
“Ya apapun bisa terjadi ditempat kayak gitu."
Anna terdiam, teringat apa yang ia lakukan semalam.
Lanjut Ali, "Gua gak sadar melalukannya. Semua terjadi begitu aja dan siapa sih cowok yang bisa kuat dan nolak godaan disana?! Gak bakal ada."
Deg. Batin Anna tertusuk. Jari Anna mulai gemetar, sesak dan panik perlahan merasukinya.
"Gua merasa bersalah sama istri gua," ucap Ali lagi "Kalo dia sampe tahu pasti dia kecewa banget dan gua takut pisah sama dia. Makanya gua gak mau lagi kesana."
"Lu, lu akan kasih tahu istri lu?"
"Ya enggak lah, Ann. Gua sayang banget sama dia. Walaupun gua semalem tidur sama cewek lain. Hati gua tetep buat dia. Semalem itu gak berarti apa-apa."
"Benar juga," batin Anna.
Anna menunduk memainkan jari-jarinya yang gemetar, "Ta, tapi gimana kalo semalam itu berarti buat dia?"
"Siapa? PSK?"
Anna tersadar, kenapa dia jadi nanya itu.
"Gak mungkin, Ann," potong Ali "Dia cuma mau duit gua. Gua cuma mau tubuh dia. Semalam hiburan sesaat doang. Apalagi itu tempat prostitusi. Gak akan ada perasaan ditempat kayak gitu."
Anna tidak menjawab.
“Pikiran dan hati gue tetap buat istri gue.”
Anna semakin diam.
Entah kenapa, kalimat terakhir Ali justru terasa seperti sesuatu yang menamparnya.
Bagaimana yah dengan Rey? Apa semalam juga tidak berarti apa-apa? Apa ia juga tidak sengaja menginginkannya? Anna menggigit bagian dalam bibirnya.
Ali beranjak akan ke Bu Niar untuk melancarkan niatnya. Anna tidak bergeming sampai Ali benar-benar meninggalkannya.
Anna hanya menghela nafas berat. Hatinya jadi sangat berat. Mungkin karena ia menyadari bahwa bukan apa yang terjadi semalam yang membuatnya takut. Melainkan bahwa hanya dirinya saja yang menganggap kejadian semalam itu berarti.
Kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Seorang Rey mana mungkin menginginkannya. Pertama, Rey itu pria, pasti tidak akan kuat dan kebetulan hanya ada Anna saja disana. Kedua, Rey punya pacar, semalam sudah pasti hanya hiburan sesaat. Ketiga, ia adalah Anna yang Rey kenal sejak sekolah. Anna yakin, Rey tahu tentang dirinya, latar belakangnya dan segala kekurangannya. Sudah jelas tidak mungkin ada perasaan dengan apa yang mereka lakukan semalam. Semua memang sebuah ketidaksengajaan.
Anna mencengkram jarinya sendiri ditengah dadanya yang semakin sesak.
Anna meraih ponselnya. Pesan dari Rey yang menanyakan keberadaannya masih belum ia balas bahkan ada lima panggilan tak terjawab setelahnya. Anna terkekeh, untung ia tidak jawab. Anna mengetik.
Anna: [Aku sudah di kantor, Rey.]
Anna berhenti sejenak. Lalu mengetik lagi.
Anna: [Tapi aku sudah bayar kamarnya kok.]
Ia menatap layar. Ada sesuatu yang mengganjal. Anna menarik napas, kemudian mengetik lebih panjang.
Anna: [Aku gak minta apa-apa yah dari apa yang kita lakuin semalam. Aku gak ada maksud apa pun atau cari keuntungan dari kamu. Semua terjadi begitu aja. Aku paham kamu. Aku paham situasinya. Jadi aku harap kamu gak kepikiran.]
Pesan terkirim.
Anna meletakkan ponselnya. Jantungnya tidak tenang. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap kosong ke depan. Tetiba ponselnya bergetar. Anna langsung meraihnya.
Rey: [Aku bisa telepon?]
Anna langsung ketik: [Gak bisa.]
Balasan Rey datang cepat.
Rey: [Kita perlu ngobrol. Kepanjangan kalau ketik.]
Anna menggigit bibirnya. Ia tahu. Justru itu, ia tidak ingin bicara. Anna tidak mau semuanya jadi lebih rumit.
Anna: [Kamu tenang aja, aku gak akan cerita ke siapapun.]
Anna: [Aku beneran gak ambil keuntungan atau cari kesempatan dari ka.]
Belum sempat Anna menyelesaikan pesannya, layar tiba-tiba berubah.
Rey menelepon.
Jantung Anna langsung berdegup semakin kencang. Gemetar. Lemas.
Panggilan itu terus berdering.
Anna menatap layar beberapa detik.
Lalu, dengan tangan gemetar, ia menekan satu tombol.
Blokir.
Panggilan langsung terputus.
Di tempat lain, Rey terdiam bingung saat mendengar bahwa nomor Anna tidak dapat dihubungi.
Rey mencoba kirim pesan. Centang satu. Ia mencoba telepon sekali lagi. Tetap tidak bisa. Rey mengembuskan napas kesal berpikir apa Anna blokir nomornya?! Kenapa langsung tidak bisa terhubung?! Rey benar-benar tidak paham lagi. Dadanya tetiba menjadi panas karena emosi yang berkumpul. Semalam mereka begitu dekat. Paginya Anna pergi tanpa mengatakan apa-apa. Lalu sekarang dirinya justru ditutup sepenuhnya. Rey langsung lempar handphone hingga menggores meja. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Berusaha mengatur napasnya yang berantakan karena semakin tidak mengerti dengan pikiran Anna. Kenapa jadi mau menghapus kejadian semalam tanpa memberinya kesempatan untuk bicara?! Apa ia dirugikan?! Apa Anna tidak merasa dirugikan?!
****
Sepanjang perjalanan menuju Pondok Melati 3000 untuk liputan ulang, Anna hanya diam memandang luar jendela. Rey masih memenuhi pikirannya. Anna menggigit bibir, menahan kesal. Bukan hanya kepada Rey, tetapi juga kepada dirinya sendiri. Kenapa dia harus menyerahkan dirinya?
Hari sudah malam ketika Anna dan Ali sampai. Mereka kembali meliput tempat prostitusi itu.
Namun sejak kamera mulai merekam, konsentrasi Anna dan Ali justru semakin berantakan. Ali salah mengambil gambar terus, Anna juga salah mengucapkan kalimat, bahkan harus mengulang adegan yang sama berkali-kali. Keduanya main salah-salahan untuk hal yang memang sudah menjadi kesalahan mereka. Sampai akhirnya liputan itu selesai. Anna dan Ali langsung lega juga senang. Akhirnya mereka pulang dan jalan kembali menuju mobil.
Namun bagaimana jika langkah mereka terhenti begitu seorang wanita datang menghadang.
Anna terdiam melihat, Lika.
Sorot mata Lika yang tajam hanya tertuju pada Anna, "Kamu kerja disini?"
Langkah Anna sedikit mundur.
Tetiba ia panik.
Ada apa ini?
Kenapa Lika bicara padanya?
Kenapa Lika bisa disini?
"Maksudnya apa ya mbak?" tanya Ali.
"Ngapain kamu sama Rey semalem disini?!" bentak Lika maju mendekati Anna.
Deg. Anna gemetar mendengar itu. Ia bahkan bingung mau merespon bagaimana.
Ali terdiam memandang Anna.
"Am, sa, saya gak ngerti maksud kamu."
Lika ketawa menahan emosi lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan ke Anna tampilan sosial medianya.
Anna terdiam tidak percaya melihat fotonya dan Rey rangkulan, lari dan masuk kamar tersebar. Ali kaget juga melihat foto itu lalu melihat Anna.
"KAMU MASIH GAK NGERTI?!!" bentak Lika mendorong Anna hingga terjatuh.