Mungkin Nanti, Rey.

diarymilks
Chapter #11

Satu Per Satu Selesai

Tepat pukul, 11.00, warga menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Tani untuk menuntut keadilan bagi para korban tabrakan beruntun. Mereka mendesak pihak berwenang segera mengungkap pelaku yang hingga kini belum diketahui.

Anna yang berada di lokasi untuk meliput, menjalankan tugasnya dengan perasaan bimbang. Ia tidak hanya datang sebagai reporter tapi juga sebagai salah satu korban dalam kecelakaan tersebut. Setiap teriakan warga tentang keadilan, setiap foto korban yang diangkat ke udara, dan setiap cerita keluarga yang kehilangan orang terkasih kembali mengingatkannya pada kejadian yang masih belum sepenuhnya ia pahami. Di balik kamera dan mikrofon yang ia pegang, ia merasakan seperti ada luka yang sama-sama belum selesai.

Di studio TVS, Jessika turut menyiarkan berita mengenai aksi demonstrasi tersebut. Namun, di balik pembawaannya yang tetap profesional, ia merasa gelisah setelah mendengar cerita Anna bahwa Pak Sulistio mengetahui kebenaran di balik kasus tersebut.

Setelah menyudahi liputannya, Anna menepi dari kerumunan dan mengambil ponselnya. Entah kenapa, setelah mendengar tuntutan warga, perasaanya semakin gelisah.

Jarinya mengetik nama Rey, lalu mengirimkan pesan.

Anna: [Kamu ada di demo Tugu Tani gak?]

Tidak lama, balasan masuk.

Rey: [Enggak. Aku shift malam. Kamu di sana?]

Anna terdiam menatap layar. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya. Sepertinya Rey harus tahu kalau foto mobil berpelat RI itu memang penyebab kecelakaan dan kini ada di tangan Direksi TVS, Pak Sulistio. Anna buru-buru mengetik semua pesan itu. Maksud Anna, jika Rey memang membutuhkan foto itu, segera minta ke Direksinya. Selidiki sesuai prosedur. Lalu ungkap kebenaran bahwa pemilik mobil itu pelaku sesungguhnya.

Di kamarnya, Rey terdiam baca pesan Anna. Lalu, pesan baru muncul lagi:

Anna: [Tolong selesaikan ini, Rey.]

Rey berhenti cukup lama pada kalimat terakhir Anna. Ia langsung tekan tombol panggil namun tidak diangkat. Rey terpejam beberapa saat lalu menghela nafas dan segera beranjak.


****


Dua hari setelahnya, Rey mendatangi markas komando dengan sebuah map di tangannya. Langkahnya tegas dan cepat. Ekspresinya dingin, membuat beberapa anggota yang sempat menyapa memilih langsung diam setelahnya.

Rey masuk ke ruang Danki Irvan dan terdiam begitu melihat Eko juga ada disana. Rey langsung duduk, entah kenapa ia bersyukur atas kebetulan di pertemuan ini. Rey menyerahkan map itu dan minta dibuatkan surat tugas penyelidikan dan pemanggilan. Irvan bingung dan langsung buka map itu.

Irvan langsung terdiam melihat foto mobil pelat RI, flasdisk dan surat kesepakatan antara Kepolisian dan TVS yang ditandatangani oleh Rey sendiri, bahkan di surat itu tertera nama terduga pelaku penyebab kecelakaan. Eko pun juga terdiam melihat semua dokumen itu.

"Gimana kamu bisa dapat ini?" tanya Irvan.

"Saya bergerak, Ndan," jawab Rey.

Eko menatap Rey tajam.

Rey menghela nafas, "Saya muak lihat berita kasus ini. Setiap hari korban dibahas, demo makin besar, tapi kita gak melakukan apa-apa.”

"Bukan gitu Rey," potong Irvan.

"Polantas nggak ada penyidikan," lanjut Rey "Pleton yang bertugas malam itu juga nggak ada pergerakan.”

"Jangan bawa-bawa pleton gua, Rey!" tegas Eko.

"Kenapa?! Emang pleton lo yang disitu.”

"Lo pikir kami cuma diam?!"

"Terus apa yang udah lo lakukan? Beresin jalanan?! Damkar juga bisa!"

"Jaga ucapan lo ya!" Eko menunjuk Rey.

"Udah! Udah!" Irvan langsung melerai.

"Rey, semua bergerak berdasarkan perintah,” ucap Irvan tegas.

"Perintah siapa Ndan?! Perintah dari yang punya--"

"Perintah Ayahmu!" potong Irvan.

Rey langsung diam.

"Ayahmu minta kita tidak perlu ikut campur lagi masalah ini. Biar polantas yang meneruskan! Itu perintah dan prosedur! Kamu harus belajar memahami ini."

Rey tertawa pendek, getir, "Kalau dia minta komandan tembak orang. Apa komandang akan tembak?"

Eko langsung gebrak meja, "Lu mending diem Rey. Jangan buat kesabaran gua habis!"

"Ya bisa nyuruh gua diem Danki Irvan bukan lu!"

"Ya oke Rey!" potong Irvan "Terus kamu mau apa jadinya?!"

"Saya mau selesaikan masalah ini!"

"Sudah disetujui Ayah mu?!"

"Gak perlu persetujuannya!"

"Kalau gitu, saya gak bisa memberikanmu surat tugas."

"Tapi kita sudah tahu siapa pemilik mobil itu Ndan! Komandan cukup buatkan surat tugas pemanggilan. Sisanya biar saya yang selesaikan. Saya pernah kerja di Reskrim, ini mudah."

Irvan terdiam memandang Rey yang tetap bersih keras meminta dan mempermasalahkan kasus ini. Akhirnya Irvan berdiri setuju jika Rey memaksa. Rey mengangguk dan berterima kasih atas keputusan Irvan lalu ia beranjak pergi.

Eko terkekeh kesal dan menilai Rey semakin lama semakin sombong. Irvan setuju tapi ia memilih untuk tidak memperdulikan selama ini bukan pekerjaan struktural. Maksud Irvan, biarlah kalau Rey mau melakukannya. Toh, ini sudah bukan urusannya. Melainkan urusan seorang Ayah dan Anaknya yang keras kepala itu.


****


Suatu malam, di tepi jalan yang sudah sepi karena waktu hampir menunjukkan tengah malam, Rey masih terdiam di dalam mobilnya. Seminggu terakhir ini rasanya sangat penuh. Kasus kecelakaan Tugu Tani benar-benar menguras tenaga dan waktunya. Bahkan setelah semuanya mulai menemukan titik terang, pikirannya belum juga bisa beristirahat.

Pandangan Rey kembali jatuh pada map cokelat yang tergeletak di kursi sebelah. Di dalamnya terdapat hasil laporan dari interogasinya terhadap pemilik mobil berpelat RI itu. Potongan-potongan informasi tentang pelaku kecelakaan beruntun yang menewaskan puluhan orang.

Rey mengembuskan napas panjang. Tangannya kemudian meraih ponsel pribadi yang hampir tidak pernah ia sentuh selama beberapa hari terakhir. Begitu layar menyala, puluhan pesan memenuhi notifikasi. Nama Lika berada paling atas dengan jumlah pesan paling banyak. Rey hanya melihatnya sekilas. Jarinya kemudian menggulir layar, mencari satu nama yang sejak tadi sebenarnya ingin ia lihat.

Anna.

Ia membuka percakapan mereka. Pesan terakhir masih sama. Anna meminta Rey membantunya menyelesaikan masalah ini. Rey terdiam cukup lama. Kemudian ia mengetik, hari ini selesai. Ia menatap kalimat itu beberapa detik. Lalu menghapusnya. Jarinya kembali bergerak, sudah aku selesain. Kali ini Rey kembali diam. Entah kenapa, mengirim dua kalimat sederhana itu terasa jauh lebih sulit daripada menghadapi orang-orang yang sudah ia interogasi selama seminggu terakhir. Akhirnya, Rey langsung hapus dan mengunci layar ponselnya.


****


Bu Niar menghampiri Anna dan menyerahkan sebuah amplop.

"Ann, ini undangan pers untuk pelaku tabrakan beruntun."

Mata Anna langsung berbinar, "Ha? Serius Bu?!"

Anna langsung membuka amplop itu. Setelah berminggu-minggu kasus itu tidak menemukan titik terang, akhirnya ada hasilnya juga. Namun, baru beberapa baris dibaca, ekspresinya perlahan berubah. Ia terdiam. Matanya berhenti pada bagian identitas pelaku.

Inisial: AD?

Keterangan: Warga setempat?????

Kening Anna mengernyit membaca ulang bagian itu. Tidak ada nama pejabat. Tidak ada kendaraan berpelat RI. Tidak ada informasi yang selama ini ia cari. Warga setempat?!

Bu Niar hanya terdiam, ia paham apa yang Anna pikirkan. Anna langsung tutup dokumen itu dan beranjak bangun.

"Mau kemana?" tanya Bu Niar.

"Ketemu Pak Sulistio!" Anna langsung pergi.

"Anna! Anna!" panggil Bu Niar panik dan segera menyusul.

Anna terus jalan dengan langkah yang cepat. Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Kalau laporan ini benar, lalu siapa yang ia lihat di balik mobil berpelat RI waktu itu? Lalu siapa yang Pak Sulistio ajak negosiasi penawaran?! Apa benar hanya seorang warga setempat?! Anna sangat yakin tidak.

Lihat selengkapnya