Mungkin Nanti, Rey.

diarymilks
Chapter #12

Pondok Melati 3000

Bu Niar, Anna, Jessika, dan Ali duduk bersama tim program kreatif TVS. Di hadapan mereka, sebuah proposal program baru sudah terbuka di layar.

“Proposalnya sudah di acc,” jelas salah satu tim kreatif “Kita akan bikin program berita baru, namanya Telusur Malam. Episode pertama diserahkan ke tim Bu Niar untuk dieksekusi dengan tema Sisi Terang Prostitusi.”

Anna langsung terkekeh, “Program apa-apaan ini?”

Jessika ikut membaca proposal itu sekilas. “Bisa tayang emang?”

“Jam tayangnya dini hari,” jawab tim kreatif.

“Oh, jadi saya tapping?”

“Betul."

Jessika mengangguk.

“Kalau untuk liputan, Anna dan Ali yang akan turun langsung. Pengambilan gambar dilakukan tiga kali, siang, sore, dan malam, di Pondok Melati 3000.”

Ali mengernyit, “Harus di sana?”

Tim kreatif menatapnya kesal, “Memangnya mau di mana? Masjid?"

Semua langsung ketawa.

“Sudah,” potong Bu Niar sebelum perdebatan mereka semakin panjang “Lanjut saja.”

Tim kreatif membuka slide berikutnya.

“Untuk episode pertama ini ada bonus khusus. Kalau ratingnya mencapai target, seluruh tim akan mendapatkan bonus sebesar dua kali gaji.”

Anna yang sejak tadi terlihat malas-malasan, mendadak duduk tegak, “Dua kali gaji?”

“Iya.”

Anna menatap Ali, "Ali, ayo!"

Ali mengernyit “Ayo ke mana?”

“Liputan.”

Semua orang kembali ketawa. Bahkan Bu Niar hanya bisa menggeleng melihat perubahan semangat Anna yang begitu cepat.


****


Hari Pertama, Liputan Telusur Malam: Sisi Terang Prostitusi.

Anna dan Ali menelusuri kawasan Pondok Melati 3000. Dari luar, tempat itu tidak terlihat berbeda dari pemukiman lainnya. Rumah-rumah berdempetan, warung-warung kecil buka di pinggir jalan, anak-anak sekolah berlalu-lalang, sementara warga menjalankan aktivitas seperti biasa.

Ali dengan kameranya mulai merekam. Anna menghampiri beberapa warga yang sedang menjalankan usaha kecil mereka untuk melakukan wawancara.

“Sehari-hari jualan di sini Bu?” tanya Anna.

“Iya, Mbak. Lumayan. Banyak orang yang datang ke sini, jadi kita ikut cari rezeki.”

“Kalau soal aktivitas malam di kawasan ini, terganggu nggak Bu?”

Beberapa warga saling berpandangan sebelum salah seorang menjawab.

“Ya namanya kita warga kecil, Mbak. Kalau dari pekerjaan yang orang bilang hina saja kita masih bisa dapat uang, ya Alhamdulillah.”

Anna terdiam.

Kamera masih mengarah kepadanya. Jawaban itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat.

Begitulah kehidupan. Tidak selalu memberikan apa yang kita mau. Kadang manusia hanya belajar menerima apa yang masih bisa mereka dapatkan.

Anna kemudian melanjutkan wawancara dengan beberapa anak yang baru pulang sekolah.

“Sekolah di mana, dek?”

Salah seorang anak menyebutkan nama sekolahnya.

“Betah tinggal di sini?” tanya Anna lagi.

“Betah!”

“Kenapa?”

“Seru!”

Anna tersenyum.

“Kalau sudah besar nanti mau jadi apa?” tanya Anna antusias.

“Polisi!”

“Dokter!”

“Guru!”

“Lonte.”

Ali yang berada di belakang kamera langsung tertawa.

Anna membelalak, “Cut!”

Anak-anak itu malah ikut tertawa.

Anna kemudian berjongkok di hadapan mereka.

“Dengar, ya. Apa pun keadaan kalian, kalian tetap harus sekolah. Kalian boleh punya cita-cita apa saja. Yang penting, jangan berhenti belajar dan jangan merasa masa depan kalian ditentukan oleh keadaan kalian saat ini.”

Anak-anak itu mengangguk, meski beberapa masih menahan ketawa.

Hari mulai beranjak sore ketika Anna dan Ali kembali menyusuri kawasan tersebut. Langkah Anna mendadak terhenti.

Seorang pria paruh baya berdiri di depan sebuah tembok. Tangannya sibuk menempelkan selembar brosur.

ANAK HILANG.

Foto seorang remaja putri terpampang di sana. Anna memperhatikannya dari kejauhan. Ali ikut melihat.

“Jangan-jangan itu anak diculik tamu,” katanya pelan.

Anna langsung menoleh, “Jangan mikir yang enggak-enggak.”

“Tapi masuk akal, kan?”

“Belum tentu.”

Anna segera menghampiri pria itu, “Pak?”

Pria itu menoleh.

“Ini anak Bapak?”

“Iya.”

“Anaknya hilang sejak kapan?”

Pria itu kembali menatap foto di tangannya, “Minggu lalu.”

“Pergi ke mana?”

“Katanya izin belajar kelompok. tapi setelah itu nggak pulang.”

Anna terdiam.

“Sudah lapor polisi, Pak?”

Wajah pria itu seketika berubah, “Sudah! Disuruh tunggu! Dibilang masih diproses. Tapi sampai sekarang nggak ada kabar!”

Anna mencoba menenangkan.

“Pak, mungkin memang masih,”

“Masih apa?”

Pria itu menatap Anna dengan mata yang mulai memerah.

“Masih belum ada uanganya? Iya! Saya gak punya uang! Saya cuman punya anak saya aja!"

Anna terdiam.

“Anak saya harus pulang dalam keadaan mayat dulu baru mereka gerak."

Ali menurunkan kameranya.

Anna menarik napas pelan, “Pak, saya bisa bantu beritakan.”

Pria itu menatapnya.

“Saya reporter.”

Anna mengeluarkan kartu pers dari dompetnya dan menunjukkannya. Pria itu hanya menatap kartu tersebut beberapa detik. Tidak berkata apa-apa. Kemudian ia memasukkan sisa brosur ke dalam tas dan pergi meninggalkan mereka. Anna memperhatikannya sampai pria itu menghilang di antara rumah-rumah.

Ali mendekat, “Kayaknya bapaknya sudah pasrah.”

Anna tidak menjawab. Ia langsung ambil brosur anak hilang yang tertempel di tembok. Kemudian membuka ponselnya, mencari nama Rey. Mengirimkan foro brosur itu.

Anna: [Rey, bisa bantu cari tahu anak ini?]

Beberapa saat kemudian, balasan masuk.

Rey: [Lokasinya di mana?]

Anna: [Pondok Melati 3000.]

Rey: [Aku cek data laporan dulu yah.]

Anna membaca pesan itu. Jarinya sempat berada di atas keyboard. Namun ia tidak balas lagi dan memasukkan ponselnya kembali ke tas. Anna sebenarnya tidak berharap banyak semenjak Rey menyelesaikan mobil pelat RI itu. Tapi hanya ini yang bisa ia lakukan untum membantu bapak itu. Kebetulan ia punya teman seorang polisi. Entahlah apa Rey benar-benar bisa membantu atau tidak, Anna tidak tahu.

Anna kembali jalan mengikuti Ali, sementara kamera mulai merekam suasana sore Pondok Melati 3000.

Tanpa mereka sadari, liputan yang awalnya hanya ditujukan untuk memperlihatkan sisi terang dari sebuah kawasan gelap, perlahan mulai membuka sisi lain yang jauh lebih kelam.


****


Malam itu, Rey bersama beberapa anggotanya melakukan patroli ke kawasan Pondok Melati 3000. Informasi yang mereka pegang sederhana: seorang remaja puteri dilaporkan hilang.

Namun begitu memasuki wilayah itu, Rey langsung menyadari sesuatu. Lampu-lampu rumah menyala redup. Beberapa perempuan berdiri di pinggir jalan dengan pakaian terbuka, sementara sejumlah pria keluar-masuk rumah dan gang sempit.

Rey mengernyit, “Ini tempat apa?”

Salah satu anggotanya menjawab pelan, “Kawasan prostitusi, Komandan.”

Rey mengangguk, “Dengar. Kita malam ini bukan razia.”

Para anggota menoleh.

“Fokus kita satu. Cari orang hilang. Jangan bikin situasi berubah jadi keributan kalau nggak perlu.”

“Siap.”

Rey melihat peta di ponselnya.

“Bagi dua. Tim satu ke sisi utara. Tim dua ikut saya ke bagian belakang. Kalau menemukan sesuatu yang berkaitan dengan laporan anak hilang, langsung kabari.”

“Siap, Komandan.”

Mereka berpencar.

Langkah kaki dan suara radio menjadi satu-satunya suara yang terdengar di beberapa bagian kawasan itu.

Kehadiran Rey dan para anggotanya perlahan membuat suasana berubah. Beberapa tamu buru-buru pergi. Perempuan-perempuan yang berdiri di pinggir jalan masuk ke rumah masing-masing dan tutup pintu juga jendela. Lampu beberapa rumah mendadak dimatikan

Namun Rey dan anggotanya terus bergerak menelusuri jalan, gang dan tiap rumah.

“Komandan.”

Salah seorang anggota memanggil dari ujung gang.

Rey menghampiri, “Ada apa?”

“Tadi kami dapat informasi dari warga. Ada rumah di belakang sana yang sering didatangi orang malam-malam.”

“Di mana?”

“Dekat sawah.”

Rey langsung memberi isyarat, “Ke sana.”

Mereka bergerak cepat melewati jalan tanah menuju sebuah rumah yang berdiri agak jauh dari pemukiman. Dari luar terlihat sepi. Namun terdengar suara gaduh dari dalam. Rey saling pandang dengan anggotanya.

“Siap?”

“Siap.”

Rey mengetuk keras, “POLISI!”

Tidak ada jawaban.

“Buka pintu!”

Suara langkah kaki terdengar dari dalam. Rey langsung memberi isyarat. Pintu didobrak.

BRAK!

“POLISI!”

Suasana di dalam rumah langsung kacau. Beberapa orang berusaha berlari ke belakang. Tiga pria langsung mengambil kesempatan untuk kabur.

“Kejar!”

Anggota Rey segera berpencar. Sementara Rey masuk lebih dalam. Ia terdiam. Di dalam ruangan sempit itu terdapat banyak remaja perempuan. Beberapa duduk di lantai. Sebagian menangis. Ada yang hanya diam menunduk, seolah sudah terlalu takut untuk bereaksi.

“Tenang. Kami polisi.”

Rey menurunkan suaranya, “Kalian aman sekarang.”

Dari luar terdengar suara langkah kaki para anggota yang mengejar pelaku.

“Ke kanan!”

“Jangan lari!”

Suara gaduh itu terus berlangsung hingga larut malam. Satu per satu pelaku berhasil diamankan.

Para remaja dibawa keluar dari rumah tersebut dan dikumpulkan di tempat yang lebih aman.

Waktu terus berjalan. 01.17. 02.06. 02.43. Hingga akhirnya jarum jam menunjukkan 03.00 dini hari.

Rey sedang memeriksa data para remaja ketika seorang anggota menghampiri.

“Komandan.”

Rey menoleh.

“Yang ini.”

Anggota itu menyerahkan sebuah data identitas. Rey membacanya. Kemudian kembali melihat wajah salah satu remaja perempuan yang duduk tidak jauh dari mereka. Nama di data itu sama persis dengan nama pada brosur yang dikirim Anna.

Rey terdiam.

“Ini anak yang kita cari."

Ia menatap remaja itu sekali lagi. Anak yang selama seminggu dinyatakan hilang. Ternyata berada di tempat ini.


****


Keesokan paginya.

Anna duduk diam di depan meja kerjanya. Matanya terpaku pada berita yang memenuhi media sosial.

POLISI GEREBEK TEMPAT PENYEKAPAN REMAJA DI PONDOK MELATI 3000.

Di bawah judul itu terdapat video klarifikasi. Anna menekan tombol play. Wajah Rey muncul di layar.

“Petugas menerima informasi terkait laporan orang hilang dan kemudian melakukan penelusuran di kawasan Pondok Melati 3000. Dari hasil penelusuran, ditemukan sejumlah remaja yang diduga menjadi korban penyekapan. Kami akan tindak lanjuti untuk kawasan tersebut ke bagian pemprov Jakarta agar direlokasi.”

Anna membeku. Rey benar-benar datang ke sana. Dan bukan sekadar datang. Rey menemukan anak yang ia kirimkan fotonya semalam. Anna segera membuka kontak temannya yang bekerja sebagai reporter lapangan shift malam untuk memastikan tayangan itu. Temannya membenarkan. Ia ke kantor polisi meliput Rey yang memberi keterangan.

Anna masih menatap layar ponselnya, tetiba suara Bu Niar terdengar dari belakang.

“Anna!”

Lihat selengkapnya