Pagi itu, Anna masih berdiri depan cermin sambil memegang spons bedak. Beberapa kali ia menepuk-nepukkan perlahan ke pipi, berusaha menutupi memar yang masih terlihat jelas di wajahnya. Selain hari ini ada liputan, ia juga tidak nyaman kalau ada yang mempertanyakan wajahnya.
Setelah rapi yang meski masih terlihat walau tidak kontras. Anna ambil tas dan buka pintu. Langkahnya terhenti begitu lihat mobil Rey sudah ada disana.
Deg.
Jantung Anna berdegup.
Anna tiba-tiba panik dan langkahnya agak mundur. Namun klakson mobil Rey langsung menyadarkan lamunan Anna yang buru-buru kunci pintu. Ia langsung teringat kalau Rey bilang mau ketemu hari ini tapi ia tidak sangka kalau akan sepagi ini. Saat ia mau berangkat kerja. Anna jalan menghampiri dengan langkah dan ekspresi bingung. Haruskah ia masuk atau ia bilang saja mau pergi kerja? Anna benar-benar bingung harus bagaimana.
Jendela mobil tiba-tiba turun. Anna langsung noleh, memandang Rey yang memintanya naik. Anna pun mengangguk dan masuk mobil. Namun selama Anna masuk dan sibuk dengan sabuk pengaman. Selama itu juga Rey terus memperhatikannya.
"Wajah kamu kenapa?"
"Ha?" panik Anna "Jatuh."
Rey masih memandangi bawah mata, pipi dan ujung bibir Anna yang memar.
"Udah ke rumah sakit?"
"Udah," jawab Anna cepat dan menahan gemetar jari-jarinya.
Rey terdiam melihat itu lalu langsung lajukan mobil.
Beberapa saat hanya hening oleh keduanya. Sesekali Anna memandang ke Rey, bingung mau mulai bicara darimana. Rey juga hanya diam. Sementara Rey masih merasa aneh saja, jatuh mana yang luka hanya di wajah? Ia noleh ke Anna yang masih memandanginya.
"Kamu jatuh dimana?"
"Aku udah punya solusinya, Rey."
Mereka bicara bersamaan.
Rey terdiam.
Anna langsung duduk hadap Rey, "Am, kayaknya foto-foto kita itu disebar sama media yang dateng. Aku gak kenal mereka. Jadi aku gak bisa minta mereka hapus foto kita."
"Iya, gapapa, udah kesebar juga."
"Aku gak mungkin jelasin yang sebenarnya, Rey. Karena pasti itu akan rusak nama kamu. Pekerjaan kamu. Tapi diam aja gak mungkin. Semua orang semakin nilai kamu buruk. Jadi, kamu jelasin aja kalau foto-foto itu gak benar."
Rey diam saja. Bahkan Anna sama juga seperti keluarganya, Lika, Irvan, semuanya, memintanya bilang itu tidak benar.
Lanjut Anna, "Kamu jelasin aja kalau gak sengaja ketemu aku disana. Aku gapapa sama apapun penjelasan kamu asalkan semuanya bisa selesai."
"Terus kamu gimana?" tanya Rey.
Anna menunduk.
Rey jadi kesal, "Kamu sendiri tahu apa yang kita lakuin disana kan? Kamu mau bilang itu gak benar?! Yang kita lakuin malam itu gak benar?!"
"Rey, masalahnya bukan itu."
"Aku gak akan dipecat karena aku gak pakai seragam dan Ayahku kapolda. Jadi gak usah pikirin reputasiku, Ann. Polisi memang gak akan pernah dipercaya orang dan aku gak peduli sama penilaian mereka."
"Terus gimana sama hubungan kamu?"
Rey terdiam.
"Pasti hubungan kamu berantakan kan gara-gara ini. Semua orang kira kamu selingkuh sama aku."
"Kalau udah tidur bareng, ya namanya selingkuh."
"Tapi kan enggak!" kesal Anna.
Rey memandang Anna.
Anna gugup, "Kita kan gak sengaja malam itu. Kita sama-sama gak sadar. Semua terjadi gitu aja. Aku paham Rey dan aku gapapa kalau kamu jelasin apapun demi hubungan kamu baik-baik aja."
"Aku udah putus."
Anna terdiam. Sudah ia duga.
"Dan itu bukan karena kita tidur bareng. Jadi, gak ada hubungan sama kamu."
"Tapi semua orang nilai dari apa yang mereka lihat," ucap Anna memandang ke luar jendela "Pekerjaan kamu akan berhadapan sama mereka. Gimanapun butuh kepercayaan mereka. Suatu saat kamu kerja dengan benar, gimana kalau itu tetap dianggap salah karena mereka gak percaya."
Anna pandang Rey, "Maksud aku, kamu juga harus pikirin diri kamu sendiri, Rey."
"Kamu sendiri gimana?" tanya Rey memandang Anna "Dari tadi yang kamu pikirin cuma aku."
Anna terdiam gugup, jari-jarinya semakin gemetar.
Rey raih tangan Anna.
Anna terkejut tahan tangannya,
"R, Rey!"
Rey tetap pegang tangan Anna. Mengaitkan jari-jari mereka.
"Aku gak mau jelasin apapun itu karena aku juga mikirin kamu, Ann."
Anna benar-benar bingung gimana menghadapi Rey. Rey sadar tidak yah dengan sikap dan ucapannya. Kayaknya tidak.
Hingga mereka sampai di TVS.
"Kamu hati-hati," ucap Rey "Jangan jatuh lagi."
"Kamu pikirin lagi yah apa yang aku bilang."
Rey hanya berdehem, ia capek.
"Setidaknya kalau mereka nilai kamu buruk, itu disimpan aja, gak disampain terus-terusan kayak sekarang. Kamu gak keganggu apa? Aku pergi yah."
Anna langsung keluar.
****
Jessika panik buru-buru menemui Anna di meja kerja. Anna yang sedang ketik artikel langsung noleh, apa lagi sekarang?
"Kak, Bu Niar minta gue beritain hari ini kalau lu disana karena liputan terus ketemu Eko dan Rey yang memang sudah ada disana."
Anna terdiam bingung.
"Gue diminta up foto Eko."
"Duh, Bu Niar kenapa jadi gini sih," Anna langsung keluarkan handphone.
"Yah, ya sebenarnya wajar sih, Rating kita udah turun 50%."
Anna kaget mendengar itu. Jessika hanya menghela nafas.
Anna langsung kirim pesan ke Rey bahwa ia minta Rey jelasin sesuatu tentang foto mereka kalau itu tidak benar sebelum kantor nya yang beri penjelasan duluan. Anna bahkan minta Rey paham kalau ini sangat serius.
Tidak lama, pesan Rey masuk: bagus kalau Anna mau yang menjelaskan. Ia tidak ada waktu merangkai kata-kata.
Anna benar-benar kesal.
****
Berita mengenai klarifikasi TVS atas isu miring yang menyeret salah satu reporternya, Anna, akhirnya muncul.
Dalam pemberitaan, TVS menjelaskan bahwa Anna dan Ali memang ditugaskan untuk melakukan liputan di lokasi kejadian. Saat menjalankan tugas, keduanya tidak sengaja menemukan Eko di tempat tersebut. Foto Eko pun ditampilkan. Sementara itu, keberadaan Rey belum diketahui motifnya, saat ini diduga ingin menemui Eko, karena mereka adalah Komandan Pleton. Keberadaan Anna bersama Rey murni karena profesi dengan tujuan berbeda pada lokasi tersebut.
Dalam hitungan jam, berita itu mampu meredam sorotan publik pada TVS dan beralih ke media kepolisian.
Bahkan banyak masyarakat mengungkit banyak kasus yang gagal ditangani polisi bahkan sangat janggal hasilnya. Mereka menuntut kepolisian dibubarkan. Banyak mala praktik. Bekerja hanya kalau ada uang saja. Pantas tidak terlihat bekerja, karena kerjanya ditempat prostitusi. Krisis kepercayaan. Bubarkan Polisi!
Anna yang sedang liputan di luar benar-benar jadi tidak fokus. Ia terus cek media sosial. Muncul lah foto rumahnya dulu yang terlihat kecil dan dipemukiman pinggir kota. Anna langsung lewati saja. Sebenarnya ia bingung bagaimana mereka bisa dapat semua informasi tentangnya. Tapi itu nanti dulu. Terpenting adalah Rey. Meski anak seorang kapolda tapi Anna yakin Rey pasti tidak akan nyaman dalam kondisi seperti ini. Anna langsung screenshoot media sosial Rey dimana komentar-komentar itu sudah mencapai puluhan ribu.
Anna kirim itu ke Rey:
[Kamu mau terus diem?]
Rey: [Biarin aja, aku gak main media sosial.]
Anna kesal banget.
[Katanya tugas kamu melindungi. Tapi lindungi diri kamu sendiri aja gak bisa.]
****
Keesokan harinya, Irvan datang ke kantor TVS seorang diri untuk bertemu Bu Niar. Irvan membicarakan pemberitaan TVS yang melebar dan berpotensi menyeret bahkan merugikan lebih banyak pihak.
Bu Niar kesal, "Saya juga dirugikan karena ulah anak Komandan!"
"Iya bu, saya paham," ucap Irvan "Tapi apa Anna memang tidak salah disini? Pasti ada yang Anna lakukan sampai Rey ikut masuk kamar."
"Itu karena Anna lindungi Rey dari media yang tiba-tiba datang."
"Kenapa media bisa tiba-tiba datang?"