Pagi itu, langkah Anna terhenti di teras begitu mau berangkat kerja dan melihat mobil Rey sudah tiba di depan.
Anna terdiam memandang itu. Entahlah, ada bagian dari dirinya yang senang melihat Rey, tapi kepalanya terasa begitu penuh. Tapi jika dikatakan ia tidak nyaman, tapi rasanya juga lega dan beruntung Rey datang karena ada yang mau ia sampaikan. Itu kenapa ia langsung jalan menghampiri bahkan langsung masuk mobil tanpa ragu.
Namun bagaimana jika rasa tidak nyaman yang sejak tadi mengganjal itu tetiba mereda begitu Anna lihat Rey tampak segar, wangi dan tampan. Anna terkesima memandang Rey yang memang sangat tampan sejak dulu.
"Pagi," ucap Rey tersenyum sambil melajukan mobil.
Anna tersadar dari lamunannya, "Am, kamu kenapa pagi-pagi dateng?"
"Aku shift malem," ucap Rey "Gak ada kerjaan kalau pagi, makanya aku dateng."
Anna berdehem. Dalam hatinya bingung gimana mau menyampaikan keresahannya.
Rey noleh ke Anna dan tersenyum, "Tapi kalaupun shift pagi. Aku akan tetap jemput kamu kok."
"Rey, bisa hapus foto kita gak?"
Senyum Rey memudar. Bahkan ia baru menyadari ekspresi Anna terlihat serius.
"Foto yang mana?" tanya Rey.
"Yang kamu posting semalem."
Rey diam saja.
Anna menghela nafas, "Masalah kita baru selesai, media sosial baru tenang. Kamu malah posting aku."
"Ya terus kenapa?" bingung Rey "Masih ada yang komentarin kamu? Mereka masih jelek-jelekin kamu? Jelekin keluarga kamu? rumah kamu?"
Anna terdiam memandang Rey. Ia semakin tidak nyaman mendengar itu karena berarti Rey memang sudah tahu apa yang terjadi di media sosial tentangnya. Tahu bagaimana orang-orang menyebutnya, menilainya. Tetiba jemari Anna kembali gemetar tapi berusaha ia tahan.
"Masih?" tanya Rey lagi.
"Aku minta hapus sekarang juga!"
"Kamu jawab dulu pertanyaan aku."
"Masih atau enggak, aku gak suka foto aku kamu posting!" kesal Anna.
Rey terdiam.
Lanjut Anna, "Kalo kamu mau, posting foto kamu sendiri aja! Jangan bawa-bawa aku!"
Rey benar-benar kesal mendengar itu. Ia langsung ambil handphone, buka media sosialnya lalu hapus foto mereka. Bukan, bukan karena mengalah. Tapi karena kesal Anna marah hanya karena sebuah foto. Bahkan akun mereka juga tidak saling terhubung meski ia sudah minta mengikuti duluan.
"Udah," ucap Rey dingin dan taruh handphonenya asal.
Anna bisa merasakan perubahan suasana di antara mereka. Dari sudut matanya, ia tahu Rey sedang marah. Nada bicaranya yang mendadak dingin, rahangnya yang mengeras, hingga caranya menatap lurus ke depan sudah cukup menjelaskan semuanya. Namun, Anna juga tidak bisa pura-pura baik-baik saja.
"Kamu kan juga baru putus," Anna coba jelaskan alasan keresahannya "Aku gak mau semakin dinilai sebagai orang ketiga, apalagi mereka tahu aku--"
"Emang di foto itu kita lagi pacaran?" potong Rey.
Anna terdiam memandang Rey.
Lanjut Rey, "Emang aku bilang kamu pacar aku?! Itu cuma foto! Kenapa kamu kayak ngerasa kita punya hubungan?!"
"Aku gak ngerasa gitu."
"Ya tapi kamu berlebihan?! Aku juga sering posting cewek lain! Mereka biasa aja gak kayak kamu."
Tangan Anna sudah tidak lagi gemetar melainkan mengepal penuh kekesalan memandang Rey.
"Ya kalau gitu posting aja mereka, jangan aku!" Anna langsung hadap ke luar jendela.
Rey juga tidak menanggapi lagi dan hanya menyetir saja.
Suasana hening itu berlangsung sampai mobil Rey tiba depan pintu Lobby TVS. Anna langsung buka sabuk pengaman dan buka pintu yang langsung terbuka. Anna terdiam lalu menoleh ke Rey yang masih memandang ke luar jendela.
"Aku juga gak suka kamu tiba-tiba dateng," ucap Anna lagi.
Rahang Rey mengeras.
Lanjut Anna, "Kalau kamu mau aku biasa aja, kamu juga harus biasa aja. Jangan lakukan apa-apa. Tiba-tiba datang jemput kayak tadi itu berlebihan."
Rey langsung noleh, "Yaudah, aku minta maaf kalau pagi ini udah ganggu kamu!"
"Iya, aku minta maaf juga kalau udah berlebihan!"
Anna langsung keluar dan pergi dengan kesalnya.
Tapi Rey tidak pergi. Matanya terus mengikuti Anna yang jalan memasuki lobby. Sampai gadis itu benar-benar hilang dari pandangannya, Rey injak pedal gas sedikit lebih dalam. Mobilnya melaju meninggalkan gedung dengan cepat dengan gemuruh kekesalan yang masih memenuhi dadanya. Sial!
Rey sungguh tidak paham apa yang ada di pikiran Anna. Hanya karena foto mereka semasa sekolah, Anna marah padanya. Bahkan mempermasalahkan niat baiknya. Apa ia tanpa alasan melakukannya?! Apa ciuman mereka semalam tidak ada artinya?! Apa ia tidak berpikir panjang saat menyerahkan dirinya?! Jika ia cowok brengsek, ia tidak mungkin akan sekecewa ini. Masalahnya, ia tidak ada niat main-main selama ini.
****
Di TVS, saat jam istirahat siang tiba, Jessika keluar dari meja kerjanya dan melipir ke meja Anna yang masih berkutat depan laptopnya.
"Kak, kemarin lu sama Rey ngapain aja?" tanyanya dengan senyum penuh arti.
Anna tetap menatap layar laptop. "Ngapain apanya?"
"Habis pelukan di lobby ngapain?" gumam Jessika "Sepanjang pulang, Bu Niar ngoceh terus soal Rey tiba-tiba peluk lu. Padahal kan gemes yah."
Jessika jadi mengingat seluruh cerita Anna tentang Rey. Jessika sudah duga kalau Rey memang punya perasaan untuk Anna. Tidak mungkin Rey selalu datang, mencari Anna, dan menunjukkan perhatian kalau memang tidak ada yang istimewa. Menurut Jessika, ini kesempatan yang tidak boleh Anna sia-siakan mengingat Anna juga menyukai Rey sejak lama. Lebih tepatnya, mungkin ini sudah waktunya untuk mereka bisa bersama.
"Jess, bisa diam gak!" kesal Anna menoleh.
Jessika langsung diam dan menatap Anna bingung, "Kenapa?"
"Lu cerita, gue jadi salah ketik terus."
Jessika melirik layar laptop Anna dan langsung tersenyum begitu baca nama Rey di artikel itu.
Jessika ketawa, "Ah, gue ngerti, emang gini nih kalo lagi jatuh cinta."
"Enggak, gue justru lagi kesel."
Tawa Jessika mereda apalagi ekspresi Anna juga tidak menunjukan kegembiraan.
"Kesal sama siapa? gue?" tanya Jessika "Gue cuma cerita doang. Lagian udah jam istirahat masih aja kerja."
"Gue kesal sama Rey."
Jessika mengernyit dan agak duduk mendekat, "Kenapa sama dia?"
Anna terdiam beberapa saat lalu menghela nafas, "Dia selalu lakuin apapun sesukanya tanpa pikirin orang-orang disekitarnya. Dia baru putus. Dia juga tahu apa yang orang-orang bicarain tentang gue di media sosial tapi dia tetap posting foto gue. Dia tiba-tiba peluk gue di tempat umum padahal masalah kita belum yang selesai banget. Dia tuh kayak biarin semua orang menilai gue semakin buruk."
Jessika tidak lagi tersenyum, "Am, Lu udah jelasin ke Rey Kak?"
"Udah! Dia bilang gue berlebihan!" Anna benar-benar kesal "Dia gampang bilang gitu karena dia disukai banyak orang, kerjanya terjamin, anak kapolda dan orang kaya."
Anna menarik napas, mencoba meredakan sesak yang kembali muncul setiap kali mengingat kejadian pagi tadi.
"Sementara gue? Gue harus hadapi komentar buruk orang-orang tentang gue, tentang keluarga gue, tentang pekerjaan gue. Gue kapan aja bisa dipecat kalau komentar buruk tetap datang. Rey gak pikirin itu."
"Kak, menurut gue itu gak ada hubungan sama Rey," potong Jessika "Lu udah tanya Rani, benar dia yang sebar semua informasi keluarga lu itu?"
Anna terdiam.
Lanjut Jessika, "Gue ngerti apa yang lu rasain. Tapi ada atau gak ada Rey. Kalau Rani ternyata yang sebar informasi tentang lu. Lu dan keluarga lu akan tetap dinilai buruk semua orang."
Anna tidak merespon, kepalanya penuh memikirkan banyak hal.
"Lu udah tanya Rani belum?" tanya Jessika lagi.
Anna menghela nafas dalam-dalam, "Justru Rani lakuin itu semua karena gue deket sama Rey."
Jessika terdiam bingung dan tidak percaya, "Maksudnya? Jadi, jadi dia beneran yang lakuin itu Kak?!"
Anna mengangguk, "Gue udah tanya dia, dan semalam dia jelasin semuanya di telepon. Alasan kenapa dia sebar informasi tentang gue dan keluarga gue. Dia gak suka gue deket Rey."
Jessika terdiam memandang Anna yang sangat menunjukkan raut wajah kecewa.
"Lika marah sampai pukul gue. Rani, sahabat gue pun khianatin gue. Semua karena Rey. Gue udah minta Rey jelasin apapun untuk menyangkal foto kita. Rey gak mau."
Anna menghapus airmatanya yang tiba-tiba keluar padahal ia tidak berniat menangis. Ia hanya sedih banget aja.
"Lu harus laporin Rani ke polisi kak, supaya dia berhenti."
Anna menggeleng, "Gak usah. Mereka kayak gitu karena gue biarin Rey terus dateng. Itu kenapa gue minta Rey gak usah dateng lagi. Harusnya setelah ini hidup gue akan jadi lebih baik."
Jessika terdiam dan mengusap punggung Anna karena Anna semakin menangis.
Sampai sore harinya, handphone Anna bunyi muncul panggilan masuk dari Rey. Anna yang masih kerja terdiam lihat itu tanpa berniat angkat. Anna menghela nafas karena lelah harus bersikap kayak gini terus. Ia lelah terus menghindar dari Rey. Lelah harus bersikap kekanak-kanakan dengan blokir nomor. Anna biarkan dering itu berhenti dengan sendirinya. Tidak lama, ia langsung kirim pesan ke Rey.
Anna: [Kenapa Rey? Aku lagi liputan di luar.]
Rey: [Dimana?]
Anna: [Di Palmerah.]
Rey: [Ayo ketemu sebentar. Aku jemput kamu.]
Anna: [Gak bisa. Aku masih liputan.]
Rey: [Kapan bisanya? besok?]
****
Besok paginya, saat bangun, Rey langsung cek handphone dan belum ada balasan lagi dari Anna. Rey telepon Anna. Tidak diangkat. Rey terpejam menahan kesal. Ia telepon lagi. Tetap tidak diangkat. Rey kirim pesan kalau ia akan jemput Anna. Untuk beberapa menit, tetap tidak ada balasan. Rey segera bangun dan masuk kamar mandi.
Satu jam setelahnya, mobilnya benar-benar sampai rumah Anna. Jam yang harusnya Anna masih ada tapi seperti sudah tidak ada karena lampu rumahnya sudah mati. Rey lihat lagi pesannya yang belum juga dibalas. Lalu ia telepon Anna lagi.
"Halo Rey," ucap Anna angkat.
"Aku depan rumah."
"Aku udah di jalan. Gak lihat pesan kamu."
"Kamu sibuk banget ya sampe gak lihat handphone?!"
"Iya, lagi banyak liputan, aku udah mau sampe, dah."
Panggilan terputus tanpa mengijinkan Rey bertanya lagi.