Musang Hendak Memburu Bulan

Fadilah Karsono
Chapter #1

Satu

Saat menjatuhkan termos biru peninggalan ayahnya, Rukayah belum lama terbangun dari tidur. Ia terkejut bukan main dan sisa kantuknya segera menghilang. Sembari memegangi pinggangnya perlahan ia berjongkok untuk memeriksa apa termos itu baik-baik saja. Sebelum berhasil meraih termos ia merasakan air panas mengalir ke telapak kakinya, ia mengaduh dan hampir terjungkir ke belakang demi menjauhkan kakinya dari lantai. Rukayah memutuskan untuk merangkak ke arah karpet hijau tak jauh dari situ, menjauh dari tumpahan air panas. Ia mengelap kakinya dengan handuk yang sedari tadi bertengger di bahunya, sesekali ia meniup-niup ke arah kakinya. Ia tahu tak ada gunanya. Sudah lama sekali sejak ia tak bisa lagi dengan mudah membungkukkan tubuhnya atau mebengkokkan kakinya jauh-jauh. Sesekali yang lain ia hanya menatap termos itu terkapar di lantai dekat meja makan, tempat sebelumnya penyimpan air panas itu berada. Air sudah menyebar mengikuti garis tepi keramik lumayan luas, agaknya air panas di dalam termos tadi masih penuh. Rukayah masih memegangi kakinya saat mendengar derap langkah kaki mendekat.

“Mamah!”

Ia menoleh. Ningsih menghampirinya dengan wajah yang panik dan bertanya ada apa. Rukayah menjawab tidak ada apa-apa, hanya tidak sengaja menjatuhkan termos Mbah. Ningsih menengok ke arah meja makan, menarik napas dalam-dalam. Ia melarang saat ibunya hendak berdiri dan berbisik akan membereskan. Ningsih saja, katanya sambil memeriksa kaki Rukayah. Setelah mengambil sebaskom air dingin dan dua handuk kecil dari dapur ditiup-tiupinya kedua kaki ibunya bergantian, yang tidak bisa dilakukan oleh Rukayah sendiri. Ia mengompres kedua kaki Rukayah masing-masing dengan handuk kecil yang dibasahi air dingin setelah sebelumnya menaruh handuk ibunya di jemuran kecil di pojok ruangan. Sebelum Ningsih mengepel lantai, ia mengambil termos dan mengeceknya.

“Ada retak sedikit, Mah.” Mendengarnya Rukayah tampak kecewa. “Tidak apa-apa, Mah, sudah saatnya beli yang baru.”

“Mbah dulu berpesan harus dijaga baik-baik.” Suaranya terdengar serak, ada air mangalir di wajahnya.

“Mamah jangan sedih.” Ningsih meletakkan termos di meja makan lalu mendekati ibunya.

“Tangan Mamah terasa lemas, termosnya berat sekali tadi,” kata Rukayah sembari mengusap air matanya. Ningsih memeluknya.

“Wajar, Mah, termosnya masih penuh tadi.”

“Biasanya Mamah kuat. Sepertinya sakit Mamah kambuh.”

“Kenapa lagi, Mah?”

“Antar Mamah periksa, ya? Lidah rasanya perih juga.”

“Mamah itu tidak apa-apa. Setiap kali periksa, dokter selalu menyimpulkan hal yang sama. Mamah itu sehat tapi kurang makan, lihat Mamah sekarang kurus sekali. Mungkin karena itu tangan Mamah lemas…”

“Dokter berkata Mamah tidak boleh makan selain nasi dan sayur-sayuran, tidak boleh yang berminyak, tidak boleh pakai micin, tidak boleh banyak-banyak…”

“Tidak pernah, Mah. Dokter tidak pernah berkata begitu, justru berpesan agar Mamah banyak makan. Tentu beberapa makanan tidak dianjurkan banyak-banyak, tapi bukan tidak sama sekali.”

Rukayah hanya terdiam.

“Mamah pernah berkata kalau Mamah sudah siap menghadap Tuhan, ingat?”

Rukayah mengangguk lemas.

“Mamah tidak takut, kan?” Ibunya menggeleng. “Kalau begitu jangan takut juga dengan rasa sakit yang berdatangan. Hadapi sepenuh hati, Mamah.”

Air mata Rukayah sudah berhenti. Ia berusaha berdiri setelah mengambil dua handuk kecil dari masing-masing kakinya dan menggantung keduanya di tepian baskom, Ningsih hanya memerhatikan. Tampaknya panas di kakinya sudah reda.

“Kapan kau datang, nak?”

“Semalam, Mah.” Ningsih ikut berdiri.

“Cucu-cucu Mamah mana?”

“Di kamar, masih tidur.”

Rukayah mengangguk-angguk dan berjalan menuju jemuran kecil. Tak lama Ningsih pamit kembali ke kamar. Sembari mengambil handuk, Rukayah memerhatikan anaknya berlalu sampai hilang di balik pintu ruang tengah yang masih gelap. Tadi ia hanya menyalakan lampu ruang makan yang tidak jauh dari dapur dan kamar mandi. Sesaat ia melihati tirai yang menggantung di jendela ruang makan, tampaknya belum ada cahaya dari luar. Dari kejauhan, di atas tebing belakang rumah, sinar lampu di makam suaminya masih berpendar. Terkadang jika menyingkap tirai untuk mengintip suasana di luar, ia bisa melihat siluet suaminya berdiri di bawah tiang lampu. Sesaat kemudian hilang.

 

 

Aku baru saja datang dari kota saat memberi tahu Uwa Rukayah bahwa anaknya sudah meninggal sejak lama, lama sekali. Pagi itu Uwa sedang menyapu halaman rumah saat dengan girang bercerita padaku bahwa Teh Ningsih dan anak-anaknya datang semalam dan sedang istirahat di kamar. Tapi kata-kataku menyetrumnya, tampak menyengat begitu sakit sampai ia menangis sesenggukan sambil terduduk lemas di teras. Aku tentu tidak bermaksud menyakitinya tapi ia berdelusi terlalu parah untuk dibiarkan, saking sejak lamanya Teh Ningsih telah berpulang Uwa bahkan tidak pernah punya cucu. Entah mana yang lebih menyakitinya, kata-kataku atau kenyataan. Ketika ia menyapu belakang rumah nanti ia akan menemui makam anaknya di sana. Ketika ia masuk nanti ia akan menyadari bahwa anak dan cucu-cucunya tiada. Sejenak terpikir apa hakku menyadarkan Uwa setelah dua tahun meninggalkannya sendiri. Aku membayangkan berapa kali ia menyapu halaman dengan sumringah kemudian bersedih saat masuk ke dalam rumah yang kosong.

“Uwa semakin pikun, Muk.”

Aku ingin menghiburnya dengan petuah yang mengingatkan pada Tuhan atau sekedar mengatakan padanya semuanya baik-baik saja. Atau bahwa tidak ada yang salah dengan melupakan. Tapi aku diam saja menatapnya. Tak lama aku pamit untuk pulang ke rumah, yang bersisi-sisian dengan rumah Uwa. Ia hanya mengangguk lalu melanjutkan menyapu. Aku benar-benar baru saja pulang. Baru saja menghabiskan delapan jam di bis yang mengantarkanku dari Jogja kemudian naik ojek sekitar lima belas menit. Badanku pegal-pegal, aku ingin segera istirahat dan menemui Uwa lagi sore nanti. Aku berjalan melewati makam Mbah, Uwa Marta—suami Uwa, dan makam Teh Ningsih. Aku berhenti sesaat dan mendoakan mereka sesingkat-singkatnya mengingat tubuhku yang sedang lelah. Sesampainya di pintu rumah aku membuka kunci dan mengucapkan salam, entah pada siapa. Di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Sama dengan Uwa, aku juga hendak memasuki rumah yang kosong.

Aku langsung berbaring di kasur ambe yang berada di ruang tamu dan melempar tas ranselku ke sampingnya. Kasur ini, ruangan ini tidak terasa seperti ruangan yang sudah lama ditinggalkan. Tidak ada sarang laba-laba di langit-langit, tidak ada kumpulan debu dan serbuk kayu di lantai, tidak ada aroma kencing tikus di sprei tua ini. Uwa pasti membersihkannya setiap hari, mencuci sprei-sprei beberapa kali. Aku merasakan perubahan yang drastis pada pernapasanku sebab di Jogja aku tinggal di ruangan yang pengap dan berdebu. Biasanya aku sudah terbersin-bersin begitu memasuki ruangan kos-kosan Ki Djendra meskipun setelah dibersihkan, apalagi tidak. Rumah ini tidak dibersihkan pun jarang berdebu yang sampai membikin hidung gatal dan dada sesak. Sebab tidak apa-apa di sini. Tidak ada perabotan ruang tamu, hanya ambe dari bambu ini. Tidak ada foto-foto berbingkai menggantung di dinding, yang seringkali menunjukkan wajah pemilik atau penghuni rumah, atau kaligrafi ayat kursi atau setidaknya lukisan Tuanku Imam Bonjol. Dulu sempat ada foto Soeharto dan BJ Habibi yang sampai SBY menjadi Presiden baru aku turunkan. Uwa pernah bercerita kalau Uwa Marta adalah simpatisan Partai Golkar sampai hari ia tiada, yaitu saat SBY menjadi Presiden negeri ini. Rumah ini tidak luas, tapi aku tidak pernah merasa sempit karena tidak ada siapa-siapa. Dulu ada Paman Kar atau Paman Darsa, tidak tahu bagaimana kerap dipanggil Paman Kar, yang membesarkanku. Sepanjang yang bisa aku ingat hanya ada dia, tentu ditambah Uwa Rukayah dan Uwa Marta di rumah sebelah. Paman Kar merawatku sampai lulus SD kemudian pergi ke Taiwan, katanya mencari anaknya yang kabur belasan tahun lalu. Kemudian tiga tahun yang lalu, lima tahun sejak ia pergi, aku dapat kabar Paman meninggal di sana. Kabar itu aku dapat dari seorang warga kampung yang baru pulang kerja dari Taiwan. Itu saja. Jenazahnya tak pulang, entah tak bisa atau tak perlu, entah apa. Aku berduka tapi penuh harap bahwa ia sudah menemukan anaknya dan anaknyalah yang memutuskan jenazah Paman tak perlu dipulangkan. Aku tidak tahu bagaimana kami, aku dan Paman Kar, terjalin hubungan darah. Yang jelas Uwa memberitahuku ia adalah saudara jauh yang trahnya adalah mamang atau paman. Paman Kar sendiri sejak awal, sejak aku bisa mengingat, berkata ia adalah pamanku.

“Panggil saja Paman Kar, tidak usah mamang. Tidak usah. Tidak enak didengar.”

Aku masih mengingat suaranya yang parau. Si tua itu.

“Bagaimana kalau kupanggil Paman Tua?”

Ia akan memarahiku dengan lantang dan membuat suaranya makin parau. Mengingat Paman membuatku mengantuk.

Sesaat mataku terpejam terdengar gedoran tiga kali di pintu, keras. Tega sekali mengganggu, bisa dipastikan siapa pun yang menggedor mendapat kabar kepulanganku dari Uwa dan sudah mengetahui kondisiku yang masih kelelahan. Ia menggedor lagi, tiga kali. Suaranya yang keras tidak lantas membuatku curiga ada apa gerangan, apa ada masalah yang mendesak. Terdengar lagi, makin lantang. Malah membuatku hanya mendengar, berpikir dan menceritakan perihal gedoran ini kepadamu. Sebab aku tahu siapa di balik pintu itu. Aku berdiri dengan malas diiringi tiga kali gedoran berikutnya. Aku membuka pintu.

“Pak Kuwu.”

“Muk!”

Aku mempersilakannya masuk tanpa kata-kata, hanya lambaian tangan yang lemas. Wajah Kuwu Abdun tampak tidak tenang. Ada yang mengganggu benaknya tapi aku enggan bertanya. Aku biarkan ia terlebih dahulu membuka percakapan dan persilakan ia untuk duduk di ambe. Lagi-lagi dengan lambaian tangan yang lemas. Aku tidak bisa melihat tapi bisa merasakan wajahku yang mengantuk.

Kuwu Abdun tidak duduk. Ia menatapku seakan memohon pertolongan.

Lihat selengkapnya