“Mi, kamu perlu dengerin ini deh!” Aku mengalihkan perhatian dari tugas merangkum. Niar mengeluarkan ponsel blackberry-nya setelah meletakkan tasnya sembarangan di atas mejanya sendiri. Aku mencondongkan badan untuk melihat suatu hal yang akan ditunjukkan olehnya. Dia menekan menu dengan simbol microphone, kemudian menekan salah satu file audio dengan judul kombinasi huruf dan angka.
Setelah dia menekan tombol play, aku mendengar suara bariton seorang lelaki.
“Hujan oh hujan, tes tes.” Begitu ujarnya diiringi suara loop yang melengking. Setelahnya aku mendengar grasak-grusuk yang tidak jelas.
Aku menatap Niar, dan dia hanya memajukan dagunya sambil bergumam, “Dengerin dulu.”
“Disini saya bukan untuk bernyanyi, melainkan berpuisi.” ujar lelaki dalam perekam itu, dan tanpa aba-aba ternyata sudah memulai berbicara lagi. “Dan mohon maaf, puisi ini juga bukan diperuntukkan kepada guru-guru tercinta, orang tuaku tercinta, apalagi pak Aryo–satpam tercinta di sekolah kita.”
Aku mendengar sambutan tawa dari teman-teman di belakang suara, dan sebenarnya aku pun ikut tertawa tapi di dalam hati–sebaliknya wajahku yang sengaja pelit ekspresi ini hanya menyelipkan senyuman tipis.
“Tetapi …” dia berdehem dan menjeda cukup lama. “... puisi surat ini kutuliskan untuk seorang perempuan yang ku kagumi. Aku mengaguminya, dan ini merupakan pernyataan perasaanku kepadanya. Berharap ada jawaban sesuai ekspektasi yang tergambar dalam pikiranku. Itupun kalau dia memberi sinyal positif kepadaku, maka aku berani melanjutkan.”
Sungguh anak-anak makin bersorak ramai. Mereka mengelu-elukan lelaki itu dan aku yakin suara itu bukanlah suara ejekan melainkan seruan suportif.
Dan menurutku, Lelaki itu sungguh pintar merangkai kata. Entah apakah tulisan itu benar-benar dirangkai oleh dirinya atau barangkali ia menulis ulang puisi yang diterbitkan di majalah-majalah remaja atau koran.
Aku tidak bermaksud menuduhnya, tapi dia sungguh lihai memainkan rangkaian kalimat seperti itu.
“Baiklah, aku akan mulai …” Kudengar dia menarik nafas cukup dalam. Dengan suara baritonnya, lelaki itu membacakan kata demi kata dalam tulisannya dengan intonasi yang teratur. Nadanya tidak mendayu berlebihan, benar-benar mirip seorang penyiar radio. Di detik itu pula, aku memusatkan seluruh atensi yang kubisa untuk mengingat kata demi kata yang terekam.
_-_
Teruntuk seorang nenek dengan parasnya yang ayu.
Aku yakin di balik topeng keriputnya itu, dia memiliki wajah semanis madu.
Dan tentulah aku benar … wujudnya sebagai seorang nenek, faktanya ia seorang gadis.
Dan sungguh ia mendorongku langsung tuk berani menuliskan surat penuh kekaguman ini.