MUSEA

ushiomoonie
Chapter #2

Pengulik Informasi

Niar itu anggota OSIS, tapi merangkap juga sebagai mata-mata. Lebih tepatnya, dia suka mengumpulkan informasi dari berbagai sumber kemudian ia membagikannya denganku. Sebab itu aku tak terlalu ketinggalan berita di sekolah.

Contohnya satu ini.

Setiap Sabtu, sekolahku rutin mengadakan pentas seni dan khusus Sabtu kemarin–aku tidak bisa masuk karena terkena demam. Entah bagaimana caranya Niar sudah siap-siap merekam penampilan lelaki yang disebut Abdinawa itu, seolah dia sudah mengetahui kalau Abdinawa akan menyatakan perasaannya di depan banyak orang dan lebih mengejutkannya lagi surat itu ditujukan kepada diriku.

Niar mengatakan, “Dia sebenarnya nyesel banget begitu tahu kamu nggak masuk hari itu, tapi untungnya orangnya tuh persiapan banget. Dia naruh tape recorder di panggung, dan akhirnya ini sampai di telingamu.”

“Emang ini tape recorder?” aku menyela, dan menunjuk ponsel miliknya sendiri. 

“Aih, aku nggak mau bawa barang orang lain, apalagi barang kayak gitu. Intinya! … ah sampai mana tadi?”

Aku terkekeh, “Nih udah sampai ke telinga aku.”,

“Ah ya. Nah, tetap aja dia jadi kayak gak bertenaga. Kayak lemes, lunglai. Aku tahu soalnya waktu jam pelajaran Indonesia, kelas kita ke Perpus, dan kak Abdi disana cuma senderan di kursi sambil ngelamun.” 

Aku mengernyit waktu mendengar penjelasannya. Itu berarti lelaki bernama Abdinawa terlalu melankolis. Tiap tindakannya terdengar tidak masuk akal bagiku hanya karena aku tidak masuk di hari ia tampil. Jadi, julukan melankolis memang pantas disematkan padanya. Terlebih lagi dia sampai melamun?

Tapi, Niar sepertinya peka dengan reaksiku. Mungkin raut wajahku tampak sekali ‘illfeel’, sebab kini lihatlah betapa kerasnya temanku ini tuk mencoba membersihkan nama lelaki itu. “Kak Abdi sering menangin lomba karya sastra, terutama menulis puisi. Denger-denger minggu kemarin dia bahkan dapat honor dari tulisan cerpennya yang terbit di Radar Bromo.” 

Setelah mendengarnya, aku jadi terdiam. Setidaknya dia sudah pernah memiliki prestasi, jadi itu sudah ada nilai tambahnya. Niar berhasil membersihkan namanya cukup cepat, atau mungkin aku saja yang mudah berubah pikiran. Sedangkan aku … apa yang menonjol? Teater? Aih, itu bukan passion dan kemampuan yang kumiliki hanya rata-rata. Sebab itulah sejujurnya aku heran mengapa lelaki bernama Abdinawa ini tertarik padaku hanya setelah menonton pertunjukan teater yang sempat kuperankan.

Saat ini kami berada di kantin. Soto di mangkok milikku masih penuh, berbeda dengan Niar yang sudah hampir habis. Matanya terlihat menyapu ke penjuru arah, aku hanya tersenyum nendapati gadis satu ini selalu penasaran dengan segala sesuatu yang tidak penting.

“Kamu beneran gak mau kenalan sama kak Abdi?” bibir tipisnya kembali bersuara, dan aku hanya menghela nafas. “Wajahnya manis kok, yah gak seganteng kak Oki sih–tapi dia ada aura tersendiri.”

Aku menyendokkan nasi dengan kuah soto ke mulut, sedangkan mataku mengarah lurus menatap makhluk kepo di depanku ini.

“Kamu kenapa sih … kok berusaha banget buat ngenalin aku ke si kak Abdinawa ini? Kamu disogok?” kataku, mencurigainya.

Bukannya langsung menjawab, Niar hanya meringis senyum kemudian menghabiskan makanan-nya hingga ke titik akhir. Mangkoknya benar-benar bersih.

“Aku dikasih bocoran soal matematika ujian anak kelas 2. Kebetulan wali kelasnya itu guru matematika kita, dan kata kak Abdi–guru itu nggak pernah ngubah tipe-tipe soalnya. Angkanya doang yang diganti.” papar Niar begitu semangat membicarakan sogokan yang ia terima dan sekali lagi aku hanya mencibir gadis ini. 

“Kapan sih kamu hubungan sama kak Abdinawa ini?”

“Dia mantan anggota OSIS dan dulu waktu LKJ-nya anak OSIS, aku satu kelompok sama kak Abdi. Anaknya santun banget.” Niar menjeda. Ia meneguk es tehnya, kemudian mematahkan kerupuk udang dan ia lanjut mengemil sambil bercerita lagi. “Tapi dia undur diri, katanya sih ngurus ayam.”

Lihat selengkapnya