MUSEA

ushiomoonie
Chapter #3

Caranya Tahu

Seingatku, tantangan yang dibuat oleh lelaki itu sendiri sudah rumit kalau saja dia memang termasuk orang yang kaku dengan sistem. Ayolah, bagaimana seseorang bisa mengetahui nama orang yang baru dikenalnya jika tidak melalui bertanya? 

Aku memilih percaya pada perkataannya mengenai ia yang belum pernah mengetahui namaku. Namun, kalau ingin mengambil jalan tikusnya–dia bisa saja diam-diam menanyakannya ke teman sekelas, atau guru untuk mengetahui namaku. Semudah itu, karena memang dari awal aku hanya ikut-ikutan untuk mengusilinya dan tak peduli bagaimana cara yang ia lakukan.

Akan tetapi, lelaki itu menganggap permainan ‘mendapatkan nama’ ini cukup serius dan mau tak mau aku pun ikut tersedot masuk ke trik permainan yang ia buat.

Lihatlah.

Lelaki yang ternyata merupakan seorang senior, dan seharusnya berada di kelasnya sendiri untuk mengikuti jam tambahan bimbingan malah mengekori bu Ida–guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelasku.

Tentulah, tingkat kekonyolannya di mataku makin meningkat. 

Niar menggodaku, dia menyenggol lenganku kemudian berbisik. “Hati-hati, dia kayak kancil.” ujarnya, kemudian mengeluarkan buku tulis dan buku paket dari tasnya ke atas meja.

Dibandingkan menyiapkan buku seperti Niar, aku lebih fokus ke hal lain. Mataku masih lekat memperhatikan setiap gerak-gerik Abdinawa. Ia tak terganggu dengan tatapanku. Justru lelaki itu seolah tak pernah  mengajakku berkenalan di kantin dua hari yang lalu. Bahkan saat aku terkejut mendapati keberadaannya di belakang bu Ida, ia tak tersenyum tuk menyapaku. Bukannya aku kecewa sih, tapi bukankah wajar kalau aku bertanya-tanya soal sikapnya? Di kantin, dia sok akrab.

Lelaki itu berdiri condong di sisi kanan bu Ida, posturnya sedikit membungkuk sambil memperhatikan arah gerakan pulpen yang ditunjuk oleh bu Ida ke suatu buku. Sepertinya bu Ida sedang memberikan penjelasan beberapa poin kepadanya sebab Abdinawa hanya termangut-mangut selama ia mendengarkan bu Ida secara seksama.

Aku mendapati raut wajahnya yang ternyata bisa menampilkan gurat serius. Alis tebalnya mengerut, bibirnya yang penuh sedikit manyun dan kedua lengannya yang terlipat–tersembunyi di belakang. Tampak tenang dan dewasa.

Mungkin aku terlalu jelas sedang memperhatikannya. Lelaki itu tanpa peringatan memalingkan atensinya dari penjelasan bu Ida kepadaku. Tatapan kami bertemu, pupilnya seolah sedang mengunci pandanganku, aku tak bisa membuang muka serefleks apapun itu. Lantas kedua ujung bibirnya terangkat tipis, diikuti kelopak matanya yang sayu sedang melengkung. Ah, dia punya bulan sabit di matanya.

Dan kau tahu apa yang dia lakukan terhadapku? Dia mengedipkan sebelah matanya tanpa alasan. 

Aku melongo–tentu saja tidak sampai membuka mulut lebar-lebar, hanya saja aku … terkejut. Aku mencoba memalingkan wajahku ke arah belakang, barangkali kedipan itu bukan ditujukan padaku.  

Kok … aku salah tingkah sih?

“Kemarin Ibu mendapat surat undangan kalau senior kalian memenangkan juara pertama untuk perlombaan cerpen lagi. Sebenarnya hari ini pengambilan penghargaannya, tapi masih pukul satu siang nanti.”

Lagi katanya? Seberapa sering lelaki itu ikut lomba cerpen?

Lihat selengkapnya