Abdinawa, dia ternyata sosok yang serius.
Lelaki itu benar-benar menghabiskan waktunya selama dua jam untuk mengisi materi cerita pendek di kelas kami bahkan saat bu Ida meninggalkannya cukup lama, dia sangat serius menjelaskan layaknya seorang guru betulan. Dia sama sekali tak bercanda.
Aku menemukan bahwa Abdinawa memanglah sosok yang menarik. Aku mengira dia bakal ugal-ugalan mengajar, barangkali ia langsung menyuruh kami mengerjakan salah satu lembar di buku paket yang terdapat isian pertanyaan kemudian dikumpulkan, lalu ia melesat keluar. Sejauh pengamatanku yang dangkal ini, lagaknya memang seolah mencerminkan bahwa dia sosok pelajar yang bandel. Dasi yang sempat ia pakai, dilepas langsung olehnya setelah bu Ida positif tidak berada di kelas, sambil membuka satu kancing bagian atasnya. “Gerah, kecekek. Saya gak suka.” begitulah kata validasinya, saat ia menyadari seisi kelas menjadi hening setelah teman-teman kompak memperhatikannya sedang mengacak-acak seragamnya sendiri. Yah, mungkin dia memang bandel khusus urusan model seragamnya.
Oh, mungkin ini informasi tidak cukup penting. Seragam bagian atasan lelaki berlengan pendek, memang tidak dimasukkan ke celana. Hanya saja mereka diwajibkan menggunakan dasi. Berbeda dengan perempuan, seragam bagian atasan kami harus diselipkan ke dalam rok kemudian dibalut jas almamater, dan tanpa dasi.
Kembali ke topik …
Aku melihat jarum jam dinding di atas papan tulis. Waktu mata pelajaran bahasa Indonesia hanya menyisakan tiga puluh menit lagi dan papan tulis sudah lumayan dipenuhi oleh tulisan kapurnya yang tegak bersambung. Bagian tengah di antara keempat sudut papan tulis itu tergambar peta konsep tentang struktur.
Dia mengetuk-ngetukkan tiga lingkaran yang meliuk-liuk tak karuan. Dengan pandangannya yang tersebar merata, lelaki itu kembali membuka suara lugasnya. “Saya harap kalian mengingat tiga poin ini. Intinya, segala sesuatu penciptaan karya selalu memiliki titik struktur yang sama yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Hanya tiga kunci itu saja yang mampu menjadi pondasi terkuat untuk menyusun esai maupun jenis-jenis tulisan faktual lainnya, yang membedakan hanyalah jenis judul struktur dari masing-masing karya.”
Lelaki itu menulis di ruang yang masih terlihat kosong. Ia mendadak melempar kapur yang sepertinya menyisakan sebesar batu kerikil ke arah pintu luar kelas. Lantas Abdinawa kembali menghadap kami.
“Kalau cerpen, pembuka disebut orientasi; isi disebut klimaks atau konflik; dan penutup disebut sebagai resolusi dan koda bila memungkinkan. Berbeda dengan jenis teks lainnya kalau kalian perhatikan seksama. Persamaannya terletak pada struktur yang runut, dan selalu dimulai dengan pengungkapan suasana atau latar. Hanya saja untuk karya sastra seperti cerpen dan novel, tidak terdapat patokan yang diketuk palu bahwa orientasi harus begini, klimaks harus disini, dan resolusinya harus jelas, tepat, dan terbuka.”