Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #1

CHAPTER 1 NAMA TENGAH KU AVALON

(Jakarta, 1995)

Aku memperhatikan daun terakhir yang jatuh ke tanah di taman yang hampir kosong. Seperti sebuah kehidupan yang akan berakhir, aroma perpisahan mulai terasa di sekitar. Langit berubah menjadi kelabu kelam—bukan warna yang indah seperti deskripsi para penyair tentang senja, hanya ada warna kelelahan—sebagai pertanda dari akhir sebuah musim kesunyian.

Sore ini terlihat sederhana, aku duduk di bangku dekat air mancur yang sudah lama mati. Memperhatikan bagian dari ujung lubang yang pernah menembakan air, namun kali ini berganti dengan keheningan. Hanya terdengar suara dari jauh—lalu lintas burung yang terlambat pulang, langkah kaki yang tergesa. Semuanya terasa seperti terjadi di dunia lain, dunia yang telah meninggalkanku di belakang, karena malas untuk memberi tahu.

Tiga minggu sejak aku meninggalkannya aku hanya mampu mengingat tatapannya yang kosong, seolah dia sudah pergi jauh sebelum tubuhnya benar-benar kutinggalkan— dari apartemen kami. Mantan rumah kami.

Aku seharusnya sedih. Seharusnya menangis. Tapi yang kurasakan hanya kehampaan yang aneh—seperti ruangan yang sudah terlalu lama kosong hingga debu pun enggan menghuninya.

Di seberang jalan setapak, di antara deretan bangku kayu yang mulai lapuk, seorang pria duduk sendirian. Begitu diam hingga aku hampir tidak menyadari keberadaannya. Dia menyatu dengan pemandangan senja—seperti bayangan yang lupa bergerak ketika matahari terbenam.

Kesunyiannya memanggilku.

Atau mungkin aku yang membutuhkan kesunyian itu untuk melengkapi milikku.

Tanpa sadar, aku berdiri. Kakiku bergerak sendiri, membawaku melintasi rumput yang mulai menguning. Setiap langkah terasa lambat, seperti berjalan di dalam air. Pikiran rasionalku berbisik untuk berbalik—ini gila, dia orang asing, apa yang akan kau katakan? Tapi ada bagian lain dariku yang lebih keras, bagian yang sudah terlalu lama diam, yang berkata: Mendekatlah. Lihat apakah dia juga kosong sepertimu.

Aku berhenti beberapa meter di belakangnya. Cukup dekat untuk melihat bahwa dia memegang sesuatu—secarik kertas yang gemetar sedikit di tangannya yang tidak stabil. Cukup dekat untuk melihat tulisan tinta hitam yang memenuhi permukaan kertas itu.

Dan cukup dekat untuk membaca satu kata yang membuat jantungku berhenti seketika:

Avalon

Namaku.

Atau lebih tepatnya, nama tengahku. Nama yang ibuku berikan padaku dengan alasan yang tidak pernah dia jelaskan sebelum dia meninggal.

Aku melangkah lebih dekat, menahan nafas. Tulisan itu berbentuk puisi—aku bisa melihat bait-baitnya, bisa melihat bagaimana kata-kata itu disusun dengan hati-hati, seperti doa atau mantra. Aku membaca baris pertama:

Sesuatu yang tidak seharusnya diberikan Adam untuk Hawa…

“Hey!”

Suara keras itu memecah keheningan seperti tamparan. Aku tersentak mundur. Pria itu berdiri begitu cepat hingga bangku di belakangnya bergetar. Kertas di tangannya diremas dalam kepalan yang gemetar—entah karena marah atau karena hal lain.

“Maaf, aku—aku cuma lewat dan—”

“Dan apa? Ngintip!” Suaranya keras tapi rapuh di baliknya, seperti kaca yang sudah retak tapi belum pecah. “Aneh!”

Dia menatapku dengan mata yang tersembunyi di balik kacamata bulat bening. Cahaya senja memantul di lensa itu, membuat matanya tidak terlihat—hanya dua lingkaran putih yang kosong. Tapi aku bisa merasakan kemarahannya dari cara bibirnya setengah terbuka, gemetar menahan kata-kata yang lebih kejam.

Seharusnya aku takut. Seharusnya aku pergi.

Tapi kemarahannya menusuk, dan aku sedang lelah terluka. Sepertinya sudah terlalu lama aku hidup dalam kehampaan hingga bahkan amarah orang asing terasa seperti kehangatan—seperti bukti bahwa aku masih bisa membuat seseorang merasakan sesuatu, meskipun itu adalah benci.

“Maaf,”kataku, sambil melangkah maju alih-alih mundur. Suaraku lebih tenang daripada yang kurasakan. 

“Sepertinya kamu nggak berhak buat marah. Lagipula aku juga nggak selesai baca tulisan itu.”

Matanya melebar di balik kacamata. “Kamu baca—kamu tahu apa artinya barang pribadi?”

“Kamu tahu apa artinya tempat umum?” balasku. Energi aneh mengalir dalam dadaku—bukan keberanian, tapi sesuatu yang lebih gelap. Kemarahan yang sudah lama kutahan. “Lagian, puisi yang kamu tulis itu ada namaku. Jadi nggak salah kalau aku penasaran, kan?”

Tangannya mencengkram kertas itu lebih erat, meremas hingga tulisan-tulisan itu menghilang dalam lipatan-lipatan kecil. Aku melihat sekelilingku—beberapa pengunjung taman menatap kami dengan tatapan aneh. Mungkin mereka mengira ini pertengkaran pasangan. Atau mungkin mereka hanya ingin drama sore untuk mengusir kebosanan.

“Namamu?” Suaranya berubah. Amarah itu melunak menjadi kebingungan. “Namamu Avalon?”

Aku mengangguk, berusaha terlihat tenang meskipun jantungku berdetak terlalu cepat.

Dia terdiam lama. Terlalu lama. Kemudian perlahan, seperti patung yang belajar bergerak lagi, dia duduk kembali. Genggaman pada kertas itu mengendur.

“Duduk,” katanya pelan. Bukan permintaan. Bukan perintah. Hanya... kata yang keluar karena dia tidak tahu apalagi yang harus dikatakan.

Aku seharusnya menolak. Ada aturan tidak tertulis tentang tidak duduk bersebelahan dengan pria asing yang baru saja berteriak padamu. Tapi aku sudah melewati terlalu banyak batas. Apa bedanya jika ditambah satu lagi?

Aku duduk di ujung bangku, menjaga jarak yang sopan. Angin bertiup, membawa daun-daun kering berputar di sekitar kaki kami. Untuk sesaat, hanya ada suara gemerisik itu—suara musim yang sekarat.

“Maafkan atas sikapku tadi,” suaranya berbeda sekarang—lebih rendah, lebih lelah. Dia melepas kacamatanya, dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya dengan jelas.

Coklat tua. Matanya coklat tua dengan sekelumit lingkaran hitam yang membuatnya terlihat seperti belum tidur selama berhari-hari. Mungkin memang begitu. Tatapan itu berkarat—bukan tua karena usia, tapi tua karena terlalu banyak melihat hal yang tidak seharusnya dilihat.

“Namaku Henry,”katanya. “Henry Purnomo.”

Dia mengulurkan tangan. Tangannya hangat ketika menyentuh tanganku—atau setidaknya aku pikir begitu. Ada sesaat, sepersekian detik, di mana aku tidak yakin apakah aku benar-benar merasakan sentuhan itu atau hanya membayangkannya karena aku mengharapkannya.

Aku menggelengkan kepala. Tentu saja aku merasakannya. Aku tidak gila.

“Leona Avalon Sawyer,”kataku. "Tapi aku dipanggil Ava.” Kataku berbohong.

“Ava,” ulangnya, seperti mencoba rasa kata itu di lidahnya. “Avalon lebih indah.”

Aku tersenyum—senyum pertamaku dalam tiga minggu. “Kamu bisa panggil Avalon kalau mau. Nggak banyak orang yang melakukannya.”

Dia menatapku dengan cara yang aneh. Bukan menatap wajahku, tapi seperti mencoba melihat menembusku—atau memastikan aku benar-benar ada di sana.

“Jadi,” kataku, menunjuk kertas kusut di tangannya, “puisi itu tentang apa?”

Dia terdiam. Tangannya bergerak ke rambut, mengusapnya ke belakang—sebuah gerakan rikuh yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan. Rambutnya langsung jatuh kembali menutupi dahinya.

“Kamu Indo?” tanyanya tiba-tiba, mengalihkan topik.

“Iya. Ibu dari Bandung. Ayah dari Amerika.”

“Bagian mana dari namamu yang Indonesia?”

Aku tertawa kecil—suara yang terasa asing keluar dari tenggorokanku sendiri. "Leona. Itu nama ibuku. Sawyer dari ayah. Dan Avalon..."

“Avalon?”

“Itu yang ingin kutanyakan padamu,” kataku. “Karena dari ketiga nama itu, hanya Avalon yang nggak pernah dijelaskan. Ibu meninggal sebelum cerita. Ayah nggak tahu—dia bilang ibu yang pilih nama itu."

Henry Mengangguk perlahan. Dia menatap ke depan, ke arah air mancur yang mati, seolah mencari kata-kata yang tepat di antara batu-batu yang ditumbuhi lumut.

“Avalon,” katanya akhirnya, suaranya seperti orang yang bercerita tentang tempat yang pernah dia kunjungi dalam mimpi, “dalam bahasa Wales kuno, berarti pulau apel. Tapi bukan sembarang pulau.”

Dia berhenti. Aku menunggu, tidak berani bernapas terlalu keras.

“Avalon adalah tempat Raja Arthur dibawa setelah dia terluka parah dalam pertempuran terakhirnya melawan Mordred. Tempat di mana pedang Excalibur ditempa oleh para peri. Tempat penyembuhan. Tempat ajaib di mana waktu berjalan berbeda, di mana luka yang tidak mungkin sembuh bisa diobati.”

Cara dia mengatakannya—dengan suara yang sangat pelan dan mata yang menatap jauh—membuat kata-kata itu terasa seperti lebih dari sekedar legenda. Seperti dia sedang menceritakan sesuatu yang sangat personal.

“Kedengarannya indah,” kataku pelan.

Lihat selengkapnya