Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #2

CHAPTER 2 TAHUN-TAHUN YANG MEMBEKU

(Leningrad, 1966)

Aku melayang di dalam kegelapan—tidak takut, tidak senang, seperti berada di dalam rahim. Seperti berada di antara tidur dan terjaga. Seperti berada di ruang tunggu antara kehidupan dan sesuatu yang lain.

Aku tidak hanya melihat—Aku merasakan. Setiap sensasi, setiap pikiran, setiap emosi yang mengalir seperti bukan miliknya tapi entah bagaimana menjadi milikku juga. Seperti mengenakan kulit orang lain yang terlalu ketat, terlalu kecil, tapi ku tidak bisa melepaskannya.

Aku—Ava—atau apa yang tersisa dariku, terjebak di dalam ingatan ini seperti hantu yang tidak tahu bagaimana caranya pergi. Aku mencoba berteriak, mencoba bangun, mencoba kembali ke tubuhku sendiri yang duduk di bangku taman itu. Tapi tubuhku tidak merespons. Mulutku tidak bergerak. Tanganku bukan milikku lagi.

Tanganku adalah tangan anak kecil berusia delapan tahun.

Tangan Henry.

Dan dalam tangan ini—tangan kecil yang gemetar—ada sebatang rokok yang dicuri.

Asapnya membuat tenggorokanku—tenggorokan Henry—terbakar. Tapi dia terus menghisap. Terus dan terus. Bukan karena dia menyukainya. Tapi karena rasa sakit di tenggorokan lebih mudah ditanggung daripada rasa sakit yang lain.

Rasa sakit yang datang dari dalam rumah.

Suara mereka—Ayah dan Ibu Henry—menembus dinding kayu rumah diplomat yang terlalu besar untuk keluarga yang tidak pernah bisa mengisinya dengan kehangatan. Tidak ada teriakan. Tidak ada pecahan. Hanya suara-suara dingin yang terdengar seperti permukaan es yang retak—kata-kata yang diucapkan dengan nada datar, tanpa infleksi, tanpa emosi. Yang lebih menakutkan daripada amarah.

“Aku sudah bilang, ini bukan soal kamu atau aku lagi.”

“Lalu soal apa?”

“Soal kita yang tidak pernah ada.”

Henry kecil berdiri di sudut halaman belakang, di antara salju yang mulai mencair dan rumput cokelat yang mati. Langit senja Leningrad berwarna abu-abu—bukan abu-abu yang indah, hanya abu-abu kelelahan. Udara dingin menggigit pipi yang sudah merah, tapi dia tidak masuk ke dalam. Tidak mau masuk ke dalam.

Di dalam berbahaya.

Di dalam ada Ayah yang berbicara tentang promosi yang tidak datang dengan suara yang terlalu tenang untuk tidak menakutkan. Ada Ibu yang duduk di meja makan, menatap cangkir teh yang tidak pernah diminumnya, tidak mengatakan apa-apa karena sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk dikatakan. Ada kedua kakak dan satu adik perempuannya yang bersembunyi di kamar masing-masing, berpura-pura tidak mendengar apa-apa, berpura-pura keluarga mereka tidak sedang runtuh dalam adegan lambat.

Dan ada Henry—anak ketiga, satu-satunya anak laki-laki—yang tidak tahu harus berbuat apa kecuali mencuri rokok dari kotak Ayah dan mencoba memahami mengapa orang dewasa menyukai benda ini.

Aku merasakan semuanya. Merasakan bagaimana dinginnya udara Leningrad di bulan Maret. Merasakan bagaimana nikotin membuat kepala pusing. Merasakan bagaimana jantung berdegup kencang setiap kali suara di dalam rumah meninggi—bukan meninggi dalam volume, tapi meninggi dalam keheningan yang semakin dalam.

Dan aku merasakan sesuatu yang lebih menakutkan: perutnya mulai sakit.

“Tidak, jangan” bisik Henry pada dirinya sendiri—atau mungkin pada Tuhan, pada siapa saja yang mau mendengar. “Jangan sekarang. Kumohon jangan sekarang.”

Tapi tubuh kecil itu tidak peduli dengan permohonan. Perutnya mulai mulas. Panas. Melilit seperti memaksa keluar.

Panik.

Rokok itu jatuh dari tangannya. Dia menginjaknya dengan sepatu boot kecil yang sudah lusuh—injak, injak, putar—memastikan api padam, memastikan tidak ada jejak. Tapi asapnya masih di udara. Baunya masih menempel di jari-jarinya yang kecil. Di jaket tebal yang terlalu besar untuknya.

Pintu belakang terbuka dengan hentakan.

Jantung Henry—jantung kami—berhenti seketika.

Tapi yang keluar bukan Ayah.

Melainkan Ibu.

Wajahnya... Astaga, wajahnya.

Tidak ada memar. Tidak ada luka fisik. Tapi yang lebih buruk—ada kekosongan. Matanya yang biasanya hangat sekarang terlihat seperti jendela rumah kosong. Rambut yang biasanya rapi sekarang terikat asal-asalan, beberapa helai jatuh menutupi wajah tapi dia tidak peduli untuk menyingkirkannya. Bibirnya bergerak sedikit, seperti sedang berbicara pada seseorang yang tidak ada, atau mungkin pada dirinya sendiri.

Henry kecil hanya bisa berdiri di sana, membeku—bukan karena dingin, tapi karena tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat seseorang yang seharusnya kuat, yang seharusnya melindungimu, terlihat seperti... seperti sudah tidak ada lagi di sana.

Ibu menatapnya.

Untuk sesaat—hanya sesaat—mata mereka bertemu.

Dan dalam mata itu, Henry melihat sesuatu yang akan menghantuinya selamanya: ketidakhadiran. Seperti dia melihat melewatinya, melihat sesuatu yang jauh di belakang atau di dalam—sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh anak berusia delapan tahun.

Dia tidak mengatakan apa-apa tentang rokok. Tidak mengatakan apa-apa tentang bau asap yang jelas tercium. Tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

Dia hanya berjalan melewati Henry—melewatinya seperti dia tak ada—keluar dari gerbang, menghilang ke dalam kabut senja yang turun.

Henry kecil berdiri di sana, sendirian, dengan perutnya yang semakin sakit dan pertanyaan yang tidak berani dia tanyakan dengan keras: Apakah Ibu akan kembali?

(Dia kembali. Tiga jam kemudian. Dengan mata kosong yang sama. Dengan keheningan yang lebih dalam dari sebelumnya.)

Aku tidak tahu berapa lama aku—dia—kami—berdiri di halaman itu.

Mungkin lima menit. Mungkin lima puluh. Waktu terasa seperti tidak bergerak di Leningrad. Seperti seluruh kota ini terjebak dalam musim yang tidak pernah berakhir—tidak cukup dingin untuk salju bertahan, tidak cukup hangat untuk bunga tumbuh. Hanya abu-abu. Selamanya abu-abu.

Perutnya semakin sakit.

Henry tahu dia harus masuk. Harus ke kamar mandi sebelum terlambat. Tapi kakinya tidak bergerak. Ada ketakutan yang lebih besar dari rasa malu—ketakutan akan masuk ke dalam rumah itu dan menemukan... menemukan apa? Ayah yang duduk di ruang kerjanya, menatap dokumen-dokumen yang tidak dibacanya? Ibu yang tidak kembali? Keheningan yang lebih mengerikan dari teriakan?

Tapi tubuh tidak bisa dibohongi.

Dengan langkah yang goyah, dia masuk melalui pintu belakang—pintu dapur yang menuju tangga belakang. Jika dia cukup cepat, jika dia cukup hati-hati, mungkin dia bisa sampai ke kamar mandi di lantai dua tanpa bertemu siapapun.

Dia melewati dapur. Kosong.

Naik tangga. Setiap anak tangga berbunyi—cit, cit, cit—terlalu keras dalam keheningan yang tidak wajar.

Nyaris sampai di lantai dua ketika—

“Hen! Henry kamu di mana?”

Suara Ibu. Sudah kembali. Tapi suaranya aneh—terlalu keras, terlalu terkendali, seperti seseorang yang berusaha sangat keras terdengar normal.

Panik membanjiri dadanya. Perutnya melilit lebih kencang.

Tidak tidak tidak kumohon tidak sekarang—

Dia mencoba mempercepat langkahnya tapi sudah terlambat. Dia mendengar langkah kaki Ibu—cepat, menuju ke arahnya. Dari tangga depan.

Tidak ada jalan keluar.

Henry berhenti di tengah koridor lantai dua, terperangkap di antara dua tangga, dengan Ibu yang muncul dari satu sisi dan perutnya yang tidak bisa ditahan lebih lama lagi.

Ibu muncul di ujung koridor.

Wajahnya sudah terlihat lebih terkendali. Rambut diikat lebih rapi. Seperti tiga jam berjalan di udara dingin Leningrad memaksanya menemukan kembali topeng yang hampir lepas. Seperti Henry hanya membayangkan kekosongan tadi.

Tapi matanya—matanya masih jauh.

“Dari mana kamu?” tanyanya. Suaranya datar.

“Habis main di belakang,” jawab Henry cepat—terlalu cepat. Dia mencoba melewati Ibu menuju kamarnya. Jika dia bisa masuk kamar, membuka jendela, membiarkan angin dingin mengusir bau rokok—

“Hen.”

Dia berhenti. Tidak berani menoleh.

Dia mendengar Ibu berjalan mendekat. Mendengar bagaimana Ibu berhenti tepat di belakangnya. Merasakan bagaimana Ibu membungkuk sedikit, mendekatkan hidung ke jaket tebalnya.

Menghirup.

Jantungnya berhenti.

“Kok bau rokok ya Hen?” Suara Ibu sangat tenang. Terlalu tenang. “Kamu ngerokok ya?”

Henry menggeleng cepat. Tangannya di saku, mengepal erat, gemetar.

Hening.

Kemudian Ibu tertawa—tapi itu bukan tawa yang nyata. Hanya suara yang keluar karena tidak tahu apa lagi yang harus dikeluarkan.

“Habis aneh sih,” katanya, “sejak tadi Ayah belum merokok, tapi bau rokoknya sudah ada”

Jeda.

“Apa mungkin Ibu sedang rindu sama Ayahmu ya.”

Kata-kata itu keluar dengan nada yang mencoba terdengar ringan, mencoba terdengar seperti bercanda. Tapi kalimatnya salah. Sesuatu yang membuat Henry ingin menangis—bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk Ibunya yang berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika jelas sekali tidak.

Tapi Henry tidak menangis.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya berdiri di sana, membelakangi Ibunya, dengan perutnya yang sudah tidak bisa ditahan lagi dan rasa bersalah yang membuatnya ingin menghilang.

Ibu menepuk bahunya—sentuhan ringan yang mencoba menenangkan tapi justru terasa seperti perpisahan.

Dan di saat itulah tubuh Henry menyerah.

Kehangatan basah menyebar di celananya.

Bau yang tidak bisa disembunyikan.

Keheningan yang lebih mengerikan dari teriakan manapun.

Aku—dia—kami—tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi setelahnya.

Ingatan menjadi kabur. terpisah-terbelah. Seperti pikiran yang mencoba melindungi diri dari rasa malu yang terlalu besar untuk ditanggung.

Yang aku ingat hanya:

Ibu yang tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap dengan tatapan yang kosong itu—tatapan yang lebih menyakitkan dari kemarahan.

Henry yang berlari—entah ke mana. Hanya berlari. Celana basah menempel di kaki. Dingin. Menjijikkan. Memalukan.

Dia berakhir di kamar Ayah dan Ibu.

Tidak tahu kenapa dia masuk ke sana. Mungkin karena kamar mandi terlalu jelas, terlalu terang, terlalu nyata. Mungkin dia butuh tempat yang gelap.

Kamar itu kosong. Tirai tebal menutupi jendela besar—jendela yang sebenarnya pintu kaca menuju balkon kecil. Henry membuka tirai itu.

Cahaya senja masuk—cahaya oranye keemasan yang membuat segalanya terlihat seperti dalam mimpi. Atau dalam lukisan. Sesuatu yang tidak nyata.

Dia membuka pintu kaca itu.

Lihat selengkapnya