Aku bangun dengan rasa seperti tenggelam—naik ke permukaan dari kedalaman yang terlalu gelap, terlalu dingin. Paru-paruku membakar, mencari udara yang hilang. Mata membuka tapi tidak langsung melihat. Hanya mengabur—warna-warna yang bercampur, cahaya yang terlalu terang, dunia yang berputar terlalu cepat.
Perlahan—sangat perlahan—semuanya mulai fokus.
Langit sore. Abu-abu keemasan. Awan yang bergerak lambat.
Pohon. Bangku taman. Bau karat dari logam yang sudah tua.
Dan wajah.
Wajah pria yang menatapku dengan kekhawatiran yang nyata—mata lebar di balik kacamata bulat, mulut setengah terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Henry.
Namanya Henry.
Aku ingat. Atau aku pikir aku ingat.
“Ava?”Suaranya terdengar jauh meskipun dia ada tepat di sampingku.
"Ava, kamu bisa dengar aku?”
Aku mencoba menjawab tapi tenggorokanku kering. Lidahku terasa asing di dalam mulut. Seperti organ yang bukan milikku.
“Air,”bisikku akhirnya. Suaraku parau.
Dia segera menyodorkan botol—teh dalam botol plastik dengan sedotan biru. Tangannya gemetar sedikit saat memberikannya padaku. Atau mungkin tanganku yang gemetar saat menerimanya. Sulit membedakan.
Aku minum. Cairan dingin mengalir ke tenggorokan, membawa kesadaran yang tidak sepenuhnya kuminta. Karena bersama kesadaran itu datang juga ingatan—
Aku baru saja berada di dalam kepalanya.
Aku melihat ingatannya. Merasakan ketakutannya. Hidup dalam tubuhnya ketika dia berusia delapan tahun di Leningrad yang membeku.
Bagaimana itu mungkin?
Botol itu hampir jatuh dari tanganku. Henry menangkapnya dengan cepat—refleks yang terlatih, seperti dia sudah terbiasa menangkap barang-barang yang jatuh dari tangan orang yang tidak stabil.
“Pelan-pelan,” katanya. “Jangan buru-buru.”
Aku menatapnya—benar-benar menatapnya untuk pertama kali sejak... sejak kapan? Sejak aku bangun? Sejak aku bertemu dia? Sejak aku mulai ada?
Wajahnya berbeda dari yang kuingat. Atau mungkin tidak berbeda. Mungkin aku yang lupa seperti apa seharusnya wajah manusia terlihat ketika kau melihatnya dari luar, bukan dari dalam.
Ada garis-garis lelah di sekitar matanya. Ada bekas jerawat lama di pelipis kiri. Ada sedikit ketidaksimetrisan—mata kanannya sedikit lebih kecil dari mata kiri.
Detail-detail kecil yang membuatnya nyata.
Atau membuatnya terlihat nyata.
Atau—Berhenti. Jangan mulai meragukan realitas. Tidak sekarang.
“Berapa lama?” tanyaku. Suaraku lebih stabil sekarang. “Berapa lama aku... ?”
“Pingsan?” Dia menyelesaikan kalimatku. “Sepertinya nggak lama. Mungkin satu menit. Atau sepuluh. Atau…” Dia berhenti. “Jujur saja, aku nggak tau. Aku nggak lihat jam.”
Tentu saja dia tidak melihat jam. Setelah apa yang baru saja kulihat—Mr. Govorov dan jam-jam yang hidup—tentu saja dia tidak akan melihat jam.
“Apa yang kamu ingat?” tanyanya pelan.
Pertanyaan yang berbahaya. Pertanyaan yang membuka pintu ke tempat-tempat gelap.
“Semuanya,” jawabku. Dan itu benar. Aku ingat semuanya. Leningrad. Rokok yang dicuri. Ibu dengan mata kosong. Jatuh dari balkon. Mengompol di kelas. Jam dinding yang berubah menjadi monster.
Semuanya.
Seperti itu adalah ingatanku sendiri.
Henry terdiam lama. Terlalu lama. Kemudian dia tertawa—tapi itu bukan tawa yang nyata. Hanya suara yang keluar karena tidak tahu apa lagi yang harus dikeluarkan.
“Aku tahu ini terdengar gila,” katanya, “tapi entah kenapa aku percaya kamu.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang bohong nggak terlihat takut kayak kamu sekarang.”
Dia benar. Aku takut. Sangat takut. Tapi bukan pada apa yang baru saja kulihat.
Aku takut pada apa artinya.
Jika aku bisa masuk ke ingatannya—jika aku bisa merasakan hidupnya—itu berarti ada yang sangat salah dengan batas antara aku dan dia. Atau lebih buruk: mungkin tidak pernah ada batas sejak awal.
Mungkin aku adalah bagian darinya. Sebuah proyeksi. Halusinasi. Hantu yang tidak tahu bahwa dia sudah mati.
“Henry,” kataku pelan. “Apa kamu... apa kamu yakin aku nyata?”
Dia menatapku—benar-benar menatapku untuk pertama kali. Mata coklatnya bertemu dengan mataku. Dan dalam mata itu aku melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin:
Keraguan.
“Aku nggak tau,” bisiknya.
Angin bertiup. Daun-daun kering berputar di sekitar kami. Suara jauh—lalu lintas, burung, manusia—terasa seperti datang dari dunia lain.
“Tapi,” lanjutnya, masih menatapku, “aku harap kamu nyata. Karena jika kamu nggak nyata, artinya aku sudah lebih gila dari yang kukira.”
Dia tersenyum—senyum yang sangat sedih hingga membuatku ingin menangis.
Kemudian dia berdiri. Menjulurkan tangannya untuk bersalaman—gestur formal yang aneh setelah apa yang baru saja kami bagi.
“Aku harus pergi,” katanya.
“Tunggu—”
Tapi dia sudah berbalik. Sudah berjalan menjauh dengan langkah yang terlalu cepat, terlalu desperate, seperti seseorang yang lari dari sesuatu.
Atau lari dari seseorang.
“Henry!”
Dia berhenti tapi tidak berbalik.
“Apa kita bisa ketemu lagi?” Kata-kata itu keluar sebelum aku bisa menahannya. Memohon.
Hening.
Kemudian, tanpa berbalik, dia berkata: “Aku tinggal nggak jauh dari sini. Seberang jalan besar itu.”
Dia menunjuk ke arah utara—ke jalan raya yang bising dengan motor dan angkot.
“Kalau kamu... kalau kamu ada waktu, kamu bisa mampir.”
“Aku akan datang,” kataku. Terlalu cepat. Terlalu yakin.
Dia mengangguk—masih tidak berbalik—kemudian berjalan lagi. Kali ini tidak berhenti.
Aku duduk di bangku taman itu, sendirian, dengan sisa teh yang sudah tidak dingin lagi dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab dengan memuaskan.
Aku tidak langsung pulang.
Tidak bisa pulang.
Apartemen itu—apartemen yang dulu aku bagi dengan dia—terasa seperti kuburan sekarang. Terlalu sunyi. Terlalu penuh dengan hantu dari masa lalu yang masih terlalu baru untuk disebut masa lalu.
Jadi aku duduk di mobil.
Civic biru tua tahun '92. Bukan milikku—milik ayah yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Masih berbau seperti rokok kretek yang dia hisap. Masih ada goresan di dashboard dari waktu aku kecil dan tidak sengaja mencoret-coretnya dengan kunci.
Detail-detail yang membuat sesuatu nyata.
Atau membuat sesuatu terasa nyata.
Aku menyalakan mesin. Radio menyala otomatis—siaran sore. Berita tentang krisis ekonomi. Tentang bagaimana mata uang melemah. Tentang bagaimana orang-orang mulai khawatir tentang masa depan.
Tapi aku tidak mendengarkan.
Yang kudengar hanya suara di kepalaku—suara Henry kecil yang bertanya pada Ibunya yang tidak menjawab. Suara detakan jam yang menjadi monster. Suara keheningan yang lebih keras dari teriakan.
Aku mengendarai mobil tanpa tujuan. Hanya bergerak. Jakarta sore hari—macet, panas, penuh asap knalpot. Tapi aku tidak peduli. Aku butuh bergerak. Butuh membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku masih bisa mengontrol sesuatu, bahkan jika itu hanya setir mobil.
Lampu merah. Berhenti.
Di sampingku, Bus Kopaja 15 penuh sesak. Wajah-wajah lelah di jendela—pulang kerja, pulang sekolah, pulang ke rumah yang mungkin tidak lebih baik dari tempat mereka tinggalkan.
Lampu hijau. Bergerak lagi.
Aku tidak tahu berapa lama aku berkendara. Mungkin tiga puluh menit. Mungkin tiga jam. Waktu terasa tidak linear—seperti berjalan maju dan mundur pada saat yang bersamaan.
Yang aku tahu, ketika aku akhirnya berhenti dan melihat keluar jendela, aku sudah berada di Timur Jakarta. Jauh dari apartemenku di Selatan.
Dan indikator bensin menyala—merah, mendesak.
“Sial,” gumamku.
Aku berputar arah—ke pom bensin kecil, lama, dengan cat yang mengelupas. Tapi bensin adalah bensin.
Aku parkir, mengisi, membayar dengan uang pas karena tidak sabar menunggu kembalian.
Kemudian aku melihatnya: supermarket kecil di sebelah pom bensin. Tidak mewah—hanya toko kelontong yang agak lebih besar. Rolling door setengah terbuka. Lampu neon yang berkedip.
Dan di etalase, aku melihat botol-botol wine.