Aku tidak seharusnya kembali. Aku tahu itu. Bahkan ketika kakiku menginjak rem di depan lampu merah, bahkan ketika tanganku memutar setir ke kiri alih-alih ke kanan, bahkan ketika mataku mencari tanda jalan yang mengarah ke Jalan Mawar—aku tahu aku tidak seharusnya kembali.
Tapi aku kembali.
Seperti ngengat yang terbang ke api. Meskipun dia tahu cahaya akan membunuhnya. Seperti orang yang berdiri di tepi jurang dan tidak bisa berhenti melangkah lebih dekat.
Ini bukan tentang memaafkan Henry karena dia pergi begitu saja. Ini bukan tentang mencari kejelasan atau klarifikasi atau apapun alasan rasional yang bisa kujadikan alasan.
Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan bahkan pada diriku sendiri.
Hanya ada satu kata yang mendekati hal ini: kebutuhan.
Bukan ingin. Tapi butuh—seperti oksigen, seperti air, suatu elemen yang membuatmu tetap hidup meskipun kau tidak yakin kau ingin tetap hidup.
Jakarta pagi itu cerah—terlalu cerah. Matahari membakar aspal yang sudah retak. Udara panas dan lembab membuat baju menempel di kulit. Motor dan angkot berdesakan di jalan raya, membunyikan klakson dengan amarah.
Tapi ketika aku melewati jalan besar di dekat supermarket—supermarket tempat kami berlari dari Jono kemarin—dan berbelok ke Jalan Mawar, dunia berubah.
Tidak secara literal. Tidak ada perubahan dramatis.
Namun dalam kualitas cahaya yang berbeda. Pohon-pohon besar di kedua sisi jalan menciptakan kanopi yang membuat segalanya lebih gelap, lebih dingin.
Seperti memasuki dunia lain.
Atau seperti turun ke tempat yang lebih dalam.
Jalan Mawar sepi. Sangat sepi untuk jam sepuluh pagi. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada ibu-ibu mengobrol di depan rumah. Tidak ada tukang sayur yang lewat dengan gerobaknya.
Hanya keheningan.
Dan rumah-rumah kontrakan di ujung jalan—deretan panjang bangunan sederhana dengan cat yang mengelupas dan pagar pendek yang berkarat.
Aku parkir mobil di depan gerbang. Mesin mati tapi aku tidak langsung keluar. Aku duduk di sana—entah berapa lama—menatap deretan rumah itu.
Nomor 47.
Yang paling ujung.
Dipisahkan dari rumah lain oleh kamar mandi komunal. Seperti diasingkan. Seperti tidak sepenuhnya bagian dari komunitas.
Ada tangga batu yang turun—tangga yang dibuat dengan sembarangan, batu-batu tidak rata, sebagian sudah retak. Di atas tangga itu, pohon besar—beringin, mungkin—menciptakan bayangan yang membuat seluruh area terlihat seperti sedang senja meskipun baru pagi.
Aku keluar dari mobil.
Udara terasa lebih dingin di sini. Atau mungkin itu hanya imajinasiku.
Aku berjalan ke gerbang. Tidak terkunci. Aku dorong—berbunyi keras, logam berkarat yang bergesekan.
Tidak ada yang keluar untuk melihat siapa yang datang.
Aku turun tangga batu itu—perlahan, hati-hati. Setiap langkah bergema aneh di keheningan. Seperti turun ke pemakaman.
Di bawah, lebih gelap lagi. Bayangan pohon menutupi hampir seluruh area. Hanya sedikit cahaya yang menembus—garis-garis tipis yang bergerak perlahan seiring angin menggerakkan daun.
Deretan rumah kontrakan terlihat seperti sel-sel penjara. Pintu-pintu tertutup. Jendela-jendela ditutup tirai atau papan. Tidak ada tanda kehidupan.
Kecuali rumah nomor 47.
Pintunya sedikit terbuka. Hanya celah kecil—tapi cukup untuk aku tahu ada seseorang di dalam.
Aku berhenti sepuluh meter dari pintu.
Jantungku berdetak terlalu cepat. Tanganku gemetar—entah karena gugup atau karena hal lain yang tidak bisa kusebut namanya.
Mengapa aku di sini?
Pertanyaan itu bergema di kepalaku tapi tidak punya jawaban.
Atau lebih tepatnya: ada jawaban tapi aku takut mengakuinya.
Karena jawaban sebenarnya adalah: Aku di sini karena aku tidak tahu lagi di mana lagi aku harus berada.
Karena tiga minggu sejak Adrian—atau mungkin lebih lama, mungkin tiga tahun, mungkin seumur hidup—aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara hidup di dunia normal.
Dunia di mana orang pergi kerja, pulang ke rumah, makan malam bersama keluarga, menonton TV, tidur, bangun, lalu diulangi lagi.
Dunia di mana ada makna. Ada tujuan. Ada alasan untuk bangun setiap pagi.
Aku sudah tidak punya dunia itu lagi.
Dan Henry—Henry dengan kerusakan di dalam dirinya, dengan ingatannya yang kusaksikan, dengan kegelapannya yang begitu familiar—terasa seperti satu-satunya hal yang nyata yang kusaksikan dalam waktu sangat lama.
Meskipun aku tidak yakin dia benar-benar nyata.
Meskipun aku tidak yakin aku benar-benar nyata.
Aku melangkah lebih dekat.
Lima meter.
Tiga meter.
Satu meter.
Berdiri di depan pintu yang setengah terbuka itu, aku mendengar suara dari dalam—suara radio. Siaran pagi. Berita. Sesuatu tentang pemilu. Tapi suaranya terdengar jauh, terdistorsi, seperti datang dari ruangan lain atau dari waktu lain.
Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Tapi sebelum buku jari menyentuh kayu, pintu terbuka lebih lebar.
Henry berdiri di sana—mata merah, rambut berantakan, kaos putih kusam dengan noda yang tidak bisa diidentifikasi. Rokok di mulut, setengah habis, abu jatuh di lantai kayu yang sudah tidak jelas warnanya.
Kami menatap satu sama lain.
Untuk sesaat—hanya sesaat—aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuat seluruh tubuhku dingin:
Ketakutan.
Bukan terkejut melihatku. Tapi takut—seperti seseorang yang melihat hantu atau seperti seseorang yang takut dia sedang berhalusinasi lagi.
“Ava?” Suaranya serak. “Kamu... kamu nyata?”
Pertanyaan aneh. Pertanyaan yang seharusnya lucu.
Tapi tidak ada yang lucu tentang cara dia mengatakannya—dengan suara yang bergetar, dengan mata yang tidak yakin, dengan tangan yang meraih udara seolah ingin memastikan aku solid.
“Ya,” kataku. Suaraku juga bergetar. “Aku nyata.”
“Apa kamu yakin?”
Dan entah kenapa—entah kenapa—aku tidak bisa menjawab dengan yakin.
Interior rumahnya lebih buruk dari yang kubayangkan.
Bukan hanya kotor—meskipun memang kotor. Baju berserakan di lantai. Piring kotor menumpuk di sudut. Asbak penuh hingga tumpah di meja kecil.
Tapi bukan itu yang mengganggu.
Yang mengganggu adalah suasananya.
Tirai tertutup rapat—semua jendela. Hanya lampu bohlam 15 watt yang menyala, memberikan cahaya kuning yang sakit-sakitan. Udara pengap—bau rokok basi bercampur dengan bau yang tidak bisa kukenali. Bukan bau busuk. Hanya... bau tertutup. Bau ruangan yang tidak pernah mengenal matahari.
Dinding—Tuhan, dindingnya—penuh dengan kertas. Catatan-catatan. Beberapa dengan tulisan rapi. Beberapa dengan coret-coretan yang tidak bisa dibaca. Beberapa hanya gambar—lingkaran-lingkaran, garis-garis, pola yang tidak punya makna atau punya makna yang terlalu dalam untuk dipahami.
“Maaf,” kata Henry, melihat ekspresi di wajahku. “Aku... aku tidak sering terima tamu.”
“Apa semua ini... apa yang kamu tulis di dinding?”
Dia tidak menjawab langsung. Hanya berjalan ke sudut ruangan, mematikan radio yang masih menyala dengan suara distorsi.
“Kadang,” katanya akhirnya, masih membelakangi aku, “aku perlu menulis hal-hal. Agar tidak hilang. Atau agar bisa hilang. Aku tidak selalu ingat mana yang mana.”
Aku melangkah lebih dekat ke salah satu dinding. Membaca tulisan yang terdekat:
3 Maret 1995. Hari Jumat. Aku bangun jam 6. Atau 7. Atau tidak tidur sama sekali. Aku tidak ingat. Ada seseorang di cermin tapi itu bukan aku. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu siapa aku.
Dadaku sesak membacanya.
Aku berpindah ke catatan lain:
Ibu menelepon. Atau aku pikir dia menelepon. Atau aku yang menelepon dia. Atau tidak ada yang menelepon siapa-siapa. Aku tidak yakin lagi.
Dan lagi:
Bayangan gelap datang lagi malam ini. Lebih dekat dari sebelumnya. Suatu hari dia akan menyentuhku dan aku akan menghilang.
“Henry,” bisikku. “Apa yang terjadi padamu?”
Dia berbalik menatapku. Wajahnya—Tuhan, wajahnya—terlihat lebih tua dari kemarin. Atau mungkin cahaya di sini hanya membuat segalanya terlihat lebih buruk.
“Aku sudah bilang,” katanya. “Aku sakit. Di sini.” Dia menunjuk kepalanya lagi—gesture yang sudah jadi kebiasaan.
“Tapi kamu... kamu masih bekerja? Kamu masih berfungsi?”
Dia tertawa—tapi itu bukan tawa yang nyata. Hanya suara yang keras dan kosong.
“Berfungsi?” ulangnya. “Ya, aku berfungsi. Seperti mesin yang rusak tapi masih hidup. Seperti lampu yang berkedip tapi belum padam sepenuhnya.”
Dia berjalan ke sudut lain ruangan—di mana ada meja kecil dengan barang-barang yang membuatku berhenti bernapas:
Botol-botol kecil. Beberapa kosong. Beberapa masih berisi pil. Label yang sudah pudar tapi masih bisa dibaca: Diazepam. Alprazolam. Haloperidol.
Dan di sampingnya—plastik kecil dengan sisa bubuk putih.
“Kamu…” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“Amphetamine,” katanya tenang. Terlalu tenang. “Untuk tetap bangun. Karena kalau aku tidur, aku bermimpi. Dan mimpi-mimpi itu... mimpi-mimpi itu lebih buruk dari kenyataan.”
Dia mengambil salah satu botol pil, membukanya, menuangkan dua pil ke telapak tangannya.
“Dan ini,” lanjutnya, menunjukkan pil itu, "untuk mematikan suara-suara ketika amphetamine membuatnya terlalu keras."
“Suara-suara?”
“Bukan suara seperti orang bicara. Lebih seperti... dengung. Seperti frekuensi yang salah. Seperti dunia sedang berteriak tapi tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali aku.”
Dia menelan kedua pil itu kering—tanpa air. Seperti sudah kebiasaan.
Kemudian dia menatapku—benar-benar menatapku.
“Apa kau tahu kenapa aku tidak langsung menutup pintu ketika melihatmu tadi?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Karena untuk sesaat—hanya sesaat—aku pikir kamu adalah halusinasi yang paling indah yang pernah kubuat.”
Kata-kata itu seharusnya terdengar romantis. Seharusnya membuat jantung berdegup cepat dengan cara yang baik.
Tapi yang kurasakan hanya ketakutan.
Karena bagaimana kau merespons seseorang yang tidak yakin kau nyata?
Bagaimana kau merespons ketika kau sendiri tidak yakin kau nyata?
Aku membawa makanan.
Entah kenapa—mungkin menyangkal, mungkin upaya untuk membuat ini terasa normal—aku berhenti di warung sebelum datang dan membeli nasi goreng, ayam, sayur. Dimasukkan dalam kertas nasi berwarna coklat.
Aku mengeluarkannya sekarang—dengan tangan yang gemetar, meletakkannya di meja kecil yang kupikir adalah meja makan meskipun tidak ada kursi yang pantas di sekitarnya.
“Aku pikir kita bisa... makan bareng,” kataku. Suaraku terdengar terlalu ceria. Terlalu dipaksakan.
Henry menatap makanan itu seperti menatap benda asing.
“Kapan terakhir kali kamu makan?” tanyaku.
Dia terdiam. Mencoba mengingat.
“Kemarin?” Tapi dia tidak terdengar yakin. “Atau... mungkin kemarin lusa?”
“Henry—”
“Aku nggak lapar.” Dia mengambil rokok lagi—yang keberapa hari ini? kesepuluh? kedua puluh? “Amphetamine membunuh nafsu makan. Salah satu efek sampingnya yang berguna.”
Tapi dia duduk—atau lebih tepatnya jatuh—di lantai dekat meja. Memandang makanan itu dengan tatapan kosong.
Aku duduk di seberangnya. Membuka kotak. Bau nasi hangat memenuhi ruangan—kontras aneh dengan bau rokok dan bau obat.
“Coba satu suap,” kataku pelan.
Dia menatapku lama. Kemudian—dengan gerakan yang sangat lambat, seperti bergerak dalam air—dia mengambil sendok. Mengambil sedikit nasi. Memasukkan ke mulut.
Mengunyah.
Menelan.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Kayak karton,” jawabnya jujur. “Tapi bukan salah makanannya. Semua terasa seperti karton sekarang.”