Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #5

Chapter 5 Musim Keheningan

(Ava)

Ada ritual aneh dalam menunggu seseorang yang mungkin tidak akan datang.

Kau mandi lebih lama dari biasanya—bukan karena ingin bersih, tapi karena air panas di kulit terasa seperti bukti bahwa kau masih ada. Kau berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya—bukan karena ingin mengagumi diri sendiri, tapi karena mencoba untuk mengenali wajah yang menatap balik. Siapa dia? Apa dia nyata? Apa dia akan tetap ada besok?

Aku melakukan semua itu sore ini.

Pukul 17:00. Tiga jam sebelum janji dengan Henry di restoran yang namanya dia tuliskan di secarik kertas—Aphrodite, nama dewi cinta Yunani, ironi yang terlalu jelas untuk tidak menyakitkan.

Air mengalir dari keran. Aku menunggu sampai uap mulai naik—tanda bahwa air sudah cukup panas untuk membunuh pikiran-pikiran yang tidak kuinginkan. Masuk ke dalam shower. Tutup mata. Biarkan air membasuh kulit.

Tapi pikiran-pikiran itu tidak mati.

Mereka hanya berubah bentuk—dari pertanyaan menjadi pernyataan, dari keraguan menjadi kepastian yang lebih menakutkan.

Kau tidak seharusnya pergi malam ini.

Kau tidak seharusnya mengajaknya.

Kau tidak seharusnya membiarkan dirimu merasakan hal yang tak ada pada seseorang yang bahkan tidak yakin kau nyata.

Aku membuka mata. Air mengalir dari rambut ke wajah, mengaburkan pandangan. Seperti melihat dunia melalui kaca yang retak.

Berapa lama aku sudah di sini? Lima menit? Lima puluh?

Waktu tak lagi bisa kusadari sejak aku bertemu Henry. Seperti jam yang jarum-jarumnya bergerak dengan kecepatan berbeda—kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat, kadang mundur.

Aku keluar dari shower. Handuk di tubuh. Cermin penuh uap.

Dengan jari, aku menggambar lingkaran di permukaan cermin—membersihkan uap, menciptakan jendela kecil untuk melihat diriku sendiri.

Wajah muncul perlahan. Mata yang terlalu lebar. Bibir yang terlalu pucat. Tulang pipi yang terlalu tajam—seperti seseorang yang lupa makan untuk waktu yang panjang.

Aku tersenyum pada refleksi itu.

Refleksi tidak tersenyum balik.

Atau mungkin dia tersenyum tapi tertahan—seperti bayangan yang lambat mengikuti objek aslinya.

Berhenti. Jangan mulai lagi.

Aku menjauh dari cermin.

Di kamar, aku berdiri di depan lemari—pintu terbuka, baju-baju tergantung seperti kulit-kulit kosong dari versi-versi diriku yang sudah mati. Dress hitam yang Adrian berikan untuk anniversary pertama kami. Blouse putih yang kubeli untuk wawancara kerja yang tidak pernah kuhadiri. Jaket kulit yang ayah belikan sebelum dia meninggal—masih berbau seperti dia, seperti rokok kretek dan cologne murah.

Aku mengambil jaket itu. Membaui—dalam-dalam, seperti mencoba menghirup kembali masa lalu yang sudah terlalu jauh untuk dijangkau.

Tidak ada yang tersisa kecuali bau kulit dan waktu yang membusuk.

Aku kenakan celana denim hitam—satu-satunya yang masih pas, atau mungkin sudah terlalu longgar tapi aku tidak peduli. Kaos John Lennon—wajahnya dengan kacamata bulat, ekspresi yang tenang, seperti dia tahu yang tidak kita tahu. Seperti dia sudah mati dan damai dengan itu.

Jaket kulit di atas semuanya—lapisan terakhir, perlindungan terakhir terhadap dunia yang tidak ramah.

Aku lihat jam. 18:30.

Satu setengah jam lagi.

Terlalu cepat untuk berangkat. Tapi terlalu lama untuk hanya duduk di sini dengan pikiran-pikiranku sendiri.

Aku ambil kunci mobil. Dompet. Tidak ada yang lain yang kubutuhkan.

Civic biru tua menungguku di parkiran apartemen—satu-satunya benda warisan dari ayah yang masih berfungsi. Kadang mogok. Kadang suaranya seperti hewan yang sekarat. Tapi dia masih hidup.

Seperti aku.

Atau seperti apa yang tersisa dariku.

Aku masuk. Menutup pintu. Duduk dalam keheningan yang hanya dipecah oleh suara jauh—lalu lintas, klakson, kehidupan orang lain yang tidak ada hubungannya denganku.

Kunci di ignition. Putar.

Mesin menyala—batuk, terbata, kemudian stabil.

Seperti paru-paru yang belajar bernapas lagi setelah terlalu lama menahan.

Aku tidak langsung pergi. Aku duduk di sana—entah berapa lama—menatap dashboard dengan goresan kecil dari masa kecil, menatap jalan di depan yang akan membawaku ke tempat yang tidak seharusnya kudatangi.

‘Kenapa kau melakukan ini?’

Pertanyaan tanpa jawaban.

Atau lebih tepatnya: pertanyaan dengan jawaban yang terlalu menakutkan untuk diakui.

Karena Henry adalah satu-satunya yang membuat kekosongan di dadaku kini terisi cukup—tak berlebihan. Bahkan jika yang kurasakan adalah rasa sakit—setidaknya itu adalah rasa yang nyata. Setidaknya itu bukti bahwa aku masih bisa merasakan sesuatu.

Aku injak gas.

Civic meluncur keluar dari parkiran, masuk ke jalan raya Jakarta yang sudah mulai macet—seperti biasa, kota ini terkutuk!.

Jacosta sore hari adalah lukisan yang sama diulang terus menerus: asap knalpot, klakson yang tidak sabar, angkot yang berhenti sembarangan, motor yang menyeberang tanpa melihat.

Tapi aku sedang tidak melihat itu semua.

Yang kulihat adalah jalan—garis putih yang membagi, lampu merah yang memerintah berhenti, lampu hijau yang memberi izin untuk bergerak.

Instruksi sederhana untuk hidup sederhana.

Andai saja hidup sesederhana itu.

Radio menyala—siaran sore. Berita tentang pemilu yang akan datang. Tentang Penguasa yang akan atau tidak akan mundur. Tentang bagaimana negara ini sedang di ambang entah krisis atau revolusi, tidak ada yang tahu pasti.

Aku matikan radio.

Aku tidak peduli tentang negara. Aku bahkan tidak peduli tentang diriku sendiri.

Yang kupedulikan adalah: apakah Henry akan datang malam ini?

Dan pertanyaan yang lebih menakutkan: apa yang akan terjadi jika dia datang?

Apa yang akan terjadi jika dia tidak datang?

Mana yang lebih buruk?

Aku tidak tahu.

Aku sampai di restoran pukul 20:00 tepat—satu jam lebih awal karena mobil tidak mogok seperti yang kukira. Atau mungkin aku mengemudi lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin waktu bermain-main lagi denganku.

Aphrodite berdiri di sudut jalan yang ramai—bangunan dua lantai dengan cat krem dan lampu-lampu kuning yang membuat segalanya terlihat hangat dari luar. Seperti rumah. Seperti tempat di mana orang-orang datang untuk merasa aman.

Tapi aku tahu itu bohong.

Tidak ada tempat yang aman.

Tidak untuk orang-orang seperti kami.

Aku parkir. Matikan mesin. Duduk dalam keheningan.

Jantungku berdetak terlalu cepat—tidak karena excited, tapi karena takut. Takut pada apa yang akan atau tidak akan terjadi di dalam restoran itu.

Masuk. Kau sudah sampai sejauh ini.

Aku keluar dari mobil. Udara malam Jacosta—hangat, lembab, berbau polusi dan makanan yang digoreng. Aku berjalan ke pintu masuk. Pelayan menyambut—senyum profesional, mata yang tidak benar-benar melihat. 

“Selamat malam. Berapa orang?”

“Dua,” jawabku. Suaraku terdengar asing. 

“Tapi temanku belum datang. Aku akan tunggu di dalam.”

“Silakan ikut saya.”

Dia membawaku ke meja di sudut—dekat jendela, cukup jauh dari meja lain untuk merasa privat tapi cukup dekat untuk tidak terasa terisolasi.

Tempat yang sempurna untuk menunggu seseorang yang mungkin tidak akan datang.

Aku duduk. Pelayan memberikan menu. “Mau pesan minum dulu?”

“Orange juice. Dengan es.”

Dia mengangguk dan pergi.

Aku sendirian sekarang—di antara meja-meja yang diisi pasangan-pasangan yang terlihat bahagia, keluarga-keluarga yang tertawa, orang-orang yang sepertinya tahu bagaimana cara hidup di dunia ini.

Aku bukan salah satu dari mereka.

Aku adalah anomali. hantu yang duduk di antara yang hidup.

Orange juice datang—gelas tinggi dengan es batu yang mengapung, warna oranye yang terlalu cerah untuk nyata. Aku menyentuh gelas itu. Dingin. Nyata. Atau terasa nyata. Aku tidak minum. Aku hanya duduk di sana, menatap es yang perlahan mencair, mengubah jus yang manis menjadi hambar. Seperti waktu yang perlahan mengubah harapan menjadi kekecewaan.

Pukul 20:20.

Henry belum datang.

Pukul 20:40.

Henry belum datang.

Es sudah mencair sepenuhnya. Orange juice sekarang adalah air berwarna oranye pucat—tidak manis, tidak asam, hanya... ada.

Pelayan menghampiri lagi. “Mau pesan makanan? Atau untuk dibungkus pulang” Di telingaku terdengar seperti sindiran.

Aku seharusnya mengatakan tidak. Seharusnya menunggu sampai Henry datang.

Tapi ada kemarahan yang mulai tumbuh di dadaku—bukan pada Henry, tapi pada diriku sendiri karena bodoh untuk berharap.

“Ayam bakar,” kataku. “Sekarang.”

Dia mengangguk dan pergi.

Aku menatap jendela—menatap jalan di luar di mana orang-orang berjalan tanpa tujuan atau dengan terlalu banyak tujuan. Menatap mobil-mobil yang lewat tanpa berhenti. Menatap dunia yang bergerak terus tanpa peduli aku ada atau tidak.

Makanan datang. Ayam bakar dengan nasi dan sayuran yang tidak kusentuh. Aku makan—cepat, tanpa merasakan, seperti kewajiban bukan kebutuhan.

Tenggorokan sakit menelan. Tidak karena makanan terlalu panas. Tapi karena ada yang tersangkut—bukan makanan, tapi kata-kata yang tidak terucapkan, tangisan yang ditahan, teriakan yang diredam.

Aku terus makan sampai piring kosong. Menyisakan sayuran.

Tidak ingat rasanya.

Tidak peduli.

Pukul 20:55.

Aku sudah di sini hampir satu jam.

Henry tidak datang.

Tentu saja dia tidak datang.

Kenapa dia harus datang?

Dia mungkin lupa. Atau sadar bahwa ini adalah ide buruk. Atau sedang bersembunyi di rumahnya dengan obat-obatan dan bayangan gelap yang lebih nyata dari aku.

Atau— Atau dia tidak pernah berencana datang sejak awal.

Dan aku—aku yang bodoh—yang berharap sesuatu yang berbeda.

Aku angkat tangan untuk memanggil pelayan. Minta bon. Bayar dengan uang pas karena tidak sabar menunggu kembalian.

Pelayan-pelayan menatapku—tersenyum satu sama lain, berbisik. Mungkin mereka kasihan. Atau mungkin mereka geli melihat wanita yang sendirian di restoran bernama sesuai dewi cinta. Ironi yang terlalu sempurna untuk tidak menyakitkan.

Aku berjalan ke pintu keluar—perlahan, memberi waktu terakhir untuk keajaiban yang tidak akan datang.

Pintu terbuka. Udara malam menyerang wajah. Dingin—lebih dingin dari seharusnya untuk Jakarta.

Atau mungkin aku yang kehilangan kemampuan untuk merasa hangat.

Aku berjalan ke mobil. Kunci di tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena marah? sedih? Keduanya? Atau tidak ada—hanya kekosongan yang berpura-pura menjadi emosi.

Masuk ke mobil. Tutup pintu. Duduk.

Tidak menyalakan mesin.

Hanya duduk di sana—di dalam kotak logam yang berbau seperti masa lalu—menatap jalan di depan yang dipenuhi pasangan-pasangan yang bergandengan tangan, tertawa, hidup dalam dunia yang bukan untukku.

Kau tahu ini akan terjadi.

Kenapa kau masih berharap?

Kenapa kau masih mencoba?

Lihat selengkapnya