Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #6

Menduga Bentuk

(Ava)

Henry tiba-tiba menyeruak seperti hantu yang tiba-tiba menjadi solid, seperti pikiran yang berubah menjadi daging.

Kami berdiri di tengah jalan, terlalu dekat dengan lalu lintas yang bergerak tanpa peduli. Sabuk pengaman mobilku terjepit pintu—aku bahkan tidak ingat kapan aku menutup pintu dengan tergesa seperti itu. Henry di depanku dengan napas tersengal, mata merah, wajah yang terlihat seperti baru saja lari dari sesuatu atau menuju sesuatu.

Atau keduanya.

“Bukannya kita janji jam sembilan?" Kata-kata keluar lebih kasar dari yang kuinginkan. "Kamu memangnya ke mana dulu sih?”

Dia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca—antara minta maaf dan sesuatu yang lebih gelap.

“Maaf,” katanya akhirnya. Suaranya serak. "Aku—"

“Maaf?” Aku bisa merasakan kemarahan naik—bukan hanya pada dia, tapi pada diriku sendiri karena masih peduli. “Demi setan, bukannya rumahmu dekat!”

Sumpah serapah yang aneh. Bukan gaya bicaraku. Tapi yang keluar dari mulut ketika kau terlalu lelah untuk berpikir adalah kebenaran mentah yang belum disaring.

Dan kemudian—kemudian dia tertawa.

Tertawa.

Setelah membuatku menunggu hampir satu jam. Setelah hampir kutabrak. Setelah—

“Kenapa kamu ketawa?” Aku melihat ke arah diriku sendiri—memeriksa apakah ada masalah dengan penampilanku. “Ada yang lucu?”

“Nggak sama sekali.” Dia berhenti tertawa tapi senyumnya masih ada—senyum yang aneh, senyum yang membuat seluruh amarahku perlahan menguap. “Tapi, demi Setan?”

Dan seperti api yang disiram air, kemarahan itu padam, karena aku baru sadar dengan kalimat tersebut.

Dan, cara dia mengatakannya—dengan suara yang berbeda dari suaraku, dengan mata yang tidak menghindar, dengan ketulusan yang terasa seperti sesuatu yang langka di dunia ini.

“Apa kita bisa ke tempat lain?” katanya, melirik ke jalanan yang semakin ramai. “Kalau kita ingin buat lebih ramai, mungkin kita harus berdebat di tengah jalan.”

Aku tidak bisa menahan senyum. Meskipun aku masih kesal. Meskipun ada bagian dariku yang ingin berteriak dan pergi.

“Oke,” kataku. “Tapi kamu harus jelaskan kenapa kamu terlambat.”

Dia mengangguk—terlalu cepat, seperti takut aku berubah pikiran.

Kami berjalan kembali ke restoran setelah aku memarkir mobil dengan benar kali ini. Henry berjalan sedikit lebih cepat—dengan tujuan yang jelas. Untuk membukakan pintu untukku.

Gesture kecil. Gesture kuno.

Tapi entah kenapa itu membuat dadaku sesak dengan cara yang tidak menyakitkan.

Di dalam restoran, kami duduk di tempat yang sama—meja di sudut dekat jendela di mana nama Aphrodite terbaca terbalik dari dalam. Seperti melihat dunia dari sisi lain. Seperti berada di dalam cermin.

Pelayan datang. Henry memesan kopi. Aku tidak memesan apa-apa—perutku masih penuh dari ayam bakar yang kumakan sendirian tadi.

Sendirian.

Kata itu bergema di kepalaku lebih keras dari yang seharusnya.

Henry melepas jaketnya—atau lebih tepatnya menyingkirkannya dengan canggung, seperti tidak terbiasa dengan ritual normal ini. Di bawah jaket, polo putih yang kusut. Di bawah lengan baju, tangan yang terlalu kurus.

Dan di telapak tangan kanan—goresan yang masih basah. Darah yang sudah mengering tapi bekasnya masih jelas.

“Tanganmu—” kataku.

“Nggak apa-apa.” Dia menyembunyikan tangan itu di bawah meja. “Cuma kegores.”

Aku tidak percaya. Tapi aku juga tidak memaksa.

Karena ada hal-hal yang lebih penting untuk ditanyakan.

“Oke, sekarang jelaskan.” Aku berusaha membuat suaraku terdengar tenang meskipun tidak. “Kamu ketiduran?”

Kopi datang—cangkir putih dengan uap yang naik perlahan. Henry mengangkatnya, meniup, menyeruput, kemudian menggeleng.

“Aku tadi salah restoran.”

Aku terperangah. Dari semua alasan yang kubayangkan—ketiduran, lupa, darurat—itu adalah yang paling absurd.

“Bagaimana bisa?”

“Ya tentu saja bisa. Itu wajar kan.”

“Wajar apanya?” Aku bisa merasakan amarah mulai naik lagi. “Bukannya kamu sendiri yang pilih restoran ini?”

Dia terdiam.

Aku menarik napas—dalam-dalam, seperti yang kulakukan sebelum menyelam. Memejamkan mata sejenak. Berusaha tidak melempar botol merica yang sedang kumainkan ke wajahnya.

“Lalu apa yang bikin kamu sadar kalau sudah salah tempat?”

“Pertama,” katanya pelan, “kamu nggak mungkin terlambat. Dan yang kedua, aku tiba-tiba ingat kalau nama restorannya beda.”

“Jadi menurutmu berapa lama kita saling menunggu seperti itu?”

“Mungkin sekitar setengah jam.”

“Nggak mungkin. Aku sampai sini sudah dari jam—”

“Iya aku tahu.” Dia memotong. “Aku juga lihat kamu nunggu.”

Dunia berhenti sejenak.

“Apa?”

“Aku lihat kamu masuk. Dari warung kopi di seberang jalan.”

Sesuatu dalam cara dia mengatakannya membuat seluruh tubuhku dingin.

“Kemudian kamu ingin pergi lagi?” Kata-kata keluar sebelum aku bisa menahannya. “Sebenarnya kalau kamu tadi masuk sebentar untuk bilang batal, aku pasti ngerti, Hen. Atau mungkin kamu bisa gunakan benda yang namanya telepon. Aku juga pasti ngerti.”

Aku tertunduk. Tidak ingin dia melihat ekspresi di wajahku—tidak tahu apakah itu kemarahan atau kesedihan atau keduanya.

Pandanganku keluar jendela—ke jalan yang ramai dengan kehidupan orang lain.

“Bukan.” Suaranya cepat. “Aku malu.”

Aku berbalik menatapnya. “Malu? Kenapa?”

“Entahlah.” Dia tidak menatapku. “Sepertinya salah.”

Penjelasan yang tidak menjelaskan apa-apa.

Tapi entah kenapa—entah kenapa—aku mengerti.

Karena aku juga merasakan hal yang sama. Perasaan bahwa yang salah. Bukan dengan situasi. Tapi dengan diri sendiri.

Perasaan bahwa kau tidak layak dengan situasi dan keadaan yang baik. Bahwa kau tidak pantas untuk kebahagiaan sederhana seperti makan malam dengan seseorang.

Perasaan bahwa kau adalah kesalahan yang berjalan.

Hening sejenak. Terlalu lama. Terlalu berat.

Aku harus mengubah topik sebelum keheningan ini menjadi terlalu nyata.

“Itu bioskop kan?” Aku menunjuk ke gedung di kejauhan—hanya terlihat angka 21 yang bersinar.

Henry mengikuti arah pandanganku. “Iya.”

“Kamu kapan terakhir kali nonton?”

Dia berpikir sejenak—atau berpura-pura berpikir. “Pemainnya Demi Moore dan—”

“Patrick Swayze?” Aku memotong dengan antusias. “Maksudmu Ghost?”

“Iya. Apa masih ada?”

“Tentu saja sudah nggak ada.” Aku tertawa—suara yang terasa asing keluar dari tenggorokanku sendiri. “Itu film lama. Kenapa nggak nonton film baru saja? Banyak kok yang bagus.”

“Nggak apa kan nonton film yang sudah pernah?" Suaranya berubah—lebih serius, lebih dalam. “Bukannya lebih enak kalau kita sudah tahu awal dan akhirnya? Andai hidup seperti itu, mungkin aku lebih tenang.”

Kata-kata itu menggantung di udara—berat dengan makna yang tidak terucapkan.

“Kalau begitu kita harus sewa Laser Disc-nya,” kataku, berusaha membuat suasana kembali ringan.

“Laser Disc?”

“Iya, di bioskop pasti filmnya sudah ditarik. Kecuali di Misbar.”

“Misbar?”

“Gerimis Bubar, alias Layar tancep.”Aku tersenyum. “Di layar tancep. Kamu tahu kan?”

Dia menggeleng sambil tersenyum—senyum yang membuatnya terlihat lebih muda, lebih hidup.

“Cowok rumahan,” ejekku.

Dan dia tertawa—bukan tawa yang dipaksakan seperti sebelumnya, tapi tawa yang nyata.

Kemudian aku menceritakan hal-hal acak—tentang film-film yang pernah kutonton, tentang bagaimana ayah dulu suka membawaku ke bioskop tua di bilangan Kota.

Dan dia mendengarkan—benar-benar mendengarkan, dengan cara orang yang sudah lama tidak punya siapa-siapa untuk didengarkan.

Kemudian dia menceritakan tentang kelas tari yang dia dipaksa ikuti saat SMP. Tentang betapa canggungnya dia. Tentang bagaimana dia selalu menginjak kaki partner tariannya.

Dan aku tertawa—tertawa sampai perutku sakit, sampai air mata keluar dari mata, sampai aku harus menutup mulut dengan tangan karena terlalu keras.

Tawa yang tidak kupaksakan.

Tawa yang tidak kubuat-buat.

Tawa yang nyata.

Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu—atau mungkin lebih lama, mungkin tiga tahun, mungkin seumur hidup—aku tertawa dan itu terasa seperti penyembuhan.

Bukan penyembuhan yang permanen. Bukan penyembuhan yang menyelesaikan masalah.

Hanya penyembuhan sementara—seperti obat bius yang membuat rasa sakit berhenti untuk beberapa saat.

Tapi itu sudah cukup.

Untuk malam ini, itu sudah cukup.

Waktu bergerak tanpa kami sadari—atau mungkin kami yang memilih untuk tidak menyadarinya. Terlalu asyik dengan dunia kecil yang kami ciptakan di meja sudut restoran itu. Dunia di mana hanya ada kami berdua dan tidak ada hal lain yang penting.

Sampai pelayan menghampiri—dengan sopan, dengan senyum yang minta maaf—mengatakan bahwa restoran akan tutup.

Kami melihat sekeliling—baru menyadari bahwa kami satu-satunya pelanggan yang tersisa. Kursi-kursi sudah diangkat ke atas meja. Lantai sudah disapu. Taplak meja yang kotor sudah digulung.

Kenyataan yang mengingatkan bahwa dunia di luar masih ada. Masih bergerak. Masih tidak peduli.

“Aku ke toilet sebentar,” kataku.

Di kamar mandi, aku menatap cermin—wajah yang menatap balik terlihat berbeda dari sebelumnya. Masih wajah yang sama. Mata yang sama. Tapi ada yang berubah.

Senyum.

Aku tersenyum tanpa dipaksa.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—aku tidak meragukan apakah aku nyata atau tidak.

Lihat selengkapnya