Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #7

Tiada Akhir yang Bahagia Dalam Kerinduan


(Ava)

Minggu pagi datang dengan cahaya yang terlalu terang.

Aku bangun lebih awal dari biasanya—atau mungkin aku tidak pernah benar-benar tidur. Hanya berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit yang retak, memikirkan Henry yang berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang padam satu per satu.

Memikirkan senyumnya yang rapuh ketika dia bilang “Sampai jumpa.”

Memikirkan bagaimana dia terlihat seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang atau akhir dari kehancuran—aku sendiri tidak tahu apakah dia akan melompat atau mundur.

Bahkan apartemenku jadi terlalu sepi untuk minggu pagi. Bibi yang biasanya datang membersihkan kamarku sudah selesai—semua rapi, semua bersih, semua kosong. Seperti tidak ada yang pernah hidup di sini. Aku seperti hantu yang menumpang di ruang yang bukan untukku.

Aku berdiri di jendela—menatap keluar ke jalanan yang perlahan mulai ramai. Melihat poster merah marun tertempel di beberapa tembok seberang.

Pameran lukisan.

Galeri Jacosta. Perupa muda.

Sesuatu dalam diriku berbisik: Ajak Henry.

Tapi bagian lain berbisik lebih keras: Jangan. Kau sudah terlalu dekat. Mundur sebelum terlambat.

Aku mengabaikan kedua bisikan itu.

Aku ambil buku telepon—halaman H. Jari mencari nomor yang dia tuliskan di secarik kertas.

Tapi tanganku berhenti di atas tombol.

Apa yang akan kukatakan?

“Eh, Hen, kita ke ke pameran lukisan yuk”?

Terlalu kasual. Terlalu normal. 

“Hei, mm aku khawatir dengan keadaanmu semalam”

Terlalu jujur. Terlalu rapuh.

Aku tutup telepon.

Lebih baik kejutan. Lebih baik langsung datang.

Lebih baik melihat dia dalam cahaya pagi—bukan dalam kegelapan malam.

Aku mandi cepat. Ganti baju—kaos sederhana, jeans, jaket yang sama. Tidak ada usaha berlebihan. Ini bukan kencan. Ini hanya... apa?

Kepedulian? Kekhawatiran? Kebutuhan untuk memastikan dia masih ada, masih nyata, masih bernapas?

Aku tidak tahu.

Aku tidak ingin tahu.

Civic tua—sudah familiar sekarang. Seperti perpanjangan dari tubuhku. Aku masuk. Nyalakan mesin. Berkendara ke Jalan Mawar secara otomatis.

Jalan yang kutempuh sudah terekam dalam kepalaku, aku tahu ada jalan pintas menuju rumah Henry, tapi aku memilih untuk melewati jalan yang sama. 

Sampai di depan rumahnya, sesuatu terasa salah.

Bukan hanya satu hal. Tapi banyak hal kecil yang berkumpul menjadi perasaan tidak nyaman yang besar:

Jalan ramai—anak-anak berlarian, ibu-ibu ngobrol, kehidupan normal minggu pagi.

Tapi kontrakan nomor 47 terisolasi dalam keheningannya sendiri—seperti ada lingkaran tak terlihat yang memisahkannya dari dunia. Gorden tertutup rapat. Pintu tertutup. Tidak ada tanda kehidupan.

Seperti kuburan yang berdiri di antara yang hidup.

Aku parkir. Keluar. Berjalan menuruni tangga batu—lebih lambat kali ini, lebih hati-hati.

Seperti ada sebuah kesalahan.

Aku tahu itu sebelum aku sampai di pintunya.

Aku ketuk. “Henry?”

Tidak ada jawaban.

Ketuk lebih keras. “Henry, ini aku. Ava.”

Masih hening.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat—tidak karena terlalu bersemangat tapi karena takut. Takut pada apa yang akan kutemukan di dalam.

Aku putar knob pintu.

Tidak terkunci.

Pintu terbuka perlahan—bunyi engsel yang berkarat, berdecit dengan lengkingan memecah keheningan.

“Henry?”

Kegelapan menyambut. Tirai tertutup rapat—tidak ada cahaya masuk kecuali sedikit yang mengikutiku dari luar.

Bau menyerang—tidak segar, tidak busuk, hanya... bau tertutup. Bau ruangan yang tidak pernah dibuka. Bau penyakit.

Dan kemudian aku melihatnya:

Jejak pakaian di lantai—seperti seseorang yang berjalan sambil menanggalkan semuanya. Jaket biru yang dia kenakan semalam. Polo putih. Sepatu—ditinggalkan seperti mayat yang berserakan.

Jejak menuju satu-satunya pintu tertutup di rumah itu.

Toilet.

“Henry?”

Kemudian aku mendengarnya:

Teriakan.

Bukan teriakan kesakitan. Bukan teriakan marah.

Teriakan ketakutan—teriakan seseorang yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.

“Henry!”

Aku berlari ke pintu toilet. Tertutup seperti terkunci dari dalam.

“Henry, buka pintunya!”

Teriakan terus—tidak berhenti, tidak melemah.

Aku dorong pintu dengan bahu—sekali, dua kali. Kayu tua, kusen yang keropos.

Ketiga kalinya—pintu terbuka dengan hentakan keras.

Dan aku melihat sesuatu yang akan menghantuiku selamanya:

Henry—telanjang dari pinggang ke atas, kulit pucat berkeringat—membungkuk di depan toilet. Kedua tangan masuk ke dalam lubang kakus.

Dan di mulutnya—

Oh Tuhan—

Di mulutnya ada kotoran. Kotorannya sendiri.

Seperti seseorang yang dipaksa memakan dosa-dosanya sendiri.

Seperti neraka yang mengambil bentuk yang paling menjijikkan yang bisa dibayangkan.

Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Tidak bisa mempercayai apa yang kulihat.

Kemudian dia berteriak—dengan mulut penuh dengan kengerian itu:

“PERGI! AKU LAGI DIHUKUM!”

Suaranya—bukan suaranya. Suara yang lebih tua, lebih rusak, seperti datang dari tempat yang lebih gelap.

“Siapa yang menghukummu?” Kata-kata keluar tanpa kusadari.

Dia tidak berbalik. Tidak menatapku. Hanya terus membungkuk—seperti seseorang yang berdoa pada dewa yang salah.

Aku coba menyentuh bahunya—untuk membalikannya, untuk melihat wajahnya. Tapi dia bergeming. Keras seperti batu.

Aku cium bau yang membuat perutku bergolak—bau kotoran manusia, bau penyakit, bau kematian di dalam yang masih hidup.

Dengan kedua tangan kutarik tubuhnya—dengan kekuatan yang tidak kusadari kumiliki.

Dia berbalik—

Dan aku melihat wajahnya:

Mata lebar—terlalu lebar, seperti tidak punya kelopak lagi.

Mulut terbuka—penuh dengan kengerian coklat kehitaman.

Tangan berlumuran—sampai siku, seperti sarung tangan dari neraka.

Seperti kanibal. Seperti monster. Seperti seseorang yang sudah kehilangan kemanusiaannya.

Perutku berputar. Aku berbalik—muntah di lantai. Cairan asam membakar tenggorokan. Mata berair.

Tapi aku tidak pergi.

Aku tidak bisa pergi.

“Pergi!” teriak dia lagi. “Aku nggak mau DIA marah lagi!”

“Siapa yang marah?” Aku menyeka mulut dengan punggung tangan. “Di sini nggak ada siapa-siapa.”

Dia terdiam—tiba-tiba, seperti boneka yang string-nya dipotong.

Mata bergerak—melihat sekeliling, seperti mencari sesuatu yang seharusnya ada tapi tidak ada.

“Apa mungkin dia sudah pergi?” bisiknya. Suaranya berubah—menjadi suara anak kecil. Suara Henry yang sebenarnya.

“Siapa?”

Kemudian dia berlutut—di depanku, dengan tubuh yang masih berlumuran kengerian itu.

Dan dia menangis.

Tidak ada air mata—atau sangat sedikit. Tapi suaranya—suara tangisan yang diredam, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dikeluarkan.

Aku tidak berpikir.

Aku hanya bergerak tanpa sadar—perasaan yang timbul dari kepedulian yang tak bisa kujelaskan:

Ambil handuk dari gantungan. Celupkan di air. Tambahkan sabun.

Tarik dia keluar dari toilet—keluar dari ruangan yang terasa seperti ruang penyiksaan.

Basuh wajahnya—perlahan, hati-hati, mencoba tidak menyentuh bibir yang masih berbau kengerian itu.

Basuh tangannya—menggosok sampai kulit merah, sampai tidak ada lagi yang tersisa kecuali kulit bersih yang gemetar.

Dudukkan dia di kursi. Bungkus dengan handuk kering—seperti membungkus anak kecil setelah mandi.

Kembali ke toilet—siram semua kengerian itu dengan air sampai tidak ada yang tersisa. Semprot parfum sampai bau hilang—atau setidaknya tertutup dengan bau kimia yang lebih baik dari kebenaran.

Buatkan teh—tangan gemetar menuangkan air panas. Bawa ke dia.

“Minum.”

Dia mencoba—tapi tangannya gemetar terlalu keras. Gelas hampir jatuh.

Lihat selengkapnya