(Henry)
“Namanya Clarisa.”
Kata-kata itu keluar dari mulut Henry, jauh lebih pelan daripada yang diinginkan—seolah menyebut nama yang seolah terlalu suci untuk diucapkan dengan lantang.
“Kami berdua satu kampus. Dan aku mengenalnya karena ganja.”
Ava menatapku dari seberang meja—tidak menghakimi, hanya menunggu. Dia sudah belajar untuk tidak menghakimi. Atau mungkin dia sudah terlalu rusak untuk peduli tentang apa yang baik dan mana yang buruk.
Cahaya sore masuk melalui celah tirai—garis tipis kilau yang membagi ruangan menjadi terang dan gelap. Seperti hidupku. Seperti semua hidup kami.
“Dulu saat masih kuliah di jurusan Arsitektur,” lanjutku, “aku sering menghisap ganja. Terutama ketika ada banyak tekanan dari tugas maupun materi kuliah yang aku nggak ngerti.”
Aku berhenti—mengambil rokok dari kotak yang hampir kosong. Menyalakannya. Menghisap dalam-dalam.
Memang bukan ganja. Tidak lagi. Tapi kebiasaan tetaplah kebiasaan.
“Ada teman di kelompok belajarku yang benci dengan kebiasaanku. Dia ketua kelompok—ingin menendangku keluar. Satu syarat yang dia beri padaku adalah berhenti ngeganja”
“Sialnya hanyalah, penciuman temanku ini sangat tajam”
“Mengendus?” Ava menyela. "Mirip anjing ya."
Aku tertawa—suara yang terasa asing setelah semua yang terjadi pagi ini. “Lebih parah. Anjing nggak pernah ceramah. Dia selalu ceramah soal dosa dan pahala. Dosa yang kulakukan. Bikin masuk Neraka.”
“Sialnya mungkin dia benar. Neraka memang menunggu pendosa sepertiku. Hanya saja, tidak mungkin orang seperti dia tidak ada di neraka juga.”
“Dia mengancam akan menendangku dari kelompok,” kataku. “Dan dengan nilai kuliahku yang terancam, aku nggak bisa apa-apa.”
“Dan akhirnya kamu berhenti?” tebak Ava.
“Tentu saja nggak.” Aku tersenyum—senyum pahit. “Aku tahu aku butuh kelompok belajar. Tapi aku juga nggak munafik kalau aku juga butuh ganja. Jadi diam-diam aku mulai cari tempat lain yang lebih aman.”
Tempat persembunyian. Seperti John dengan lemarinya.
Seperti semua orang yang terluka—kami mencari tempat untuk sembunyi dari dunia yang terlalu keras untuk dihadapi.
“Aku berkeliling di sekitar kampus,” lanjutku. “Mencari tempat yang nggak terpakai. Sampai akhirnya aku menemukannya: atap gedung fakultas.”
Aku tutup mata—mengingat tempat itu dengan kenangan yang menyakitkan.
“Tempatnya sempurna. Terbuka dengan angin yang kadang keras, kadang sejuk. Tepat di tengah atap ada bilik kayu yang sudah tidak terpakai—bisa kugunakan untuk berteduh. Pintunya rusak—nggak bisa dikunci dengan benar. Hanya aku yang tahu cara bukanya.”
Aku buka mata—menatap Ava yang menatapku dengan tatapan yang membuat dadaku sesak.
Empati? Kesedihan—mengenali dirinya sendiri dalam ceritaku?
“Dan untuk pertama kalinya aku bertemu dia.”
Suaraku berubah—menjadi lebih lembut, lebih jauh, seperti datang dari kenangan yang tak pernah terwujud.
“Saat itu aku lupa untuk nutup pintu. Aku kaget ketika dia datang—tadinya kupikir dia satpam kampus. Aku berdiri cepat, matikan ganja.”
Aku berhenti—menyeruput kopi yang sudah dingin.
“Tapi dia dengan tenang berkata: “Kok dimatiin? Aku justru datang ke sini karena itu. Tapi kamu masih punya lagi kan?”
Ava tersenyum—senyum kecil yang entah kenapa membuat dadaku sakit.
“Terus kamu... sebentar, biar aku tebak. Pasti kamu lari?”
Aku terkejut. “Bagaimana kamu tahu?”
“Karena itu yang pasti kamu lakukan,” katanya pelan. “Kamu selalu lari dulu, baru berpikir kemudian.”
Dia benar. Tentu saja dia benar. Dia sudah melihatku berlari dari bayangan di jalan gelap. Berlari dari diriku sendiri.
“Iya,” kataku. “Aku menabraknya sambil lari. Dan aku nggak kembali ke sana setidaknya untuk dua hari berikutnya.”
Aku nyalakan rokok yang kedua—meskipun yang pertama belum habis.
“Tapi hari ketiga aku coba untuk lihat keadaan. Dan saat aku kembali, keadaan dalam bilik itu sudah berubah.”
“Kenapa aneh?” tanya Ava.
“Seingatku di dalam bilik itu, aku cuma taro tikar untuk duduk. Dan hanya itu satu-satunya benda yang bersih.”
“Lalu yang aneh apanya?”
“Ruangan kumuh itu juga jadi bersih.” Aku tersenyum mengingat kejutanku saat itu. “Dan aku nggak bisa bilang kumuh—aku bilang hancur. Mirip kayak akuarium terbalik.” Bau kusen yang kena hujan. Bekas pakaian kuli yang terperangkap. Minimnya ventilasi. Seandainya aku tidak mabuk, aku pasti sudah mati di dalam sana.
Aku berhenti—mengambil napas.
“Tapi semuanya hilang. Digantikan dengan teko berisi air minum dan cermin kecil. Belum selesai aku mengamati perubahan itu, dia tiba-tiba muncul lagi dari belakang.”
“Gimana, kamu suka?” tanyanya.
Ava condong ke depan—tertarik sekarang. “Apa kalian langsung kenalan di situ?”
“Belum. Sebenarnya saat itu aku ingin lari lagi. Tapi dia mencegahku.”
Suaraku meniru suara Clarisa—suara yang sudah lama tidak kudengar kecuali dalam sekelebatan mimpi yang sudah tergerus oleh waktu.
“Daripada kamu lari dan nabrak aku lagi, lebih baik bantu aku habisin ini.”
Sambil mengacungkan selinting ganja padaku.
“Aku sudah bersihin ruangan ini. Aku pikir kamu nggak akan kembali lagi, karena cuma pengecut yang lari kayak gitu.”
Ava tertawa—tawa nyata yang membuat ruangan terasa lebih hangat. “Masa? Yang benar saja, kamu disebut pengecut. Terus kamu bilang apa?”
“Aku bilang ke dia, kalau pengecut beda dengan penakut."
“Maksudmu?”
“Penakut berlari hanya dalam keadaan bahaya, tapi dia juga selalu kembali untuk menghadapinya. Beda dengan seorang pengecut—dia selalu berlari tanpa pernah kembali.”
Ava tertawa lagi—mengejek, tapi dengan cara yang lembut. Dan aku tidak keberatan. Karena dia benar untuk menertawakan itu.
Karena aku memang penakut—atau pengecut—atau apapun label yang tepat untuk seseorang yang tidak tahu cara menghadapi apapun kecuali dengan lari atau mabuk, atau bahkan keduanya.
“Dan dia sama sepertimu sekarang,” kataku. “Cuma tertawa saja karena dia pikir aku mengarang.”
Aku tersenyum—senyum yang menyakitkan karena mengingat tawa Clarisa. Tawa yang terdengar seperti musik. Seperti sesuatu yang indah dan rapuh pada saat yang bersamaan.
“Kami berkenalan dan duduk di balik bilik reyot itu. Dia seorang mahasiswa pindahan dari PTN Bandung. Tadinya aku pikir dia anak salah seorang pejabat yang dengan mudah masuk kampus mana saja. Tapi ternyata bukan.”
Aku berhenti—mengambil napas dalam.
“Clarisa benar-benar pintar. Seluruh tugas kuliah dengan mudah diselesaikannya. Berkat kedatangannya juga aku berhasil keluar dari kelompok belajarku. Karena siapa yang butuh kelompok itu kalau aku bisa pintar sekaligus mabuk dengan satu orang?”
Cahaya sore semakin redup. Ruangan semakin gelap. Tapi aku tidak menyalakan lampu. Karena ada cerita yang lebih baik diceritakan dalam kegelapan.
“Suatu hari,” lanjutku, “aku datang ke kelas lebih awal. Letakkan tasku di kursi, pergi ke toilet. Saat kembali, tempat itu sudah ditempati mahasiswa lain.”
Aku bisa merasakan amarah lama itu bangkit lagi—amarah yang tidak proporsional untuk situasi kecil seperti itu. Tapi waktu itu aku sudah terlalu lelah. Terlalu stress. Terlalu di tepi.
“Aku kesal dan memintanya pergi tapi dia nggak gerak. Aku mengejek penampilannya—rapi kayak orang suci tapi aslinya pencuri. Dia ngamuk dan menantang berkelahi.”
Aku tertawa—tawa yang kosong.
“Dan kemudian Clarisa datang—bersamaan dengan dosen. Dengan cepat dia menarik dan membawa tasku. Tadinya aku pikir dia akan mengajakku duduk di tempat lain. Tapi dia justru mengajakku menghadap dosen—meminta izin sakit. Meminta agar aku bisa mengantarkannya pulang.”
“Dosen curiga—karena wajahku yang lebih pucat daripada Clarisa. Bertanya: “Sebenarnya siapa yang sakit, kamu atau dia?”