Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #9

Cinta yang Lebih Intim dari Kematian

(Henry)

Clarisa terbangun pada tengah malam—lebih tepatnya seperti baru datang dari tempat yang jauh.

Dia berusaha berdiri tegak tapi tubuhnya belum siap. Bergoyang seperti pohon dalam angin kencang. Wajahnya kacau—rambut berantakan, mata yang belum fokus sepenuhnya, bibir yang masih basah dari ludah.

Aku ikut berdiri—refleks untuk menjaga keseimbangannya. Memegang lengannya dengan lembut, seperti memegang sesuatu yang rapuh. Dan dia memang rapuh. Lebih rapuh dari yang dia perlihatkan.

Sesekali aku lepaskan pegangan tanganku—menguji apakah dia masih limbung. Dia masih goyah tapi lebih baik dari sebelumnya.

Clarisa mengambil teko air—tanpa memperdulikan gelas yang dia sediakan sendiri. Dia angkat teko itu tinggi—tengadah—mulut terbuka seperti burung kecil menunggu makanan.

Menuang air langsung dari teko ke mulut—Tapi lebih banyak yang masuk ke hidung daripada tenggorokan. Dia tersedak—batuk keras, air menyembur keluar.

Aku tertawa—tidak bisa menahan. “Kamu masih lemas. Harusnya minum dari gelas.”

Clarisa menatapku—mulut mengembang menyimpan air yang tersisa. Seperti ikan buntal. Seperti anak kecil yang sedang iseng.

Kemudian dia mendekat—Dan menyemprotkan air itu padaku. Sedikit demi sedikit melalui sela gigi depannya—seperti air mancur kecil yang rusak. Aku menghindar tapi dia mengejarku—tertawa sambil terus menyemprot sampai teko di tangannya terjatuh dan menumpahkan seluruh isinya di lantai kayu. Air menyebar—mengkilap di bawah cahaya lampu yang redup.

Dia tertawa—tawa yang nyata, tawa yang membuat seluruh ruangan terasa lebih hidup.

Kemudian dia duduk—tepat di sebelah genangan air itu. Seperti tidak peduli bahwa celananya basah. Seperti tidak peduli tentang apapun kecuali momen ini.

Aku menghampiri dengan waspada—karena senyum nakal di wajahnya belum hilang.

“Apa mimpimu, Hen?”

Pertanyaan yang datang tiba-tiba—seperti semua hal tentang Clarisa.

“Karena pagi masih lama,” lanjutnya. “Kamu nggak punya alasan dengan bilang ceritanya panjang.”

Aku terdiam. Karena bagaimana aku menjelaskan bahwa aku tidak punya mimpi?

Bukan tidak punya mimpi dalam arti tidak bisa bermimpi saat tidur—tapi tidak punya mimpi dalam arti tidak punya keinginan untuk masa depan.

“Aku nggak punya mimpi,” kataku.

Clarisa diam—menatapku dengan mata yang terlalu tajam untuk seseorang yang baru saja tersadar dari amphetamine.

“Nggak mungkin,” katanya pelan.

“Beneran.” Aku duduk di seberangnya—genangan air di antara kami seperti danau kecil. “Aku terbiasa cuma ngelakuin yang harus dilakukan aja. Nggak lebih.”

Clarisa tertawa—tapi tawanya terdengar sedih.

“Pengecut,” katanya.

Aku tidak berkomentar.

Karena dia benar.

Aku adalah pengecut—berlari dari semua kemungkinan masa depan karena takut pada kekecewaan.

“Kamu tahu apa yang membuat seseorang menjadi pengecut?” tanyanya. “Bukan karena dia takut. Tapi karena dia sudah menyerah sebelum mencoba.”

Kata-kata itu menusuk—tapi dengan cara yang aneh membuat aku ingin bercerita lebih banyak.

“Aku nggak tahu kenapa,” kataku pelan. “Tapi keinginan dalam diriku tiba-tiba menghilang begitu saja. Kayak ada yang matiin. Dan aku nggak tahu gimana cara menyalakannya lagi.”

Aku menatap genangan air—refleksi wajahku terdistorsi, tidak jelas.

“Nggak apa-apa kan, jika seseorang nggak tertarik pada apapun lagi?”

Hening sejenak.

Kemudian—entah bagaimana—pembicaraan itu berganti pada surat yang kutemukan dari tasnya.

Clarisa melihat wajahku dengan seksama—tadinya kupikir dia akan marah. Akan mengatakan ada perbedaan besar antara menemukan dengan menggeledah tas milik seseorang.

Tapi justru sebaliknya.

Dia menceritakan semuanya tentang pria itu.

Tentang Luc. 

Suaranya berubah ketika mengucapkan nama itu—menjadi lebih lembut, lebih jauh, seperti menyebut nama orang suci.

“Umurku sekitar 12 tahun,” katanya, “Saat Luc ke rumah kami.”

Dia tutup mata—seperti melihat kenangan dengan kelopak mata tertutup lebih jelas daripada dengan mata terbuka.

“Dia lebih tua satu atau dua tahun dariku, tapi kami terlihat seperti beda beberapa tahun. Dia jauh lebih dewasa, dan lebih mirip tokoh fantasi. Aku cuma bisa katakan, kalau dia datang dari tempat yang jauh—untuk sesuatu yang magis.”

“Kau bisa bayangkan, anak berumur 12 tahun sudah memiliki petualangannya sendiri—siapa coba yang nggak tertarik”

Clarisa buka mata—tapi tatapannya tidak pada aku. Pada sesuatu yang jauh di belakangku. Atau di belakang waktu.

“Aku membantunya—aku seperti Robin dan dia Batman,” lanjutnya. Senyum kecil muncul di bibirnya. “Sejak saat itu kami menjadi sangat dekat.”

Aku mendengarkan tanpa menyela—mengerti bahwa ini adalah cerita yang dia butuhkan untuk dikeluarkan.

“Luc memiliki banyak bakat, salah satunya adalah menggambar. Saat ulang tahunnya Ayahku memberinya hadiah—sebuah buku mengenai bangunan-bangunan terkenal di seluruh dunia.”

Dia berhenti—mengambil napas yang terdengar sakit.

“Setelah selesai membaca buku tersebut, Luc memutuskan untuk menjadi seorang arsitek, yang akan merancang ulang kerajaannya di kota ini”

“Semakin hari perilaku Luc menjadi semakin aneh,” kata Clarisa—suaranya mulai bergetar. “Dia pernah pergi ke hutan. Tentu saja nggak diizinkan. Tapi dia nekat dan tetap pergi.”

“Kami panik dan mulai mencarinya. Sampai pada suatu hari dia tiba-tiba muncul begitu saja—terlihat berbeda, lebih rapuh dari sebelumnya.”

Dia berhenti lagi—lebih lama kali ini.

“Khawatir dengan keadaannya, Ayah memutuskan untuk merawatnya di rumah dengan bantuan perawat pribadi. Tapi tak lama kemudian dia menghilang lagi—selama seminggu.”

Aku sudah tahu ke mana cerita ini menuju.

Tapi aku tetap mendengarkan—karena ada kebutuhan dalam caranya bercerita. Kebutuhan untuk mengulang trauma. Seperti menyentuh luka untuk memastikan itu masih sakit.

“Dengan bantuan polisi, keluargaku mencarinya. Tapi akhirnya mereka menghentikan pencarian dan memilih menunggu Luc muncul sendiri—seperti biasa.”

Suaranya pecah sekarang.

“Sampai akhirnya berita yang kami dapat mengagetkan aku dan Ayah.”

Dia menatapku—mata basah tapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Polisi menemukan mayat Luc di sebuah rumah kosong. Dia bunuh diri.”

Kata-kata itu jatuh di antara kami seperti batu.

“Untuk beberapa saat nggak ada yang percaya dengan berita itu. Kami percaya bahwa dia belum meninggal. 'Seperti biasa ketika kami berhenti mencari, dia pasti akan muncul.' Begitu keyakinanku.”

Clarisa tertawa—tawa yang paling sedih yang pernah kudengar.

“Tapi dia nggak pernah muncul lagi.”

Hening panjang. Hanya terdengar suara jauh dari luar—anjing menggonggong, angin bertiup.

“Setelah kepergiannya,” kata Clarisa akhirnya, “aku nggak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada diriku. Sampai sekarang”

Dia menatap tangannya sendiri—seperti tidak mengenalinya.

“Aku terus mencari kehampaan itu melalui banyak pria. Tapi selalu saja berakhir dengan cara yang sama. Aku mengacaukan semua hubungan itu sendiri—entah ada permasalahan atau tidak sama sekali. Mereka semua hanya kutinggalkan begitu saja, sama seperti sampah.”

Suaranya datar sekarang—seperti membaca laporan, bukan mengaku dosa.

“Untuk itu hingga saat ini aku tidak berhubungan dengan pria manapun. Aku kehilangan perasaan itu. Sesuatu dalam diriku seperti ikut terbawa bersama kematian Luc—tapi aku nggak tahu itu apa.”

“Aku memutuskan untuk menelusuri banyak hal tentang Luc,” lanjut Clarisa.

“Semua petualangan kami yang belum selesai terserak dalam kamarnya—saat itulah untuk pertama kalinya setelah dia meninggal, aku masuk ke dalam kamarnya.”

Dia tutup mata lagi.

“Duduk sendiri—membiarkan keheningan melesat dari banyak keramaian yang pernah ada di dalam kamar itu. Aku menemukan buku catatan miliknya. Di bagian sampul buku tersebut terdapat gambar gedung yang belum selesai dibangun—penuh dengan reruntuhan tapi masih terlihat indah. Seperti tak nyata dalam semesta kita”

Suaranya semakin pelan.

“Beberapa tulisannya bercerita mengenai kekagumannya pada Kota-kota Imajiner. 'Setidaknya pencarian ini akan berakhir sebentar lagi,' begitu katanya pada tulisan di bagian akhir dari buku tersebut.”

Dia buka mata—menatapku dengan tatapan yang membuat dadaku sesak.

“Kalau saja aku diberi kesempatan, aku ingin mengulanginya lagi.”

Dan begitu saja—setelah mengatakan itu—Clarisa terlelap kembali di sampingku.

Tubuhnya merosot perlahan—kepala jatuh di bahuku.

Aku tidak bergerak.

Hanya duduk di sana dengan tubuh Clarisa yang hangat di sampingku dan genangan air yang sudah mulai mengering di lantai.

Setelah pengakuan di atap itu, aku mulai banyak berpikir.

Tentang banyak kemungkinan.

Salah satunya tentang pria yang tepat bagi Clarisa.

Dan secara otomatis pikiranku juga memberikan beberapa alasan yang masuk akal tentang harapan bahwa Clarisa tertarik padaku.

Lihat selengkapnya