(Ava)
Setelah bercerita tentang Clarisa—tentang pusat tata suryanya yang sudah padam—Henry tampak lemah dan tidak ingin melakukan apa pun.
Kenangan itu seperti meresap kembali ke dalam otaknya—seperti air yang masuk ke dalam celah tanah, kembali menempati pojok tergelap dalam dirinya.
Beberapa jejak Clarisa masih membekas pada Henry.
Bukan seperti cetakan kaki di salju yang akan mencair dengan waktu.
Tapi seperti keretakan traumatis yang tidak bisa dibenahi lagi—dan itu ada di dalam pikirannya sendiri.
Aku berani bertaruh pasti sosok Clarisa selalu muncul setiap hari—dalam suara yang membuat telinganya berdengung, atau pada kemiripan sosoknya yang bisa tercecer pada perempuan manapun di dunia ini.
Gadis itu seperti menyeret Henry ke dalam dunia kecilnya yang hancur—kemudian meninggalkannya begitu saja sendirian.
Sekali lagi, untuk ukuran seseorang yang belum pernah kukenal—Clarisa telah membuatku merasakan beragam emosi.
Kemarahan pada seseorang yang sudah mati.
Iri pada hantu yang lebih dicintai daripada orang yang hidup.
Kasihan Henry yang terjebak di antara dunia orang mati dan dunia orang hidup—tidak sepenuhnya berada di salah satu.
Setelah cerita itu berakhir, Henry seperti enggan kembali lagi ke dunia nyata.
Dia seperti ingin hidup selamanya di sana—di masa lalu bersama Clarisa. Di tempat di mana dia masih bisa merasakan sesuatu selain rasa sakit.
Aku mencoba memanggilnya—namun dia hanya sesekali merespons. Seperti suara dari jauh yang tidak cukup keras untuk benar-benar didengar.
Aku menggunakan cara yang biasa untuk menyadarkannya—bahkan yang menggelikan, seperti memintanya untuk mencoba beberapa baju yang akan dia kenakan besok ke pameran lukisan.
“Tema pemerannya apa?” tanya Henry padaku.
Aku terdiam sejenak—menyadari kalau aku kehilangan ingatan tentang hal itu. Walaupun tidak sepenuhnya.
Setidaknya aku masih ingat tema pameran tersebut adalah surealis.
Dan ketika itu yang kukatakan padanya, tidak lama kemudian dia keluar dari kamar dan memperlihatkan penampilan barunya.
Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru gelap—mengingatkanku pada penebang kayu di Seattle. Dipadukan dengan celana kain berwarna abu-abu berpotongan saku mirip celana jeans.
“Tambahkan topi,” kataku. “Yang biasa dipakai pelukis.”
Dan dalam sekejap dia kembali lagi masuk ke kamar—seperti anak kecil yang bersemangat mencoba baju baru. Untuk sesaat aku lupa bahwa pagi ini aku melihatnya berlumuran kotorannya sendiri. Untuk sesaat aku lupa bahwa dia sakit.
Untuk sesaat—hanya sesaat—dia terlihat normal.
Dan itu membuat dadaku sesak dengan cara yang tidak menyakitkan.
Aku sampai di rumah Henry pada siang hari di hari Sabtu.
Matahari terlalu terang untuk musim ini—seperti dunia sedang merayakan sesuatu yang tidak kami mengerti.
Tadinya aku ingin mengajaknya makan di luar sebelum kami pergi ke lokasi pameran—tapi dia menolaknya.
Dia justru memintaku untuk memasak di rumahnya.
Sambil meyakinkan padaku bahwa dia akan memakan apa pun yang aku hidangkan.
Tapi karena aku tidak yakin—dan karena aku tidak ingin meracuninya—akhirnya aku membeli ayam bakar dalam perjalanan menuju rumahnya.
Henry membuka pintu—wajahnya terlihat cerah tidak seperti waktu lalu.
Mungkin karena dia cukup tidur.
Atau mungkin karena dia berhasil menutup pintu pada kenangannya.
Tidak hanya bayi yang merengek jika kurang tidur—ternyata orang dewasa pun sama.
Dia mengenakan kaos putih lengan pendek bergambar kodok dan celana jeans yang membuatnya terlihat lebih muda.
Jika saja dia sering merapikan dirinya seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau dia lebih tua dariku.
Aku memperhatikannya berjalan di depanku—ukuran kaosnya yang lebih kecil membuat tubuhnya tercetak jelas dari belakang.
Dia harus lebih sering tampil seperti ini, gumamku dalam hati. Segar dan ranum, seperti buah yang siap untuk dimakan.
Kemudian aku sadar aku sedang menatap—dan aku alihkan pandangan sebelum dia berbalik dan menangkap tatapanku.
Khusus untuk hari ini sepertinya dia telah menyingkirkan minuman beralkohol dan menggantikannya dengan minuman berkarbonasi.
Aku tahu keduanya sama tidak sehatnya.
Tapi kami bukan lagi manusia masa lalu yang menjaga kesehatan setiap saat. Kami manusia modern yang semua kebiasaannya mengarah pada kematian—hanya saja dengan kecepatan yang berbeda.
Saat Henry merapikan meja makan, aku membuka pintu belakang rumahnya. Cara sesederhana itu ternyata bisa membuat ruangan belakang rumahnya tidak lagi terlihat seperti gua kelelawar.
Pintu belakang tersebut mengarah pada kebun kosong—seluas mata memandang hanya terdapat rumput, pohon, dan pagar pembatas.
Di luar, cahaya matahari sedang mencapai titik didihnya—tapi karena ada pohon besar, keadaan di luar jauh lebih nyaman.
“Bagaimana kalau kita makan di sana?” kataku sambil menunjuk keluar.
Henry yang baru saja akan meletakkan piring di meja makan melihatku dan meminta bantuan untuk mengangkat meja tersebut keluar.
“Sepertinya nggak muat,” kataku sambil mengira-ngira lebar meja dengan ukuran pintu.
“Biar diputar bagaimana pun tidak akan muat,” kataku lagi, “kecuali kita potong kaki mejanya.”
Henry terdiam sejenak—kemudian memindahkan piring yang sudah ada di meja makan. Menarik taplak meja dan membawanya keluar.
Aku mengikutinya sambil membawa piring dan botol berisi minuman soda keluar.
Taplak meja itu dibentangkan tepat di dekat pohon besar—motif merah putih kotak-kotaknya membuat kesan piknik semakin kuat.
Seperti kencan.
Seperti dua orang normal yang melakukan hal normal di hari yang normal.
Kami berdua duduk dan menikmati sejenak suasana teduh—di mana cahaya matahari tidak dapat menembus lingkaran gelap yang dibentuk dari pohon.
Menikmati hembusan angin yang mirip seperti nyanyian.
Sementara alunan musik Pink Floyd mulai terdengar dari radio kaset yang dibawa Henry.
Lagu pertama berjudul Wish You Were Here—yang terdengar seperti lagu cinta yang tidak lazim. Intro yang lebih panjang. Lirik yang lugas. Membuat lagu ini seperti menyatu dengan ketenangan yang sedang kami rasakan.
How I wish you were Here, nyanyinya—dan aku bertanya-tanya apakah Henry memikirkan Clarisa sekarang. Apakah dia berharap dia yang duduk di sini—bukan aku.
Henry berkata kalau kaset yang sedang diputarkan adalah kaset campuran—tapi dia sendiri lupa lagu apa saja yang sudah direkam ke dalamnya.
Setelah coda yang sama panjangnya dengan intro lagu tersebut berakhir, sayup-sayup terdengar suara peralihan dari pita memutar lagu selanjutnya.
Setahuku Henry tidak menyukai band sekarang—tapi kenapa yang kudengar adalah 1979-nya Smashing Pumpkins?
Aku menatapnya dan dia hanya berkomentar—
“Aku nggak ingat pernah merekam ini. Lagu siapa ini?” Pelafalannya kaku—seperti orang yang mencoba mengingat sesuatu yang terlalu jauh.
“Sudahlah, Hen. Sekali-kali mendengarkan lagu yang aku sukai nggak apa kan—”
Henry memandang radio tapenya seperti manusia zaman purba melihat api untuk pertama kali. Wajahnya semakin terkejut ketika ketukan ganjil dari gitar Fender milik Cobain dimainkan. Ibarat anak kecil yang melihat idolanya di televisi—aku bersorak kegirangan ketika lagu berjudul Lithium dimainkan.
Kami saling berpandangan satu sama lain dengan ekspresi yang kontras—aku tersenyum sementara Henry terkejut.
“Aku tahu,” kataku sambil menggoda. “Kamu pasti mau bikin kejutan kan?”
“Iya,” jawab Henry dengan senyum kecut. “Tapi bukan buat kamu. Karena aku yang terkejut.”
Henry membiarkan lagu itu terus diputar sambil mengambil makanan.
Akibat kesenangan yang berlebihan—aku melakukan yang dilarang saat makan: berbicara.