(Ava)
Galeri ini tampak seperti gedung lainnya yang biasa kulihat.
Hanya ada papan nama yang bertuliskan nama dari galeri itu sendiri—yang tidak bisa kuingat meski telah kubaca berulang kali. Seperti otakku menolak untuk menyimpan informasi tentang tempat ini. Seperti sudah tahu bahwa ini akan menjadi tempat di mana sesuatu yang buruk terjadi. Saat kami masuk, kami melewati pintu masuk berukuran besar dari kayu jati yang bisa terbuka lebar.
Aku tidak tahu pasti ada berapa ruangan dalam galeri ini—mungkin sekitar tiga atau empat, yang masing-masingnya memamerkan lukisan dari para perupa muda. Setidaknya begitu menurut brosur yang kubaca sekilas. Dalam memamerkan karyanya, galeri ini cenderung menggunakan cara yang tidak biasa. Misalnya saja menggunakan pilar-pilar temporal yang dibentuk menyerupai aslinya. Aku serasa berada di dalam hutan dengan pohon-pohon yang digantungkan sebuah lukisan. Para pengunjung seperti terisolasi dari orang sekitarnya—karena tiap pilar digunakan untuk memajang dua buah lukisan yang saling berlawanan. Jadi selain berguna sebagai penghalang untuk melihat orang lain, pilar-pilar tersebut juga berguna untuk mengarahkan pengunjung melihat seluruh lukisan dalam pameran ini.
Seperti labirin. Seperti jebakan.
Kami beruntung—atau setidaknya aku beruntung—akhirnya menemukan pintu menuju ruangan selanjutnya. Entah disengaja atau tidak, desain ruangannya masih sama seperti di awal—penuh dengan pilar yang membuatku serasa tersesat di hutan. Tidak hanya hutan biasa, tapi hutan dengan latar berwarna ungu.
Aku merasa mendengarkan Purple Haze milik Jimi Hendrix yang diputar berkali-kali tanpa henti. Ruangan ini hanya membuat kepalaku pusing dan terasa lelah. Tidak ada tempat lain yang kuinginkan untuk kudatangi saat ini melebihi ruangan bertuliskan toilet. Dan aku meninggalkan Henry sendirian di antara lukisan-lukisan itu.
Keputusan yang akan kusesali selamanya.
(Henry)
Harus kuakui kalau idenya untuk datang ke pameran lukisan adalah yang terbaik.
Aku menikmatinya semenjak pertama kali memasuki galeri—tidak jauh sebelum itu, bahkan sejak di perjalanan tadi aku sangat bersemangat.
Dengan semua lukisan yang hebat ini. Namun entah mengapa aku merasa sepertinya Ava lebih tertarik pada ruangannya dibandingkan dengan lukisan yang dipamerkan. Badannya berputar-putar saat mengamati desain ruangan di galeri. Kedua matanya menatap seluruh detail di tiap sudut—seperti ingin merekam semua itu ke dalam otaknya. Kami berdua terpisah di ruangan kedua. Aku sendiri tidak menyadari kapan dia menghilang.
Tapi biarlah—dia pasti bisa menemukanku.
Untuk saat ini aku hanya ingin menikmati pameran saja.
Pandanganku langsung mengarah pada lukisan yang menampilkan wajah orang tua sebagai objeknya. Meskipun banyak lukisan yang lebih menarik secara tekstur maupun warna—namun bagiku wajah seorang manusia tetap mampu menghadirkan cerita tersendiri. Aku sendiri tidak tahu apakah penafsiran tepat. Jika aku merasa terhisap kemudian tersesat saat memandang wajah dalam lukisan itu. Wajah seorang kakek yang disandingkan dengan kursi dan sebuah jam berukuran besar. Dengan caranya memandang—aku sama sekali tidak merasakan adanya kemarahan maupun kesedihan.
Tatapannya itu hanya menyatakan keyakinan mengenai kedatangan seseorang yang telah dia tunggu. Dia seperti tidak pernah tahu apakah orang tersebut akan datang. Tapi dari setiap detail alur di wajahnya itu—aku dapat merasakan—datang atau tidaknya seseorang yang dia tunggu tidak menjadi masalah baginya. Tatapannya seperti berhasil memahami makna kehidupan yang lebih luas melalui satu kegiatan yang bernama penantian.
Seperti Clarisa menunggu Luc.
Seperti aku menunggu Clarisa.
Seperti semua orang yang terjebak dalam kerinduan—menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.
Lukisan itu berhadapan dengan lukisan lain yang menggambarkan sebuah pemandangan.
Untuk beberapa sebab aku mulai merasa cara pihak galeri menghadap-hadapkan lukisan ini adalah untuk mengatakan pada pengunjung bahwa semua lukisan ini saling menjalin cerita.
Seperti yang kulihat sekarang—sebuah jalan yang berkelok seperti tanpa ujung dalam lukisan pemandangan seolah menjelaskan apa yang ditunggu oleh wajah orang tua di depannya.
Tentang tugas tiap manusia dalam kehidupan yang hanya berjalan tanpa harus mempertanyakan akhir dari semua perjalanan itu sendiri.
Mungkin aku salah.
Tapi itulah yang kurasakan dari kedua lukisan itu—seperti ada pengikat di antara keduanya.
Setelah puas menikmati lukisan di ruangan kedua, aku segera beranjak pada ruangan selanjutnya.
Ava sama sekali tidak terlihat di sana.
Tadinya aku berniat untuk mencarinya—tapi setelah memasuki ruangan ketiga, pandanganku langsung terusik pada kerumunan pengunjung di depan salah satu lukisan.
Karena lukisan itu membelakangiku—aku hanya bisa menatap wajah para pengunjung yang sedang tertegun di depannya.
Salah satu pengunjung bahkan terlihat sedang menahan tangisnya.
Wajahnya bergetar—setelah itu dia mengambil sapu tangan dari balik jasnya.
Sementara pengunjung lain ada yang melihat begitu dekat sampai memicingkan matanya—seolah tidak yakin dengan penglihatan dan kaca mata yang dia kenakan.
Saat itulah aku mulai mendekat untuk mengetahui apa yang mereka lihat.
Menelisik di antara beberapa tubuh untuk mendapat letak yang tepat.
Dan—Aku melihatnya. Lukisan itu. Dan seluruh dunia runtuh.
Karena yang kulihat bukan hanya lukisan.
Yang kulihat adalah kenangan yang terlalu menyakitkan untuk diingat.
Yang kulihat adalah masa lalu yang sudah kubunuh tapi ternyata masih hidup.
Yang kulihat adalah Clarisa.
Wajahnya.
Persis seperti yang kuingat—tapi juga berbeda dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.
Seperti melihat hantu yang mengambil bentuk orang yang kita cintai.
Seperti melihat mayat yang bergerak.
Dan Kemudian—
Kemudian sesuatu dalam diriku pecah.
Tidak perlahan. Tidak bertahap.
Tapi sekaligus—seperti kaca yang dihantam batu.
Aku mendengar diri sendiri berteriak—tapi suaranya datang dari tempat yang jauh.
Aku merasakan tubuhku berguling di lantai—tapi seperti bukan tubuhku.
Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan—tapi masih bisa melihat wajah Clarisa di balik kelopak mata yang tertutup.
Suara pecahan gelas.
Suara orang berteriak.
Suara langkah kaki berlari mendekat.
Tapi semua itu terdengar seperti dari bawah air—jauh, teredam, tidak nyata.
Yang nyata hanya satu:
Clarisa menatapku dari dalam lukisan.
Dengan mata yang menuduh.
Dengan senyum yang menyalahkan.
Dengan ekspresi yang berkata: “Ini salahmu. Kematianku adalah salahmu.”
“TIDAK!” teriakku—atau mungkin hanya dalam kepalaku.
“AKU NGGAK—AKU NGGAK BERMAKSUD—”
Tangan-tangan menyentuhku.
Tangan-tangan yang kasar, yang menarik, yang memaksa.
Seragam. Seragam yang terlalu familiar—seperti seragam dari tempat yang pernah kukenal.
Tempat yang penuh dengan orang-orang yang berteriak dan menangis dan kehilangan akal.
Tempat yang—
“Oh.”
“Oh tidak.”
“Aku kembali ke sana.”
Aku melawan—mencoba melepaskan diri.
Tapi mereka terlalu banyak. Terlalu kuat.
Dan kemudian—di tengah kerumunan—aku melihat Ava.
Berdiri membeku.
Wajahnya pucat—mata terlalu lebar.
Menatapku tapi tidak bergerak.
Tidak membantu.
Tidak menyelamatkan.
Hanya berdiri di sana—seperti patung.
Seperti hantu yang menyaksikan.
“AVA!” teriakku—suaraku pecah. “AVA, TOLONG—”
Tapi dia tidak bergerak.
Dan aku ditarik menjauh—
Keluar dari galeri—Ke dalam kegelapan.
(Ava)
Aku berhasil menemukan toilet dalam hutan—begitu kataku pada diriku sendiri dengan gembira yang dipaksakan. Letaknya yang agak tersembunyi jauh di belakang. Untuk beberapa saat berada di tempat ini membuatku tidak bahagia sama sekali. Tapi jika melihat Henry dengan semangatnya—rasanya aku bisa meminjam itu sedikit darinya untuk bertahan sampai ini selesai.
Seorang wanita membuka pintu toilet kemudian tersenyum padaku. Senyumannya itu seolah berkata mengenai gilirannya menggunakan cermin. Ya, memang begitulah adanya—kami para wanita tidak menganggap cermin sebagai benda sakral.
Setelah sedikit sapuan lipstik dan perona di bibir dan wajahku—aku mempersilakan wanita tersebut menggunakan cermin. Tepat sebelum aku menarik pintu keluar—pintu tersebut telah terlebih dahulu terdorong oleh seorang wanita yang memberitahukan bahwa ada orang aneh mengamuk di galeri.
Cerita itu justru membuatku khawatir dengan keadaan Henry yang masih di dalam.
Aku kembali ke dalam ruangan pameran saat suara kegaduhan itu semakin jelas.
Aku menyelinap di antara kerumunan—