Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #12

Berlibur


(Henry)

Tidak banyak pakaian yang kubawa.

Hanya beberapa kemeja, kaos, serta celana yang memungkinkan untuk lebih lama digantung daripada dicuci.

Pakaian untuk orang yang tidak berencana tinggal lama.

Atau pakaian untuk orang yang tidak yakin akan pernah kembali.

Aku mengatakan pada pemilik rumah kontrakanku bahwa aku mungkin akan pergi sedikit lama—tanpa ingin berbohong mengenai tujuanku, namun sepertinya itu tidak mungkin.

Karena bagaimana aku menjelaskan bahwa aku pergi ke tempat untuk orang-orang yang kehilangan pegangan pada kenyataan?

Bagaimana aku mengatakan bahwa aku tidak yakin apa yang nyata dan apa yang tidak?

Selain memaksaku untuk menyelesaikan pembayaran bulanan, dia juga meminta untuk menepati janji kepulanganku—karena jika tidak, aku bisa mengucapkan selamat tinggal pada rumahku.

Akhirnya dengan uang yang tersisa, aku melunasi sewa rumah selama dua bulan. Satu bulan sebagai kewajiban—sedangkan satu bulannya lagi sebagai bentuk kesetiaanku pada rumah tersebut. Atau mungkin sebagai harapan naif bahwa aku akan kembali. Kukatakan juga kalau aku hanya menjenguk saudaraku yang berada di Semarang.

Kebohongan yang mudah.

Kebohongan yang nyaman.

Setelah menyelesaikan itu semua, aku kembali ke dalam rumah untuk memeriksa ulang semua kunci dan barang yang kubawa sekali lagi. Aku membuka setiap pintu kemudian menguncinya sekali lagi—begitu untuk setiap pintu. Ritual yang tidak masuk akal tapi entah kenapa terasa perlu. Ketika sampai giliran pintu belakang—sekilas bayangan Ava menyeruak begitu saja. Seperti cahaya yang berkelip mengganggu karena menyilaukan mata. Namun setidaknya aku tahu kalau aku masih bisa mengingatnya—dan itu sangat melegakan.

Atau menakutkan. Karena jika aku bisa mengingat Ava—apakah itu berarti dia nyata? Atau apakah itu berarti halusinasinya semakin kuat? Aku menghela napas dan mencoba meyakinkan diriku bahwa saat ini dia pasti sudah baik-baik saja. Meskipun aku tidak tahu apakah "dia" yang kumaksud benar-benar ada di luar sana—Atau hanya ada di dalam kepalaku yang sakit.

Tidak beberapa lama kemudian Anna memanggilku dari luar. Dia masuk ke dalam dan menawarkan bantuan untuk membawakan barang yang kubawa. Dia terkejut saat melihat barang bawaanku muat dalam satu ransel berwarna coklat saja.

“Cuma ini?” tanyanya—suaranya mencoba terdengar ringan tapi gagal.

“Cuma ini,” jawabku.

Karena apa lagi yang perlu kubawa ke tempat di mana aku tidak tahu akan bertahan berapa lama? Hari ini Anna terlihat lelah. Kantung tidur di matanya terlihat jelas meski sudah berusaha menutupinya dengan perona wajah. Aku bertanya apakah dia punya masalah—tapi dia tidak berkata apa pun. Dia mengenakan rajutan berwarna abu-abu gelap—mirip dengan keadaan langit pagi sebelum matahari terbit. Seperti biasanya dia suka memainkan lengan panjangnya—berkali-kali dia menggulungnya hingga siku kemudian menurunkannya lagi. Selalu seperti itu sejak dulu. Dan dia tidak pernah sadar ketika melakukannya. Kebiasaan kecil yang membuatnya terasa nyata. Yang membuatnya berbeda dari Ava yang mungkin hanya ada dalam kepalaku.

Setelah menaiki tangga dari rumah sewaanku menuju jalan besar—Anna membukakan pintu mobil milik dokter Ronny yang telah menunggu kami. Dokter Ronny menanyakan padaku tentang kejadian di galeri. Aku menceritakan semua padanya—sementara Anna memperhatikanku dari cermin yang sesekali kulihat.

“Apa dia selalu datang?” tanya dokter Ronny padaku.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Nggak, cuma kadang-kadang aja,” jawabku santai—meskipun tidak ada yang santai tentang halusinasi yang datang kapan saja.

“Tapi kamu takut padanya?”

“Iya, takut sekali.”

Tangan Anna tiba-tiba meremas dengan lembut lenganku dari kursi belakang—seperti mengatakan: aku di sini, aku nyata, jangan takut.

“Jadi kamu takut menatapnya?”

Aku menggeleng.

“Apa yang biasanya dia katakan?”

“Kebanyakan ancaman saja.”

“Ancaman soal apa?”

“Agar saya menjauhi orang lain.”

“Kira-kira kenapa dia melakukan itu?”

Lagi-lagi aku menggeleng.

Karena bagaimana aku menjelaskan bahwa halusinasiku cemburu pada setiap orang yang mencoba mendekati?

Karena bahkan dalam kematian—atau dalam kegilaan—dia masih ingin memiliki aku sepenuhnya.

Dokter Ronny tersenyum tanpa menatapku—pandangannya fokus pada jalanan yang sedang kami lalui.

Tidak beberapa lama kemudian dokter Ronny memasang kaset dari Ella Fitzgerald. Senandung dari lagunya membuat suasana di dalam mobil itu terasa seperti kelab malam yang dulu biasa kudatangi. Perasaan tenang dari campuran alkohol dan obrolan santai antar kawan—Semakin membuatku lupa bahwa semua ini pernah berawal dari sesuatu yang sederhana. Aku membiarkan pikiranku untuk pertama kalinya merunut kenangan itu di tempat yang semestinya—terus tersusun semakin rapi walaupun tidak detail.

Namun aku bisa mengingat—selepas amphetamine dari Clarisa, hidupku seperti masuk ke dalam pasir hisap. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk melupakannya. Seperti yang pernah kukatakan—kenangannya seperti tercecer di banyak peristiwa dalam keseharianku.

Dan itu yang membuatnya tetap hidup bersamaku. Hingga kemarin. Bayangan Clarisa seperti memudar secara perlahan. Digantikan oleh bayangan Ava yang mungkin sama tidak nyatanya.

Saat kaset dimatikan, aku mulai menyadari bahwa kami sudah sampai.

Menelusuri beberapa jalan kecil yang tadinya kukira tidak bisa dimasuki mobil—kami akhirnya berhenti di sebuah tanah lapang yang dipergunakan sebagai lahan parkir. Kami turun dari mobil dan berjalan melalui perumahan padat penduduk. Tidak lama setelah itu kami sampai di sebuah rumah yang lebih besar daripada rumah kebanyakan di sekitarnya.

Kami memasuki halaman luas dari rumah tersebut. Di depan pintu masuk kami bertiga disambut oleh seorang lelaki muda bernama Anton.

Dokter Ronny memperkenalkannya sebagai rekan kerja dan pemilik rumah. Sama seperti dokter Ronny—Anton juga banyak tersenyum. Senyum orang yang terbiasa berurusan dengan orang-orang seperti aku. Orang yang rusak. Dia mempersilahkan kami masuk ke dalam. Kami berempat duduk saling berhadapan di sebuah ruangan yang sepertinya sebuah kantor.

Mereka bertiga saling menanyakan kabar masing-masing—meski bukan sahabat lama, mereka terlihat cukup akrab. Sementara aku duduk di dekat mereka—hanya termangu hingga merasa bosan. Seperti anak kecil yang dibawa orang tua ke tempat orang dewasa. Seperti orang yang tidak punya suara dalam keputusan tentang hidupnya sendiri.

Mungkin ada pilihan lain, ucapku dalam hati.

Kemudian aku berdiri dan melihat keadaan sekitar tempat tersebut. Anna melihatku beranjak dan berusaha untuk menahanku. Dengan cepat Anton menahannya dan berkata—

“Silakan saja kalau mau lihat-lihat.”

Setelah mendapat izin tersebut, aku meninggalkan mereka sembari menyalakan sebatang rokok. Tidak banyak yang bisa kulihat dari tempat tersebut—selain sebuah rumah besar milik seseorang yang direkomendasikan untuk orang sepertiku.

Orang sepertiku.

Frasa yang terus bergema dalam kepalaku.

Aku berkeliling di sekitar tempat tersebut—melihat halamannya yang luas. Pada awalnya kupikir seluruh halaman di tempat ini telah tertutup dengan beton—namun ternyata tidak semuanya. Di ujung jalan yang tidak jauh dari rumah besar itu, lapisan beton itu berakhir.

Sebagai penyambungnya terdapat rumput tipis yang membawaku pada sisi sebelah kiri dari bangunan utama yang tidak tampak sebelumnya. Terdapat jalan setapak yang ditutup oleh beberapa ubin bulat di sepanjang jalannya.

Aku menyusuri jalan tersebut dengan cara menginjak ubin bulat tersebut—tidak ingin menyentuh rumput dan membawa tanah ke dalam rumah besar itu nanti. Lagipula sepertinya tidak ada yang melakukan itu pada rumput halus yang terawat dengan indah seperti ini. Tidak beberapa lama kemudian jalan tersebut berakhir di sebuah rumah yang jauh lebih besar daripada rumah sebelumnya. Lebih mirip sebuah gedung yang biasa dipergunakan untuk kantor atau sekolah.

Atau rumah sakit jiwa.

Gedung tersebut ternyata tidak dapat terlihat dari depan. Saat kami bertiga datang—yang kami lihat hanyalah fatamorgana dari perpaduan warna kelabu dan pohon besar yang membuatnya tersembunyi. Seperti mereka tidak ingin orang tahu tempat ini ada. Seperti tempat untuk menyembunyikan orang-orang yang memalukan. Aku menduga bahwa gedung tersebut masih tersambung dengan rumah besar di depannya. Jalan setapak yang kulewati tadi hanyalah jalan memutar menuju gedung ini. Tapi sebenarnya jika aku mau bertanya pada pegawai di sini—pasti ada jalan langsung dari rumah besar tersebut untuk sampai ke sini.

Kehadiranku di depan gedung ternyata mengundang pertanyaan bagi seseorang. Pria yang tadinya berada di dalam kini berjalan menghampiriku. Aku mematikan rokok yang sedang kuhisap saat dia menanyakan keperluanku. Untuk sesaat aku hanya terdiam. Karena apa yang harus kukatakan? Aku datang untuk dirawat karena aku tidak bisa membedakan nyata dari tidak nyata? Aku datang karena aku melihat wajah mantan kekasihku yang sudah mati di dalam lukisan dan kehilangan akal?

Aku mengatakan bahwa aku datang bersama dokter Ronny—dan saat itu juga pria tersebut tersenyum dan mempersilahkan aku masuk. Aku menolaknya dengan sopan dan memilih untuk duduk di kursi depan. Pria tersebut kemudian masuk lagi ke dalam. Aku langsung menyadari pertanyaan yang kulupakan mengenai gedung ini: Berapa lama aku akan tinggal di sini?

Dan apakah aku akan keluar dengan lebih baik—

Atau lebih rusak?

“Gimana, Hen? Nyaman?” tanya dokter Ronny yang datang menghampiriku bersama Anna dan Anton.

Belum sempat aku menanggapi pertanyaan tersebut—dokter Ronny sudah beralih untuk bersalaman dengan seorang pria yang bertelanjang dada, mengenakan kaca mata hitam dan celana pendek.

Anna tersenyum saat melihatnya—kemudian kembali berbicara lagi dengan Anton.

“Ayo, Hen, kita lihat-lihat ke dalam,” kata Anton padaku.

Aku beranjak dari kursi dan mengikutinya ke dalam. Kami berempat berjalan mengikuti Anton dan menemukan beberapa orang yang sedang berkumpul dalam sebuah ruangan. Pintu ruangannya terbuka dan aktivitas di dalamnya seperti sebuah kelas di sekolah. Anton mengajak kami semua untuk melihat ke dalam.

Lihat selengkapnya