Musim Kesunyian

patihmcgulam
Chapter #13

Kosmonot

(Henry)

Aku berada di kamar nomor tujuh. Bersebelahan dengan seseorang yang baru saja kembali dari kamar kecil. Saat pintunya tertutup—aku mendengar dia mematikan saklar lampunya. Dan itulah suara terakhir yang dapat kudengar hari ini.

Setelah itu semua kehidupan seperti terhisap dan berpindah ke tempat lain. Tidak hanya kehilangan cahaya—tempat ini juga mampu menyembunyikan semua bunyi yang biasanya terdengar secara wajar. Seperti suara interaksi antar manusia. Atau suara benda-benda yang dipindahkan setelah digunakan. Semua itu biasanya terdengar dari sebuah tempat yang berisi manusia—tapi tidak di tempat ini. Aku seperti penghuni di kota mati.

Paling tidak di dalam sini.

Semua keadaan ini berbeda dengan yang terjadi di balik jendela—segala hal yang kusebutkan tadi ada di balik jendela tersebut. Kehidupan yang tidak dibatasi waktu. Kehidupan yang tidak dikurung. Kehidupan yang bebas. Aku tidak ingin menyebut tempat ini sebagai penjara—karena di dalam penjara pun pasti lebih ramai daripada di sini, aku yakin itu. Pasti ada yang beda. Yang menyebabkan tempat ini seolah kehilangan penghuninya pada waktu tertentu. Aku enggan memikirkan itu lebih jauh.

Aku kembali ke atas kasurku—bunyi pegas dari bagian dalamnya berdecit keras seperti layaknya kasur baru. Tidak banyak hal yang dapat kuperhatikan dalam kegelapan—hanya kesadaran yang perlahan memudar bagai awan di langit yang saling terpisah. Dan dalam kegelapan itu—Aku memikirkan Ava.

Apakah dia nyata?

Apakah dia pernah ada?

Atau apakah dia hanya konstruksi dari pikiranku yang sakit—cara untuk bertahan dari kesepian yang terlalu besar? Aku tidak tahu. Dan itu yang paling menakutkan. Aku terbangun setelah merasakan guncangan ringan di kedua kakiku. Telapak tangan yang basah menjadi stimulus yang tepat bagiku untuk sedikit terhentak.

Bersamaan dengan kejadian itu—hari pertamaku di Rumah Rehat dimulai.

Aku dibangunkan oleh seseorang bernama Tony.

Ketika kutanyakan apakah dia penghuni di tempat ini—dia menggelengkan kepalanya, sambil mengatakan bahwa kami sudah bertemu kemarin di kelas lukis. Setelah mandi, aku turun bersama Tony ke lantai bawah untuk sarapan. Kantin berada di lantai dua—satu koridor dengan beberapa ruangan yang dijadikan kelas dan perpustakaan. Semuanya tampak biasa seperti kantin pada umumnya. Perbedaannya mungkin hanya pada sedikitnya interaksi yang dilakukan oleh para penghuni di tempat ini.

Kawanan pria yang memakai seragam putih hanya berkumpul dengan sesamanya—mereka kerap kali tersenyum dan saling bertukar cerita satu sama lain. Mereka layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu.

Sementara kami—para penghuni—duduk dalam keheningan. Seperti orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk berbicara. Atau kehilangan sesuatu untuk dibicarakan.

Aku duduk bersama dengan tiga orang lainnya. Dua di antaranya tampak seumuran denganku—sementara yang satunya lagi jauh lebih muda. Kami berempat tadinya hanya fokus untuk menghabiskan sarapan masing-masing—sampai akhirnya Tony datang kemudian memperkenalkan diriku pada mereka.

“Teman-teman sekalian, ini Henry. Henry Purnomo. Sama seperti kalian, dia juga sedang berlibur,” ujar Tony sambil menepuk bahuku beberapa kali.

Kata berlibur terdengar seperti lelucon yang kejam.

“Berlibur dari apa?” kata salah seorang di depanku.

“Terima kasih untuk pertanyaannya ya, Oki. Henry ini sepertinya sedang mengalami kelelahan. Ya, biasa—tipikal pekerja kantoran,” kata Tony seraya tertawa.

“Lebih mirip lari dari masalah,” kata Oki dengan sinis.

“Nggak sama sekali kan, Hen?” tanya Tony sambil menatapku.

Walau aku tidak merespons pertanyaannya itu—Tony memberi kesimpulannya sendiri.

“Tuh kan, nggak.”

“Kamu tahu kan, Ton—Nggak ada yang bisa lari dari masalah. Tuhan buat itu supaya kita ingat sama Dia terus,” jawab Oki, lalu dia kembali makan sarapannya.

Cara dia bicara aneh yang membuat aku merasa dia mengerti—mengerti bahwa kita semua di sini karena mencoba lari tapi gagal.

“Nah, yang ini Oki. Dia seorang penulis, ya kan, Ki?”

Oki diam tidak menjawab.

Lalu Tony memperkenalkan yang lainnya. Regis yang bekerja sebagai Event Organizer untuk perusahaan. Saat Regis diperkenalkan—dia memberikan kartu namanya, berkata jika kantorku berminat mengadakan acara yang meriah tinggal menghubungi dia saja.

Seperti dia lupa—atau tidak peduli—bahwa kita semua sedang berada di rumah rehat.

Terakhir adalah Inke.

Perempuan muda yang pertama kali kulihat sedang diam sendiri di kamar ketika pertama kali aku tiba. Usianya masih muda—mungkin yang termuda di meja kami, sekitar dua puluh lima tahun aku menebak. Rambutnya yang pendek membuatku mengira dia seorang pria—tapi setelah melihatnya sekarang baru kusadari dia seorang wanita yang lumayan cantik.

Cantik dengan cara yang rapuh—seperti sesuatu yang indah tapi mudah pecah.

Setelah sesi perkenalan tersebut—Tony meninggalkan kami semua untuk sarapan.

Aku baru sadar bahwa sejak tadi hanya Tony saja yang bicara pada kami—dia seperti penjawab bagi pertanyaannya sendiri. Sementara kami berempat hanyalah penonton yang tidak antusias mendengarkan. Seperti boneka.

Seperti orang yang sudah menyerah untuk berpartisipasi dalam hidup.

Seusai sarapan, kami semua diajak ke kebun atap. Tanpa mengerti apa yang mereka maksud dengan itu—aku berjalan mengikuti rombongan.

Menyusuri tangga—hamparan kebun sederhana terlihat ketika pintu atap dibuka.

Sebuah kebun yang diisi beberapa partisi kayu dan plastik sebagai penutup antara tanah dengan tanamannya. Jumlahnya tak banyak—hanya terdiri dari sembilan kotak berukuran sedang yang dipergunakan untuk menanam sayuran seperti tomat atau wortel.

Tony memberikan penjelasan itu padaku—juga sekali lagi memperkenalkanku pada semua pengunjung dan pegawai yang ada. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang saling mengerjakan tugas masing-masing pada plot kebun.

Aku mendapatkan kelompok yang sama dengan orang-orang di meja kantin—ditambah dengan dua anggota yang tidak kuingat siapa namanya. Kelompok kami mendapatkan tugas untuk mengurus tanaman kacang.

Sementara itu—Regis kesal karena saat melihat plot tanaman kacang kami sudah rusak. Dia menuduh kelompok lain yang berada di sebelah kami sebagai pelakunya. Terjadilah keributan antara Regis dengan kelompok tersebut.

Saat beberapa orang pegawai melerai mereka—pandanganku justru teralihkan pada Inke yang sedang jongkok di tengah plot.

Menggunakan topi jerami dan sarung tangan—dia menarik tanaman yang telah rusak, menggemburkan tanahnya lagi dan menanam benih pada tempat yang sama. Aku menatapnya saat dia tampak tidak terganggu dengan keributan yang terjadi di sekitarnya. Tidak seperti saat sedang di dalam kamar dan di kantin tadi—kali ini dia tersenyum. Meskipun wajahnya tertutup topi—namun aku bisa merasakan kalau dia sedang bahagia. Bahagia dengan cara yang sederhana—bahagia karena tanaman, karena tanah, karena sesuatu yang hidup dan tumbuh.

Kemeja lengan panjangnya yang tipis mulai menimbulkan bercak keringat di sekitar punggung dan lengannya. Sesekali dia menghapus peluh di dahinya menggunakan kulit lengannya yang tidak tertutup sarung tangan panjangnya. Saat itulah dia sadar dan menatapku secara tiba-tiba.

Karena bingung dengan apa yang harus kulakukan—akhirnya aku melihat kembali perkelahian yang tidak berguna antara Regis dan kelompok lain di sebelahku. Setelah perkelahian tersebut berhasil dilerai—kami kembali mengerjakan tugas di plot masing-masing.

Seorang pegawai lain yang saat ini menjadi pengajar di bidang tanaman mulai mengajarkan bagaimana caranya mengamati perkembangan dari masing-masing tanaman. Sekilas aku memperhatikannya seperti sedang berbicara sendiri—karena dari setiap kelompok justru terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang meributkan bagaimana cahaya matahari bisa membahayakan dirinya sehingga dia tidak ingin berlama-lama di sana.

Sementara yang lainnya tampak senang memperhatikan hal lain di sekitar mereka—kecuali pengajar itu tentunya. Sekali lagi pandanganku beralih pada Inke.

Kali ini dia sengaja membuka topi jeraminya dan mengapitnya di dada.

Dia memperhatikan dengan serius apa yang dijelaskan oleh pengajar—seperti pencatatan tinggi tanaman hingga cara memanen saat sudah waktunya.

Karena memperhatikannya—aku jadi ikut mendengarkan pengajar tersebut bercerita mengenai kehebatan tanaman yang selalu bertahan dalam berbagai kondisi.

Dia berkata—selama masih ada cahaya, gerakan tumbuhan atau tanaman secara alami akan selalu mencari sinar.

Tidak ada yang mampu menghalangi mereka. Beton, tembok, atau apa pun—saat mereka mencari sinar yang memberikan mereka kehidupan.

“Belajarlah dari tumbuhan,” katanya dengan suara yang terlalu lembut untuk tempat seperti ini. “Mereka selalu menemukan cara untuk mengikuti cahaya. Begitulah seharusnya cara untuk hidup—tidak perlu melawan takdir atau berupaya lari. Kita hanya cukup mencari apa yang menjadi sinar pemanggil. Dan saat sudah menemukannya—maka ikutilah.”

Aku terhenyak mendengar itu.

Begitu pula dengan Inke. Karena bagaimana kita bisa mengikuti cahaya—ketika kita tidak yakin mana yang cahaya dan mana yang bukan?

Bagaimana kita bisa menemukan jalan—ketika kita tidak yakin apa yang nyata dan apa yang tidak? Inke mengenakan kembali topi jeraminya kemudian melanjutkan pekerjaan dengan mengambil selang dan menyiram plot milik kami. Sampai kegiatan itu berakhir—sepertinya hanya dia satu-satunya orang yang masih berada di kebun atap.

Aku melihatnya termenung memandang satu per satu—dari mulai plot milik kami hingga keseluruhan milik kelompok lain. Dia terlihat tidak hanya puas akan sesuatu yang dia tanam—tapi juga menikmati seluruh kehidupan yang tidak bersuara itu dari apa yang orang lain tanam.

Seperti dia bisa melihat sesuatu yang kami tidak bisa lihat.

Seperti dia punya hubungan dengan kehidupan yang sudah hilang.

Kami diminta untuk meninggalkan kebun atap—hingga saat pintu tertutup Inke tetap bersikeras berada di sana ditemani salah seorang pegawai wanita.

Kami semua turun ke salah satu ruang kelas untuk beristirahat sejenak—minum jus buah yang membuat tubuhku segar.

Kesempatan itu juga kupergunakan untuk merokok di luar gedung.

Saat itulah aku heran—karena aku melihat sosok yang kukenal sedang berjalan mendekatiku.

Dia pimpinanku di kantor.

Namanya Pak Sultan.

“Bapak tahu dari mana saya di sini?” tanyaku—suaraku terdengar lebih tinggi dari yang kuinginkan.

Lihat selengkapnya