(Henry)
Ternyata ide yang telah ditanam tidak bisa hilang begitu saja.
Ide tersebut mengendap—menunggu hingga sempurna lalu muncul di saat yang tepat menjadi sesuatu yang tidak pernah disangka sebelumnya. Seperti saat ini.
Gemuruh piano dan ruangan senyap berganti menjadi gambar tak bergerak dari wajah Anna dan Anton. Serupa air yang memberi kekuatan bagi kehidupan—aku bisa merasakan ide yang telah tertanam secara perlahan mulai tumbuh dan menghasilkan pilihan logis untuk teman sang kosmonot.
Tentu saja aku tidak bisa memberikan Anna padanya. Jadi harus Anton. Aku terdiam sambil mematikan rokok ke tanah.
Beberapa hal mulai terbayang lagi di kepalaku—aku melihat ide itu secara mendadak telah tumbuh menjadi pikiran istimewa yang harus kulakukan. Sebuah tugas yang harus diselesaikan malam ini juga.
Seperti misi.
Seperti takdir.
Seperti satu-satunya cara untuk menyelamatkan orang yang kusayangi.
Aku beranjak dari tempat dudukku kembali ke dalam—menuju kantin menunggu hingga keadaan aman, kemudian menyelinap masuk ke dalam dapur. Hanya ada seorang pegawai yang sedang mencuci piring. Aku berdiri tidak jauh darinya—menunggu.
Setelah dia meletakkan piring ke dalam rak, dia pun melepaskan celemek dari pinggangnya—menyampirkannya ke pundak lalu pergi.
Aku bergerak ke arahnya kemudian mengunci pintu dapur—untuk memastikan tidak ada orang yang tiba-tiba datang.
Aku menggeledah rak penyimpanan pisau.
Kutemukan yang berukuran pas denganku—mudah untuk disembunyikan, tidak mencolok saat dibawa, dan ampuh dalam melaksanakan tugasku.
Tugasku.
Kata itu bergema dalam kepalaku—seperti membuat semua ini terdengar mulia, terdengar perlu, terdengar benar.
Tapi untuk menyelamatkan Anna—untuk menyelamatkan Ava—aku harus melakukannya. Kosmonot bilang begitu. Dan aku percaya padanya.
Atau mungkin aku hanya mencari alasan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ingin kulakukan. Aku membuka lagi pintu yang kukunci—kemudian keluar. Aku melihat-lihat beberapa ruangan untuk mencarinya.
Aku sempat ke kebun atap—berharap dia ada di sana karena akan lebih mudah melakukannya di sana. Lebih mudah untuk mendorongnya dari tepi. Lebih mudah untuk membuatnya terlihat seperti kecelakaan.
Tapi dia tidak ada.
Sampai tak lama setelahnya—aku melihat dia sedang berbicara dengan Anna di bawah. Aku hanya menunggu—karena aku tahu apa yang harus kulakukan agar dia cukup dekat denganku nanti.
(Anna)
“Sebenarnya semalam itu kenapa? Bukannya saat aku tinggal dia nggak apa-apa,” Anna bertanya pada Anton.
Sementara dalam pikiran pria kecil itu—dia sedang berusaha menutupi sedikit kebenaran yang dia yakini demi kebaikan Henry.
“Cuma reaksi biasa pada pemulihan. Itu biasa,” kata Anton sambil tersenyum.
Dia kemudian mempersilahkan Anna duduk di kursi yang terletak di depan gedung.
Beberapa pegawai terlihat lalu lalang melewati mereka bersama dengan para pengunjung.
“Sampai berapa lama dia akan seperti itu?” Anna bertanya—suaranya gemetar sedikit.
“Mungkin sekitar satu minggu lagi. Dan oh iya—kamu patut lega karena Henry sepertinya sudah bersih dari obat-obatan itu.”
Anton memanggil salah seorang pegawainya—memintanya mengambilkan beberapa dokumen serta minuman untuk Anna.
“Jadi dia nggak perlu didetoks lagi?” ungkapnya antusias.
“Tentu saja tidak perlu. Seperti yang saya katakan sebelumnya—dia hanya perlu berlibur di sini.”
Kebohongan yang lembut.
Kebohongan yang diperlukan.
Tidak lama kemudian beberapa dokumen dan air mineral untuk Anna dibawakan oleh salah seorang pegawainya.
Anna meminum air dari botol tersebut—sementara Anton memberikan beberapa dokumen pada Anna untuk ditandatangani.
“Jika dia sudah bersih—kenapa dia masih saja kambuh?”
Anna bertanya lagi setelah menandatangani beberapa kertas yang diberikan padanya.
Anton mengambil napas dalam—mempersiapkan penjelasan yang telah dia berikan berkali-kali pada keluarga lain.
“Di tempat ini tidak semua pengunjungnya bermasalah dengan zat terlarang. Sebagian di antara mereka ada yang sudah terlahir dengan sifat destruktif pada dirinya sendiri. Dan obat-obatan hanyalah pemicu bagi sifat itu.”
“Maksudnya jika Henry nggak pakai obat-obatan itu sekalipun—dia akan tetap seperti sekarang?” Anna bertanya lagi—suaranya semakin kecil.
“Saya tidak berani berkata seperti itu. Tapi sudah sifat manusia untuk mencari sesuatu yang lebih dari hidupnya.”
“Maksudnya?” tanya Anna tak mengerti.
“Manusia memiliki beragam motivasi dalam hidupnya. Dari mulai makan, minum, seks, rasa aman, kasih sayang—hingga yang terakhir jika dia telah menemukan semuanya, adalah eksistensi.”
“Saya paham itu. Tapi hubungannya apa dengan bakat untuk merusak diri?”
Anton menatap Anna dengan mata yang terlalu mengerti tentang rasa sakit.
“Eksistensi bukan melulu perwujudan dari sifat menonjolkan diri yang dimiliki manusia di depan manusia lain. Bagi sebagian orang—eksistensi adalah kesadaran untuk melengkapi potongan besar yang terlewatkan dari hidup mereka.”
Keduanya terdiam sejenak.
Anton sengaja membiarkan Anna berpikir sejenak sebelum dia melanjutkan ceritanya.
“Ada orang yang menyangka potongan besar itu ada pada masa muda mereka. Jadi mereka dengan sengaja mengurung masa mudanya tersebut—lalu mengakhiri hidupnya sendiri.”
“Maksud kamu bunuh diri? Tapi kakak saya kan nggak seperti itu. Setahu saya dia juga tidak pernah berusaha melakukannya.”
Anna mulai terlihat gusar—dia tidak mengenakan baju lengan panjang saat ini, jadi satu-satunya cara mengatasi kepanikan adalah dengan menggigit kukunya sendiri.
“Obat-obatan itu adalah caranya untuk bunuh diri,” kata Anton pelan. “Mungkin bukan secara fisik—tapi secara psikis dia sudah mati. Dan banyak yang tidak mengetahui bagaimana obat-obatan bisa mengunci seseorang tepat saat dia pertama kali memakainya.”
Dia berhenti—menatap Anna dengan serius.
“Dan kalau boleh saya tebak—Henry sudah memakai yang lebih parah sejak dia berumur sekitar delapan belas tahun ya?”
Anna mengangguk—dan mulai mengingat bagaimana kakaknya kerap kali menyembunyikan barang tersebut di tempat yang tidak terduga oleh keluarganya.
“Menurut kamu apa semuanya sudah terlambat?”
Kegusaran itu mulai mereda—berganti dengan penyangkalan yang biasa Anna lakukan sejak dulu saat mendengar kabar seperti ini.
Namun kali ini coba dia tekan untuk melihat keadaan Henry yang sebenarnya.
“Saya tidak berharap banyak,” kata Anton dengan jujur. “Tapi setidaknya kita bisa berusaha menyelamatkan yang tersisa darinya. Semoga saja liburannya di sini bisa memberikan awal yang baru baginya.”
Dia menatap Anna dengan mata yang basah.
“Mungkin setelah ini usai—kamu dan keluarga bisa mencoba membangun lagi kenangan yang baru. Saya sih berharap Henry bisa menyadari kalau potongan terbesarnya yang dia cari itu akan ditemukan bersamamu.”
Anna tertunduk sejenak kemudian memejamkan matanya—seperti memanjatkan harapan.
Meski sepertinya sudah lama dia tidak berharap pada sesuatu di luar sana akan mengabulkan permintaannya ini. Dia hanya butuh Henry untuk sembuh. Namun saat yang sama—dia ragu untuk berharap. Dia hanya tahu Henry adalah eksistensinya. Dan dia adalah eksistensi Henry.
Dan jika salah satu hilang—yang lain akan kehilangan alasan untuk ada.
(Henry)