(Henry)
Sejak hari itu Anna datang secara rutin—seperti jarum jam yang tidak pernah terlambat, seperti ritual yang dilakukan dengan kesetiaan yang menyakitkan.
Setiap kali dia datang, kami tidak banyak bicara. Tapi aku tahu—dari caranya duduk, dari caranya tersenyum, dari caranya menatap tanpa menghakimi—bahwa kehadirannya adalah hadiah. Hadiah yang tidak pantas kuterima, tapi dia tetap berikan.
Aku salah satu dari sedikit pengunjung yang beruntung.
Tidak seperti keluarga pengunjung lainnya—yang menganggap tempat ini sebagai tempat untuk menyembunyikan aib, untuk melupakan orang-orang yang sudah rusak dan tidak layak lagi untuk dunia di luar—Anna datang dengan sukarela.
Dengan cinta yang aneh. Cinta yang tidak meminta aku untuk sembuh. Hanya meminta aku untuk tetap ada.
Biasanya dia datang setelah tengah hari. Kami menghabiskan waktu di taman dekat jalan setapak menuju gedung utama—duduk di bangku kayu yang sudah mulai lapuk, memandang orang-orang yang berjalan melewati kami.
Anna sering menggunakan kesempatan itu untuk menirukan suara orang yang lewat—terutama yang terlihat aneh baginya.
Pernah suatu kali dia menirukan suara berat ala bangsawan tua saat melihat Regis—salah satu penghuni yang tidak bisa berhenti menggoda setiap wanita yang berpapasan dengannya.
Anna tidak pernah berhenti melakukan hal semacam itu—meskipun dia tahu konsekuensinya. Saat Regis tahu, Anna harus rela menerima rayuannya yang menjijikkan.
Tapi dia tetap melakukannya. Untuk menghiburku.
Seandainya aku bisa berbicara lebih banyak padanya—mungkin dia tidak perlu melakukan semua ini. Aku ingin sekali bercerita lebih banyak. Tentang apa yang terjadi di dalam kepalaku. Tentang kenangan yang hilang. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah pergi.
Tapi entah mengapa aku tidak sanggup.
Semua kata-kata yang kumiliki seperti hancur begitu saja—pecah menjadi debu—setiap kali berhadapan dengannya.
Tapi aku tetap berusaha. Sama seperti hari-hari sebelumnya.
“Bagaimana kabar suamimu?”
Anna menoleh padaku—tersenyum dengan senyum yang terlalu cepat, terlalu ringan untuk pertanyaan yang sebenarnya berat.
“Baik. Dia sehat-sehat saja. Walau dia tambah sibuk belakangan ini karena bisnisnya. Tapi dia sehat.”
Aku mengangguk—berusaha memproduksi pertanyaan baru yang bisa menghasilkan jawaban lebih panjang. Pertanyaan yang bisa membuatnya bicara lebih lama. Karena suaranya—suara Anna—adalah satu-satunya hal yang membuat tempat ini terasa seperti dunia.
“Apa dia masih marah padaku? Soal pertengkaran kita dan pemukulan itu?”
Anna mengernyitkan dahi—seperti bingung atau seperti tidak ingin mengingat.
“Sebenarnya aku nggak pernah cerita soal itu padanya.”
Dia melihat ke arah lain—menatap pepohonan yang bergoyang pelan dalam angin sore.
“Kenapa? Apa kalian berdua sedang ada masalah?”
Anna melihatku lagi—menggeleng.
“Nggak ada. Itu kan cuma masalah di antara kita berdua saja. Lagipula kami memang jarang membahas keluarga tiap kali ketemu.”
“Tiap kali ketemu?” Aku mengulang kata-katanya—seperti mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal. “Memangnya kalian jarang bicara?”
“Ya begitulah.” Suaranya datar sekarang—seperti menyerah pada sesuatu yang sudah dia terima sejak lama. “Tapi aku mengerti kalau dia sedang sibuk. Dia pulang ke rumah saja sudah cukup bagiku.”
Anna menyandarkan tubuhnya ke belakang—seperti mengambil tenaga untuk mengangkat beban berat dalam dirinya.
“Tuhan sudah menakdirkan aku menjadi istrinya. Pasti ada alasan kuat di balik itu semua.”
Senyumnya kecut. Senyum yang menyakitkan untuk dilihat.
Kami terdiam—memberikan kesempatan untuk angin bertiup, untuk dunia bergerak tanpa kami.
Anna melonggarkan lengan bajunya yang panjang.
“Kamu masih ingat si Jono?”
Anna menoleh—tersenyum sambil menyampirkan rambutnya ke belakang telinga.
“Berkat kejadian itu sampai sekarang dia masih benci padaku. Kamu tau nggak, aku pernah dikejar sama dia di swalayan tempatnya kerja.”
“Astaga, yang benar?” Anna menatapku dengan semangat. “Tapi kakak harus tahu—alasan dia ngejar kakak sepertinya nggak sepenuhnya karena dendam.”
“Ada alasan lain?”
“Kakak nggak pernah tahu ya kalau si Jono itu pernah coba mendekatiku. Dia pasti pikir kalau kakak kesana untuk mengadukan itu pada istrinya.”
“Astaga, kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Anna tertawa—sedikit lebih keras hingga tubuhnya bergetar. Dia tampak antusias—sampai harus memutar tubuhnya sedikit hingga berhadapan denganku.
“Dulu setelah kakak terpaksa pergi, dia berusaha memelukku. Katanya untuk menghibur. Tapi karena aku takut, aku mengusirnya. Aku bilang sama dia: apaan sih!”
Kali ini aku yang tertawa mendengar ceritanya.
“Astaga pantas saja dia kelihatan sangat panik. Kami sampai harus lari dan sembunyi di tempat parkir.”
Anna berhenti tersenyum saat itu juga—seperti baru menyadari sesuatu.
“Kami?” Dia menatapku dengan tajam sekarang. “Memangnya kakak dengan siapa?”
Aku diam sebentar—menelan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di tenggorokan.
“Dia cuma teman.”
Singkat. Terlalu singkat untuk meyakinkan.
Anna mengangkat sebelah kakinya ke atas kursi—menyandarkan kepalanya di atas tangan di sandaran kursi. Menatapku dengan poni rambutnya yang berjatuhan—seperti menyelidiki, seperti tahu ada yang kusembunyikan.
“Definisikan dia.”
“Buat apa?”
“Karena aku bisa tahu arti seorang wanita dari lelaki berdasarkan cara mendefinisikan dia. Ayolah, ini menyenangkan. Dan aku ahli dalam hal ini.”
Aku sebenarnya tidak ingin menanggapi. Tapi entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja—seperti sudah menunggu terlalu lama untuk keluar.
“Dia cantik. Tentu saja. Dengan rambut cokelat, tubuh ramping, wajah simetris—pasti dia cantik. Tapi dia punya kecantikan yang nggak mudah dilupakan. Kamu tahu kan tipikal kecantikan yang... ketika kita berpapasan dengan orang asing di jalan? Tapi sampai di rumah kita masih terus kepikiran, kenapa waktu itu aku nggak melangkah. Dia memiliki kecantikan yang bisa membuatku nyaman meski hanya untuk duduk di dekatnya sebentar. Dia memiliki kecantikan yang—bahkan jika dia nggak punya wajah cantiknya itu sekalipun—aku akan tetap bersamanya.”
Hening.
Anna tersenyum—kemudian beberapa kali menepuk pundakku. Dia tertawa—seperti sedang menahan perkataannya. Aku memaksanya menyatakan pendapat—tapi dia menghindar terus dengan berulang kali mengatakan 'tidak' sambil tertawa.
“Bagaimana kalian bisa ketemu?”
Pertanyaan lain—yang membuatku berhenti bertanya.
“Di depan pasar swalayan saat aku sedang beli rokok. Dia yang mendatangiku karena melihatku.”
“Nggak mungkin!”
“Benar. Dia yang mendatangiku duluan.”
Anna menatapku dengan mata yang berbinar—seperti menemukan sesuatu yang lucu atau tragis atau keduanya.
“Jadi pesona kakak dalam urusan wanita sudah kembali seperti dulu?”
“Pesona apanya?” Aku menahan geli karena kesimpulannya yang terlalu cepat.
“Lihat saja. Di sini ada wanita bernama Inke. Kemudian perempuan itu—siapa namanya?”
“Avalon.”
Nama itu keluar lebih lembut dari biasanya—seperti doa, seperti mantra yang tidak boleh diucapkan sembarangan.
“Astaga, dua wanita cantik yang sedang mengejar kakakku. Seperti masa lalu saja.”
Anna tertawa—mengingat sesuatu yang tidak bisa kuingat.
“Aku masih ingat dulu bagaimana semua wanita di sekolah kita datang ke rumah, kirim surat—sampai aku bingung karena harus ingat siapa aja yang titip salam..”
“Satu sekolah?” Aku bergumam sendiri—mencoba mencari ingatan yang tidak ada. “Kita satu sekolah?”
Anna terus bercerita tentang masa lalu—sementara ingatanku justru terlempar pada sepasang saudara yang sedang berjalan bersama di kejauhan.
Tapi semua itu menghilang begitu saja—seperti mimpi yang terlalu cepat dilupakan.
***
Beberapa bulan kemudian, aku dipanggil untuk menemui dokter Ronny.
Seperti biasa dia menyambutku dengan ramah saat aku masuk ke ruangannya. Kami bersalaman—dia tidak lupa menanyakan kabar dengan suara yang terlalu ceria untuk pagi yang mendung ini.
Kami duduk berhadapan—sama seperti seorang pasien yang sedang menemui dokter.
Tapi ada satu kejanggalan pagi itu.
Tidak seperti biasanya, dokter Ronny berlaku sedemikian formal. Dengan buku catatan dan sebuah perekam suara yang dia tekan ketika aku mulai berbicara.
Padahal dengan pertanyaan yang terdengar seperti biasanya—tentang tidur, tentang mimpi, tentang apakah aku masih mendengar suara—dia seharusnya tidak memerlukan itu semua.
Untuk pertama kalinya aku merasa dia sedang memastikan sesuatu padaku.
Walau aku tidak tahu itu apa.
“Sepertinya liburanmu di sini sebentar lagi berakhir.”
Setelah pertanyaan yang membosankan itu, dia tiba-tiba tersenyum lagi seperti biasanya.
“Maksud dokter, saya bisa pulang?”
Perasaan gembira naik—tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip takut.
"Benar. Selama di sini semuanya tampak membaik. Lagipula liburan tidak pernah berlangsung selamanya. Kalau kamu pulang nanti, kamu akan tinggal di mana? Saya dengar Anna sudah menawarkan kamu untuk tinggal di rumahnya?”
Aku tertawa—tawa yang aneh, tawa yang tidak tahu apakah ini kabar baik atau buruk.
“Kalau Anda sudah mendengar itu semua, kenapa harus bertanya lagi saya akan tinggal di mana?”