(Henry)
Ketika kami sampai, tepi jalan menuju rumah duka sudah dipenuhi kendaraan—barisan panjang yang tampak tidak berujung, seperti ular logam yang mengular tanpa kepala atau ekor.
Tadinya kami berharap antrian tidak sampai terlalu jauh. Tapi dari apa yang kami lihat—kami salah.
Orang ini tampaknya memiliki banyak teman. Hingga jarak seratus meter dari rumahnya, antrian kendaraan seolah tak berujung—seperti prosesi menuju sesuatu yang lebih besar dari kematian itu sendiri.
Aku menawarkan ide agar Anna saja yang masuk—sementara aku menunggunya di luar, lalu menjemputnya lagi setelah tiga puluh menit kemudian.
Tapi Anna tidak mau.
Dia terdiam sejenak—kemudian turun dari mobil dan menghampiri seorang pemilik rumah yang sedang mengambil koran di halamannya.
Mereka berbicara sekitar lima menit—sebelum akhirnya Anna kembali ke dalam mobil kemudian langsung meluncur ke garasi rumah pria tersebut.
Anna sepertinya berhasil meminjam garasi. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya—yang jelas kami senang karena tidak perlu parkir lebih jauh.
“Lihat, nggak sampai seratus meter kan?”
Kata Anna dengan gembira setelah memarkir mobil.
Kami berjalan bersama menuju rumah duka. Tiba-tiba Anna memegang tanganku saat sedang berjalan. Dengan pakaian kami yang serba hitam, seharusnya kami terlihat sedih. Tapi Anna justru sebaliknya—dia bahagia seperti anak kecil yang sedang menuju taman bermain.
Dia berjalan sambil mengayunkan tanganku—dan hal ini terlihat kontras dengan pemandangan di sekitar kami yang dipenuhi orang-orang yang sedang berkabung.
Mereka semua menatap kami—seolah kami bersalah karena terlalu gembira untuk acara berduka seperti ini.
Tatapan mata mereka membuatku tak nyaman. Tapi Anna tidak peduli.
Aku sengaja berjalan menjauhi mereka—mencoba menghindari pandangan itu. Tapi kepala mereka tetap mengikuti tiap gerakan kami. Keramaian dan tatapan banyak orang membuatku panik dan berkeringat. Anna baru menyadarinya saat merasakan tanganku yang dia genggam basah.
“Kakak nggak apa-apa?”
Dia kemudian mengajakku duduk di tepi jalan—memintaku untuk menunggu sementara dia bergegas kembali ke mobil untuk mengambil sebotol air.
Setelah dia datang, aku langsung meminum air tersebut. Kuteguk sebagian—sebagiannya lagi kugunakan untuk membasuh wajah.
Nafasku tercekat karena berbagai macam prasangka. Tapi saat Anna bertanya tentang keadaanku, semua yang kupikirkan tidak berhasil kuubah menjadi kalimat untuk kusampaikan.
Aku hanya mengatakan keadaanku ini karena suhu yang terlalu panas. Setelah duduk sebentar aku mengajaknya untuk meneruskan perjalanan lagi—sambil melonggarkan kerah bajuku yang terlalu ketat.
Anna berkata padaku bahwa kita tidak harus terburu-buru—karena orang ini sudah meninggal. Dia tidak akan pergi ke mana-mana lagi, sambil mengusap peluh di wajahku.
Tidak beberapa lama kemudian kami tiba di depan rumah duka.
Rumah tersebut memiliki hamparan taman hijau yang luas dengan pagar besi tinggi berwarna putih. Jalan menuju pintu masuknya agak menanjak—dipenuhi dengan mobil yang sepertinya sudah terlebih dahulu berada di sana.
Berkat hal tersebut kami harus berjalan agak menepi—sekaligus mengantri dengan pelayat lain untuk masuk.
Ketika memasuki ruangan jenazah, perasaanku justru menjadi lebih tenang. Mungkin karena ruangan tersebut menggunakan pendingin udara—yang membuat keadaan di luar berbanding terbalik.
Anna memintaku untuk menunggunya sebentar—sementara dia menghampiri keluarga mendiang untuk menyampaikan rasa belasungkawa.
Aku melihat seorang wanita yang seumur dengannya memeluknya ketika dia datang. Sementara mereka sedang berbicara, aku melihat keadaan sekitar ruangan tersebut.
Dari jarak yang cukup dekat aku melihat peti di tengah ruangan—tampak solid dengan warna coklat cerah.
Bagiku peti berfungsi sebagai penyimpan jasad dan kenangan. Selagi apa pun yang pernah berada dalam tubuh tersebut meneruskan perjalanannya entah ke mana.
Tepat di sebelah peti tersebut terdapat sebuah foto berukuran besar yang menangkap momen terbaik mendiang.
Rupanya gagah sekaligus pintar—seperti penulis terkenal di masa mudanya. Dia berpenampilan layaknya seorang prajurit yang menerima penghargaan karena selamat dari peperangan.
Sosoknya itu mewakili kegagahan dan kecerdasan dalam waktu yang bersamaan.
Dan sepertinya bukan hanya aku saja yang setuju dengan pendapat tersebut.
Ketika aku mengalihkan pandanganku pada para pelayat lainnya—dengan pakaian yang bernuansa hitam dan coklat seperti yang kukenakan—menunjukkan bahwa mereka semua datang secara khusus meluangkan waktunya untuk menghormati mendiang. Belum lagi dengan karangan bunga saat aku memasuki ruangan—jumlahnya mungkin sama banyaknya dengan orang yang datang ke sini.
Aku memutuskan untuk mencari udara segar di luar. Dari jarak yang masih cukup dekat untuk melihat Anna—atau setidaknya agar Anna mudah mencariku.
Tadinya aku ingin menggunakan pintu keluar—namun aku urungkan niat tersebut karena banyak orang yang mulai berdatangan dari pintu tersebut.
Dan saat aku menjelajah itulah aku melihat sebuah pintu di belakang—dengan jendela yang bening, membuatku bisa melihat taman yang berada di baliknya.
Aku sedikit merasa canggung saat ingin menuju pintu tersebut—karena harus melewati kerumunan orang yang tak kukenal.
Selain itu aku takut jika aku pergi ke sana Anna akan kesulitan mencariku—karena letaknya yang terhalang dengan tembok dan manusia yang jumlahnya semakin bertambah.
Tapi gerakan kedua kakiku sulit untuk dihentikan.
Aku hanya berjalan begitu saja—seolah bisa menembus kerumunan yang berdiri secara acak di ruangan.
Lalu dalam sekejap aku sudah berada di depan pintu.
Aku membuka pintu—dan secara mengagumkan pemandangan taman nan hijau menyeruak begitu saja, seperti berkata: inilah ruangan yang sebenarnya untukku.
Tidak ada orang yang dengan egonya sendiri menabrak dan saling menjatuhkan manusia lain. Tidak ada lagi kegelapan yang walaupun pelan, tapi tetap saja menakutkan.
Aku masuk ke dalam pintu yang ternyata tidak terkunci.
Dengan perlahan aku melangkahkan kakiku pada lantai yang telah berubah bentuk—dari kerasnya marmer putih pucat menjadi hamparan rumput hijau yang sedikit basah.
Aku bisa mendengar rumput tersebut mengeluarkan bunyi yang lembut saat aku injak. Belum lagi aroma segar yang tercium di sekitarnya.
Taman itu seperti tombol di atas botol parfum yang dapat mengeluarkan aroma saat aku temukannya. Sementara suara air dan struktur rapuh dari dedaunan kecil yang tergabung di dalamnya seperti gabungan rasa bahagia yang datang setelah hujan.
Aku terus berjalan—sambil membiarkan pohon berdaun rendah menyentuh wajahku dengan tangkainya. Tidak ada keinginanku untuk menoleh ke belakang—apalagi setelah mendengar suara seorang perempuan yang sedang bernyanyi.
Dia menyenandungkan lagu yang tak pernah kudengar—dalam nada ritmik yang terdengar seperti musik dari negeri jauh dalam tempo sedang.
Suaranya semakin merentang luas saat aku mendekat.
Dari balik pagar pendek yang rendah itu—aku melihatnya bernyanyi membelakangiku, tanpa penonton lainnya. Hanya aku yang sedang menganggukkan kepala dan terkadang memejamkan kedua mataku.
Wanita itu menggunakan gaun tanpa lengan berwarna hijau muda. Rambutnya terkulai sembarangan di atas bahunya yang lebar.
Aku tidak berani mengganggunya—aku bahkan tidak mengubah posisiku di balik pagar kayu itu. Hanya menunggunya sampai selesai—kemudian berharap agar dia membalikkan wajahnya sebentar saja.
Tidak lama setelahnya—tanpa sadar karena kedua mataku sedang terpejam—suara itu kusadari bertambah keras. Wanita itu sudah menyanyikan lagu kedua—yang sepertinya dalam bahasa asing yang tidak kukenal.
Aku begitu menikmatinya sampai aku merasa kali ini bukan hanya suaranya saja yang lebih keras—tapi ada udara yang membentur wajahku saat dia bernyanyi. Terasa tidak wajar bagiku.
Ketika lagu tersebut selesai dinyanyikan aku membuka mata—dan terkejut ketika melihat wanita itu telah berada di depanku.
Tidak ada yang dapat kukatakan padanya—aku hanya mundur sedikit ke belakang dan menatapnya. Dia tersenyum dan bertanya padaku apakah aku menyukai penampilannya tadi.
Aku mengangguk lemah dan berusaha untuk berbicara padanya.
Dia meletakkan kedua sikunya dan sedikit menunduk di atas pagar kayu tersebut. Rambutnya terlihat berjatuhan ke depan wajahnya—meskipun hanya sejenak karena dia segera menyelipkannya kembali di balik dua telinganya.
Wajahnya simetris—karena bagian tertentu sepertinya sengaja dia tutupi dengan rambut ikalnya yang terbelah di bagian tengah.
Aku bertanya namanya—tapi dia tidak menjawab.
Dia justru mengatakan padaku bahwa aku mengenalnya.
“Bagaimana bisa ada di sini dengan suara berisik itu?”
“Bukannya kamu suka?”
Aku mengangguk cepat.
“Aku menyukainya tapi di depan kan—”
Aku menoleh ke belakang dan tidak kulihat apa pun—selain kumpulan pepohonan yang rimbun menutupi pandanganku.
Aku berniat untuk kembali dan memastikan bahwa pintu yang kumasuki tadi masih ada di balik semak dan pepohonan itu.
“Jangan. Percuma.”
Kata wanita itu mencegahku. Aku menoleh ke arahnya—melihat dia sedang menggerakkan jemarinya yang mengatakan tidak dalam isyarat tersebut.