Sudut Ruang
Aku selalu suka saat tidak ada yang lain di sekitar.
Kita punya waktu untuk saling bertukar pendapat.
Aku berkelakar.
Kamu berpikir padat.
Tawaku pecah melihat apa yang kita alami sekarang.
Marahmu memuncak mengingat mimpi yang belum kita capai.
Aku takut kamu meradang.
Kamu tidak mau aku lalai.
Lalu kita membuatnya semakin menyepi.
Sendiri di sudut ruang,
berpikir, “Sedang apa aku di sini?”
Saat tidak ada yang lain.
Jalanku dan mimpimu bertemu.
Lalu kita, akan menjadi apa?
---
Lantai Tiga,.
Tanpa atap.
Tanpa tembok.
Kami memperhatikanmu berdiam, menatap tajam ke arah kami yang separuh tersinari cahaya temaram, separuh pudar.
Kita berdua atau bertiga.
Saling menatap.
Suara tergembok.
Pekerjaan dan tempat tinggal yang berbeda kota membuat Randu dan Chata hanya bertemu setiap Sabtu.
Satu hari dari seminggu, waktu bagi Randu untuk menceritakan semua yang terjadi dalam hidup.
Biasanya akan terasa cukup, tapi kali ini, tanpa sebab, Randu merasa terlalu banyak hal yang menumpuk di kepala.
Sebelumnya Randu mengira tumpukan itu hanya akan membeku dan terus membatu. Hingga beberapa hari ini Randu terdiam dan kehilangan arah pikiran.
Semua yang terjadi di sekitar tetap tak membuat nalurinya bergeming.
Terus diam tanpa alunan emosi selayaknya manusia.
Randu sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Hanya Chata tempatnya bercerita.
“Aku lagi malas ngelakuin apapun. Aku butuh kamu. Kita perlu bicara.”
Sebuah pesan singkat yang Randu kirim beberapa hari lalu, cukup sebagai pengantar yang akan diungkapkan.
Chata masih di depan Randu dalam kebingungan.
Apakah terjadi sesuatu pada Randu?
Chata menunggu Randu mengeluarkan kalimat pertama malam ini.
Dia membiarkan Randu mengatur napas.
Perlahan Randu kembali menunjukkan aura kuat seperti yang Chata tahu selama ini.
Ketenangan.
Senyuman khas.
Dan wibawa.
Ah, sepertinya Randu tidak apa-apa.
Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, Randu selalu terlihat tenang, seperti tanpa kepanikan, tanpa amarah.
Bahkan ketenangan dan kesabaran itu kerap menghadirkan solusi, membawa aura magis bagi orang-orang di sekitarnya.
Setidaknya itu yang dirasakan Chata.
Sikap yang selalu membuat Chata terkagum.
Itu juga yang nampak pada ekspresi Chata ketika menatap Randu saat ini.
Perlahan Randu mencoba memulai dengan melontarkan sebuah pertanyaan.
“Apa kamu pernah ada di situasi ketika sedang beraktivitas, tapi di saat bersamaan terpikir, Aku ngapain di sini?”
“Merasa seperti sedang melihat diri sendiri?” tanya Chata ragu.
“Ya... Aku bukan hanya pernah, tapi selalu,” lanjut Randu datar.
Chata yang sedikit terkejut hanya mampu mengernyitkan dahi tanpa jawaban.
Randu menghela napas panjang.
“Di saat tertentu, aku sering teringat masa lalu. Waktu aku harus ada di situasi yang gak aku mau. Aku gak pernah ngerti kenapa itu harus terjadi.”
Randu melanjutkan kalimatnya, memulai sebuah kisah tentang kenangan-kenangan pahit yang telah dia alami.
Kenangan yang seharusnya sudah berlalu.
Tapi ternyata kenangan itu tidak pergi.
Hanya terjebak dalam jiwa Randu.
Bayangan-bayangan kelam masa kecil Randu bermunculan di kepalanya.
Teriakan-teriakan pertengkaran menyeruak di sekelilingnya.
Suara-suara isakan yang semakin lama semakin jelas, semakin lama semakin keras.
Berlanjut isakan Randu yang membuat Chata sangat terkejut.
Tapi Chata hanya mampu berdiam, menatap Randu.
Lalu “mereka” bergantian menceritakan sebuah pesan di hadapan Chata.
“Rencana-rencana besarku, semua hal yang sudah kupersiapkan, impian yang seharusnya mudah kudapatkan. Karena mereka, semuanya hilang, semua gagal,” ucapnya terisak.
Tubuh pria itu sebagian bergetar.
Suaranya sengau.
Kemudian menangis sejadi-jadinya.
Ia nampak gusar, gelisah, penuh kesedihan dan amarah.
Chata menyimak kata demi kata yang diucapkan.