Fathan Ar Rimbai mengingat pesan wafat kakeknya, Ki Rimbai, tentang rahasia pusaka liontin batu hitam giok yang berdenyut aneh. Didera kegelisahan batin pasca menyelesaikan studinya, Fathan memutuskan memulai perjalanan berkendara motor menuju Danau Ranau di ujung barat Sumatera Selatan.
“Pergilah ke tepian Danau Ranau, Fathan. Jika airnya beriak tanpa angin, jangan takut. Darahmu mengenali danau itu lebih dari yang kau bayangkan.”
--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--
## Bagian 1: Aroma Daun Sirih dan Denyut Giok Kumbang
Latar: Bilik Loteng Seberang Ulu, Palembang
···[ ⚔️ ]···
Aroma daun sirih kering yang berbaur dengan kapur gambir tua mengapung di udara bilik, pekat dan menusuk, seolah menolak untuk hanyut bersama debu sore Kota Palembang yang perlahan padam. Di atas meja kayu tembesu berlapis pernis kusam, selembar ijazah sarjana teknik elektro tergeletak kaku di samping cangkir enamel dingin. Tinta hitam bertuliskan namanya—Fathan Ar Rimbai—terpampang resmi dengan cap timbul rektorat yang masih mengilap. Sebuah pencapaian yang semestinya menjadi puncak kebanggaan bagi seorang pemuda yatim piatu. Namun bagi Fathan, lembaran kertas tebal itu terasa seringan ilusi yang tak berbobot, sama sekali tak berdaya menambal rongga kehampaan yang menganga di dasar dadanya.
Pandangan matanya beralih ke sebuah kotak kayu surian berukir sulur pakis di sudut meja. Kotak itu tidak terkunci. Di dalamnya, beralaskan sehelai saputangan beledu merah tua yang telah memudar, terbaring sebongkah liontin batu hitam pekat berukuran sebesar ibu jari orang dewasa. Giok Kumbang Seminung. Permukaannya tidak licin sempurna seperti batu permata perhiasan toko, melainkan memiliki pori-pori mikroskopis yang kasar, dirangkul oleh jalinan kawat tembaga kehijauan yang telah berkarat dimakan zaman.
Fathan menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara pengap yang sarat kenangan. Ia mengulurkan jemarinya yang liat, menyentuh permukaan batu itu. Seketika, desau halus merambati ujung sarafnya. Batu itu tidak sedingin logam mati. Di bawah kehangatan kulit telapak tangannya, liontin itu bergetar samar—sebuah denyutan halus yang ritmis, lambat, namun bertenaga, seolah-olah di dalam inti mineral hitam itu bersemayam sebutir jantung mini seekor makhluk purba yang baru saja terjaga dari tidur lelap ratusan tahun.
Denyutan itu seketika menarik kesadaran Fathan kembali ke malam jahanam empat puluh hari silam. Malam ketika Ki Rimbai mengembuskan napas terakhirnya di atas ranjang kasur kapuk bilik ini.
Fathan masih bisa merasakan cengkeraman tangan kakeknya yang luar biasa dingin, tulang-belulang ringkih lelaki tua berusia delapan puluh tahun itu mengunci pergelangan tangan Fathan dengan tenaga terakhir yang mengerikan. Napas sang kakek berbunyi seperti gesekan dua bilah bambu kering di musim kemarau, matanya yang telah memutih tertutup selaput katarak tiba-tiba terbuka lebar, menatap lurus ke arah langit-langit atap sirap seolah menembus dinding bilik, menatap jauh melintasi ratusan kilometer rimba menuju kaki Gunung Seminung.
"Fathan..." bisik Ki Rimbai kala itu, suaranya parau dan terputus-putus oleh lendir di tenggorokan, namun setiap patah katanya menghunjam seperti pasak besi. "Pendidikanmu sudah tuntas di kota ini... akalmu telah tajam... tapi dadamu masih buta. Dengarkan kakekmu untuk yang terakhir kali, Bujang."
"Istighfar, Kek. Jangan banyak bicara dulu, napas Kakek tersengal," ujar Fathan malam itu, air matanya menetes di atas punggung tangan keriput sang kakek seraya meremasnya erat.
"Tidak ada waktu lagi... pasaknya sudah longgar, Nak," potong Ki Rimbai dengan desakan yang putus asa. Sang kakek meraba ke bawah bantalnya, mengeluarkan kotak kayu surian itu dan menjejalkannya ke dada Fathan. "Bawa giok ini. Pergilah ke tepian Danau Ranau, Fathan. Jika airnya beriak tanpa angin, jangan takut. Darahmu mengenali danau itu lebih dari yang kau bayangkan."
"Danau Ranau? Mengapa harus ke sana, Kek? Apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Ibu di sana?" tanya Fathan dengan suara bergetar, menuntut jawaban atas misteri yang selama dua puluh tahun dikunci rapat bagai aib keluarga.
Namun Ki Rimbai hanya menggeleng lemah. Sepasang matanya meneteskan air mata keruh yang merayap di lekuk pipinya yang tirus. "Danau itu meminjam mereka... dan danau tidak pernah mengembalikan apa yang telah ia telan tanpa ganti tebusan. Jangan biarkan sumpah itu membusuk, Fathan... temui dia sebelum kabut ketujuh menutup dermaga..."
Setelah kalimat itu, cengkeraman tangan Ki Rimbai terkulai lemas. Napasnya berhenti, meninggalkan keheningan beku yang mematikan di dalam kamar panggung itu. Menyisakan Fathan seorang diri bersama sebuah nama, sebutir batu hitam yang berdenyut, dan wasiat beraroma sirih yang kini menuntut pelunasan.
Kini, menatap ijazah dan liontin itu secara bergantian, Fathan sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa melangkah maju ke ruang-ruang kantor berpendingin udara di Palembang sebelum kegelapan masa lalunya terang benderang. Ia mengalungkan rantai tembaga liontin itu ke lehernya. Begitu batu itu jatuh tepat di lekuk tulang selangkanya, sensasi hangat merambat perlahan menembus dada, menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Fathan menyambar jaket kanvas lusuh dan ransel perjalanannya. Malam ini, ia berangkat menuju barat.
✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦
## Bagian 2: Aspal Basah, Rimba Berbisik, dan Bayang Seminung
Latar: Jalur Lintas Muaradua menuju Banding Agung, OKU Selatan
···[ ⚔️ ]···
Deru mesin motor 200cc tua warisan kakeknya membelah sunyi jalanan beraspal basah yang meliuk-liuk di punggung Bukit Barisan. Jam di pergelangan tangan Fathan menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Kota Palembang dan perkebunan karet Prabumulih yang monoton telah lama tertinggal di belakang punggungnya. Kini, roda motornya mendaki kelokan-kelokan tajam Ogan Komering Ulu Selatan, membelah kegelapan rimba tropis yang rapat dan basah setelah diguyur hujan lebat sejak petang.
Sorot lampu motor berwarna kuning temaram hanya mampu menjangkau lima meter ke depan. Di sisi kiri jalan, dinding tebing cadas menjulang tegak dengan akar-akar pohon beringin liar yang menggantung bagai jemari raksasa kelaparan. Di sisi kanan, jurang menganga tanpa pembatas jalan, menyembunyikan gemuruh liar Sungai Komering ratusan meter di bawah sana dalam kabut pekat yang tak tembus pandang. Bau getah damar, tanah humus basah, dan uap belerang halus mulai tercium terbawa angin malam yang menggigit menembus lapisan jaket kanvasnya.
Fathan menekan tuas kopling, menurunkan gigi ke posisi dua saat melibas tikungan patah berbentuk tapal kuda. Udara di ketinggian ini semakin dingin, menusuk hingga ke persendian jarinya yang kaku mencengkeram stang kemudi. Namun anehnya, di balik kemeja drill kelabunya, tepat di atas ulu hatinya, liontin Giok Kumbang Seminung itu justru memancarkan kehangatan yang semakin intens. Kehangatan yang tidak wajar. Setiap kali ia berbelok mendekati arah mata angin barat daya, denyut batu itu terasa semakin tegas dan berirama cepat, seakan-akan ada medan magnet tak kasat mata yang menariknya secara paksa.
"Fathan, dalam gerak Silat Fitrah, tapak kakimu tidak boleh sekadar menginjak tanah," suara petuah Ki Rimbai terngiang kembali di sela dengung knalpot motor. Dulu, di halaman belakang rumah panggung mereka saat fajar menyingsing, kakeknya kerap memukul betis Fathan dengan sebatang rotan tipis jika langkahnya goyah. *"Bumi ini bukan benda mati yang pasif. Bumi ini bernapas, berdenyut, dan memiliki ingatan. Jika kau berjalan dengan congkak, kau hanya menjadi mangsa bagi gravitasi. Selaraskan napasmu dengan tarikan urat bumi. Di tanah berair tenang, langkah yang terlalu percaya diri adalah undangan bagi lumpur untuk menelanmu."*
Fathan menghela napas panjang melalui hidung, menurunkannya ke rongga diafragma sebagaimana pola napas hening yang dilatihnya bertahun-tahun. Kegalauan batin yang sejak tadi mencengkeram tenggorokannya perlahan mereda. Mengapa Ki Rimbai begitu bersikukuh menyembunyikan masa lalunya hingga ambang kematian? Mengapa sebuah keluarga silat tua yang konon disegani di pesisir Ranau harus mengasingkan diri dan hidup bersahaja sebagai tukang reparasi jam dan peramu herbal di pinggiran Sungai Musi?
Pertanyaan-pertanyaan itu berdengung di kepalanya tanpa jawaban. Yang Fathan tahu dari kabar burung kerabat jauh hanyalah kisah kelam samar: ayah dan ibunya dinyatakan hilang tenggelam dalam sebuah badai mendadak di Danau Ranau saat Fathan baru berusia tiga tahun. Mayat mereka berdua tidak pernah ditemukan. Tidak ada nisan, tidak ada upacara pemakaman yang layak. Hanya ada sehelai selendang songket ibunya yang robek dan liontin giok hitam ini yang dibawa pulang oleh Ki Rimbai dengan wajah pucat bagai mayat hidup tiga puluh tahun silam.
Jalanan mulai menurun tajam setelah melewati celah bukit Simpang Sender. Dan di sanalah, di balik celah pepohonan pinus dan kabut yang tersibak sejenak oleh hembusan angin lembah, siluet itu menampakkan diri.
Gunung Seminung.