MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Lembayung di Kaki Gunung Seminung

Fathan tiba di dermaga Banding Agung saat senja membakar langit menjadi jingga keemasan. Gunung Seminung menjulang megah di seberang air danau yang membiru pekat. Di sebuah warung kopi tepi danau, tetua nelayan menceritakan legenda putri bergaun kabut yang kerap menampakkan diri saat bulan mati.

“Air Danau Ranau ini punya dua wajah, Nak. Di atasnya cermin langit, di bawahnya palung yang menyimpan rahasia para dewa zaman baheula.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


--- BAGIAN 1: Lembayung yang Terbakar di Ujung Dermaga ---

Pendarahan senja di atas Seminung, kelelahan fisik Fathan, dan firasat dingin yang menyentuh tengkuk.

···[ ⚔️ ]···

"“Danau ini tidak sedang tidur; ia sedang menahan napasnya untuk menelan sesuatu.”"

Matahari di atas Danau Ranau tidak tenggelam dengan kepasrahan yang lembut. Ia meregang nyawa, mencakar langit barat dengan lidah-lidah cahaya berwarna tembaga dan merah kesumba yang perlahan membusuk menjadi ungu lebam. Di kejauhan, Gunung Seminung tegak menjulang laksana benteng purba yang dipahat dari batu jelaga. Puncaknya yang bergerigi telah lebih dulu dipenggal oleh arak-arakan kabut kelabu—kabut yang tidak turun dari langit, melainkan seolah mendidih dan merayap perlahan keluar dari liang-liang pori air danau yang membiru pekat.

Fathan menghentikan langkahnya tepat di bibir dermaga kayu Banding Agung. Setiap bilah papan ulin yang dipijaknya berderit panjang, mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti keluhan tulang-tulang tua yang terbebani dosa. Ransel kanvas lusuh di punggungnya terasa menekan dua kali lebih berat dari biasanya, seolah batu-batu dari masa lalunya ikut berjejal di dalam kantong jahitan kasar itu.

Ia menarik napas panjang. Udara yang terhirup bukan sekadar oksigen pegunungan yang segar; ada aroma belerang tipis bercampur ganggang basah, lumut lapuk, dan dingin yang ganjil. Dingin yang tidak menusuk kulit dari luar, melainkan dingin yang menyelinap lewat lubang hidung, merayap menuruni kerongkongan, lalu hinggap di dasar lambung seperti segumpal es batu yang tak mau mencair.

Bulu kuduk di tengkuk Fathan meremang seketika. Sebuah getaran halus—terlalu samar bagi orang biasa, namun teramat bising bagi seseorang yang pernah melatih jurus-jurus pernapasan Tirta—berdesir di sepanjang tulang selangkanya. Naluri silat yang telah ia tidurkan selama tiga musim mendadak menggeliat, membuka kelopak matanya di dalam kegelapan batin.

“Danau ini...” gumam Fathan nyaris tanpa suara, bibirnya yang kering pecah-pecah terasa getir oleh terpaan angin danau.

Air Danau Ranau di hadapannya sama sekali tidak bergelombang. Tidak ada riak ceria seperti ombak pantai selatan atau kecipak manja sungai-sungai dangkal di lembah kelahirannya. Permukaan danau itu terhampar luas, pejal, dan hitam mengilap, menyerupai lempengan cermin obsidian raksasa yang dibentangkan oleh tangan-tangan tak kasat mata. Begitu hening, hingga kepakan sayap seekor burung bangau malam yang melintas seratus depa di atas permukaan air terdengar laksana kibasan kain kafan yang dikibaskan di ruang sempit.

Namun, ketenangan itu dusta. Fathan tahu persis tabiat air. Air yang terlampau tenang adalah air yang sedang menimbun tenaga untuk membanting mangsanya ke dasar. Di bawah lapisan cermin pekat itu, Fathan dapat merasakan denyut yang lambat namun perkasa. Ada pusaran purba yang berputar di kedalaman ratusan meter—palung tanpa cahaya tempat bangkai-bangkai pohon masa prasejarah terawetkan dalam kedinginan abadi.

Ia meraba dada kirinya. Di balik kemeja drill kelabu yang berdebu perjalanan darat berjam-jam dari Kotabatu, luka parut melintang di bawah tulang rusuknya mendadak berdenyut ngilu. Luka itu sudah kering bertahun-tahun silam, namun setiap kali Fathan berada terlalu dekat dengan massa air yang menyimpan misteri kelam, rasa perih itu kembali hidup. Seolah darahnya sendiri berusaha mengenali kerabat lamanya yang berwujud cair.

Lembayung di langit akhirnya tumpas. Warna tembaga lenyap dilahap jelaga malam yang tumpah deras dari puncak Seminung. Di kejauhan, sebuah lentera badai berbahan bakar minyak tanah berkedip malas dari teras sebuah bangunan panggung di tepi dermaga. Asap kayu bakar dan aroma sangrai kopi robusta mulai tercium samar, memanggilnya keluar dari belenggu lamunan yang mencekik.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦


--- BAGIAN 2: Asap Kopi dan Dentang Sendok di Warung Tua ---

Pertemuan dengan Wak Jalil, kontras kehangatan lampu petromak dengan kengerian kabut, serta interogasi terselubung.

···[ ⚔️ ]···

"“Orang yang berjalan terburu-buru ke tepi Danau Ranau saat senja hanya punya dua urusan: mencari mati, atau melarikan diri dari maut.”"

Warung kopi itu lebih menyerupai pondok nelayan yang enggan roboh. Tiang-tiang kayunya yang condong ditumbuhi tiram tawar dan lumut kehitaman, mencengkeram tebing batu dermaga dengan keputusasaan yang keras kepala. Cahaya lampu petromak bergoyang lemah tertiup angin celah dinding bambu, melemparkan bayang-bayang panjang yang bergeliat menyerupai jemari raksasa di lantai papan.

Lonceng kuningan berkarat di atas pintu berdentang cengang saat Fathan mendorong bilah pintunya yang separuh terbuka. Bunyinya membelah keheningan dengan tajam, membuat seorang lelaki tua yang duduk di sudut ruangan tersentak pelan.

“Pintu jangan dibuka terlalu lebar, Bujang,” suara serak itu meluncur sebelum Fathan sempat melangkah masuk sepenuhnya. “Kabut Ranau punya mata. Sekali kau biarkan dia mencium bau manusia di dalam rumah, dia takkan mau pergi sampai fajar.”

Fathan menoleh, segera merapatkan kembali daun pintu kayu lapuk tersebut. Di balik kepulan uap ceret seng yang mendidih di atas tungku arang kayu kopi, duduk seorang tetua nelayan. Kulit lelaki itu liat, berkerut-kerut seperti kulit kayu manis tua yang dikeringkan matahari bertahun-tahun. Sepasang tangannya yang kapalan mencengkeram sendok seng, mengaduk cairan hitam pekat di dalam cangkir kaleng bermotif lurik hijau.

“Duduklah,” ujar tetua itu tanpa memandang langsung ke arah Fathan. “Angin dari kaki Seminung malam ini membawa racun dingin. Kalau kau biarkan mengendap di paru-paru, besok pagi ludahmu sudah merah.”

Fathan menurunkan ranselnya ke lantai papan dengan hati-hati, memastikan pangkal kayu tongkat pendek yang terselip di samping ransel tidak beradu keras dengan lantai. Ia menarik sebuah bangku kayu berkaki tiga yang goyah, lalu duduk di seberang meja kayu kasar yang penuh goresan pisau dan bercak lingkaran hitam bekas cangkir kopi masa lalu.

“Kopi hitam satu, Pak Tua,” ucap Fathan pelan, berusaha menjaga suaranya tetap datar dan tenang, menyembunyikan getaran letih yang menggerogoti pita suaranya.

Tetua itu mendongak. Untuk pertama kalinya, sepasang mata lelaki tua itu bertubrukan langsung dengan tatapan Fathan. Sepasang mata yang luar biasa jernih untuk orang seusianya—kelabu keruh di bagian luar, namun di pupilnya menyala kewaspadaan purba yang dingin. Tatapan itu menusuk lurus ke wajah Fathan, menelisik tulang pipinya yang tirus, debu jalanan di alisnya, lalu turun menyusuri pundaknya yang bidang dan cara Fathan meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja: jemari rileks namun bertumpu pada bantalan pergelangan, posisi siaga alami seorang pendekar yang siap membalikkan meja dalam hitungan sepersekian detik.

Lihat selengkapnya