MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Shalat Gaib di Batu Tepi Danau

Malam hari, Fathan mengambil wudhu dari air danau yang sedingin es dan mendirikan salat tahajud di atas batu ceper menjorok ke perairan. Ketika ia bersujud, gelombang frekuensi aneh merambat dari dasar danau langsung ke detak jantungnya; liontin warisan kakeknya berpendar biru safir terang.

“Bismillahi tawakkaltu 'alallah... Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


Bagian 1: Dingin yang Menghunus Tulang

Wudhu di Pantai Sinangkalan & Kabut yang Menggulung

···[ ⚔️ ]···

Malam di tepian Danau Ranau tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya membungkam suaranya sendiri, menahan napas di balik lapisan kabut tebal yang merayap turun dari punggung Gunung Seminung. Di Pantai Sinangkalan, kesunyian itu memiliki bobot yang sanggup meremukkan dada manusia biasa. Tidak ada derit jangkrik rimba, tidak ada debur ombak danau yang wajar, bahkan desau angin lembah terasa enggan menyentuh hamparan air hitam pekat yang membentang luas tanpa batas pandang, seolah malam itu danau vulkanik tersebut telah berubah menjadi mangkuk obsidian raksasa yang menampung kepedihan berabad-abad.

Fathan berdiri di ujung undakan batu cadas, memandangi permukaan air yang berkilau kusam disapa sisa pendar bulan sabit tua yang sekarat di langit barat. Di sekelilingnya, kabut putih keperakan bergulung pelan, bergerak meraba bebatuan berlumut purba bagai jemari hantu yang mencari sesuatu yang hilang. Hawa dingin malam itu bukan dingin biasa yang lazim dirasakan pelancong pegunungan; ini adalah dingin yang menghunus, dingin metafisik yang merayap melewati pori-pori kulit, menembus lapisan daging, lalu bersarang di sumsum tulang belakang Fathan bagai lelehan es yang membekukan darah.

Lelaki muda itu menarik napas panjang. Napasnya terhembus menjadi kepulan asap putih pekat yang langsung tersapu kabut. Di dadanya, tersembunyi di balik baju koko hitam berkancing tujuh dan sarung tenun gelap yang membebat pinggangnya, sebutir liontin berbatu safir warisan kakeknya terasa menempel pada kulit. Anehnya, batu itu tidak ikut mendingin. Sejak Fathan menginjakkan kakinya di bibir Pantai Sinangkalan satu jam yang lalu, batu itu terus memancarkan rasa hangat samar yang berdenyut pelan—sebuah detak ganjil yang seakan membalas desah napasnya sendiri.

"Sepuluh tahun, Ayah..." bisik Fathan lirih, nyaris tak bersuara, ditelan kabut yang kian merapat hingga jarak pandang menyusut tinggal tiga langkah. "Di sinilah jejakmu lenyap tanpa nisan. Dan malam ini, tanah ini memanggilku kembali."

Fathan melangkah perlahan menuruni bebatuan licin yang basah oleh embun pekat. Kakinya yang telanjang merasakan gigitan tajam kerikil vulkanik dan kelembapan lumut yang telah hidup ratusan tahun di sana. Tujuannya adalah batu ceper raksasa yang menjorok sekitar lima depa ke arah perairan lepas—batu yang oleh sesepuh Desa Sukabanjar disebut sebagai Batu Karang Sinangkalan, tapal batas di mana kedalaman danau mendadak merosot curam membentuk palung tanpa dasar.

Sebelum melangkah ke atas batu itu, Fathan berjongkok di tepian air. Ia menyingsingkan lengan bajunya hingga ke atas siku. Dengan bismillah yang tertata rapi dalam rongga hatinya, ia mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam Danau Ranau.

Seketika rasa sakit yang menusuk menjalar dari ujung jarinya!

Air itu begitu dingin hingga terasa membakar, bagai jarum-jarum perak yang ditancapkan serentak ke syaraf pergelangan tangannya. Di bawah permukaan air yang pekat bagai tinta cina, Fathan sempat melihat pantulan wajahnya sendiri—wajah tirus pemuda dua puluh empat tahun dengan garis rahang tegas dan sepasang mata cekung yang menyimpan kelelahan batin menahun. Namun, dalam sepersekian detik sebelum riak air merusak pantulan itu, Fathan merasa melihat bayangan lain di samping kepalanya: sebuah siluet kabur dengan mata menyala pucat yang berkedip dari kedalaman danau yang gulita.

Fathan tersentak kecil, namun ia tidak menarik tangannya. Gemblengan silat batin selama bertahun-tahun di surau lereng Seminung mengunci ketenangannya. Ia menundukkan pandangan, menepis getaran was-was itu dengan rapalan zikir penenang jiwa. 

Ia membasuh muka tiga kali. Air beku itu mengalir membasahi pelipis dan jenggot tipisnya, menyapu rasa kantuk, namun sekaligus mempertegas rasa getir yang mengendap di kerongkongan. Setiap basuhan wudhu terasa seperti ikrar pembersihan diri di hadapan mahkamah gaib yang sedang mengawasinya dari seberang kabut. Air danau itu berbau belerang samar bercampur lumut purba, aroma khas perairan yang menyimpan rahasia kematian tak terpecahkan.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦


Bagian 2: Sujud di Ambang Palung Maut

Frekuensi Rendah Dasar Danau & Pendaran Safir

···[ ⚔️ ]···

Dengan kondisi berwudhu sempurna dan tetesan air dingin yang masih menitik dari ujung dagunya, Fathan melompat ringan menyeberangi celah karang basah menuju batu ceper Sinangkalan. Batu itu berukuran kira-kira dua rentangan tangan, permukaannya rata namun kasar terpahat erosi air danau selama berabad-abad. Berdiri di sini rasanya seperti mengapung sendirian di tengah lautan kabut abadi; daratan di belakangnya telah hilang tersaput selubung kelabu pekat, sementara di depan dan di bawah kakinya hanya ada kehampaan hitam yang menatap balik dengan dingin.

Fathan membentangkan sajadah tipis tenun tua bermotif sulur hijau pudar yang ia bawa dalam buntalan kain. Sajadah itu adalah peninggalan almarhum Kakek Bahri—satu-satunya barang yang tidak hangus ketika rumah panggung keluarga mereka terbakar misterius sepuluh tahun silam, sesaat setelah kabar kematian ayahnya di danau ini menyebar.

Fathan menghadap ke barat laut, menyelaraskan kiblatnya dengan ketajaman rasa batin. Ia berdiri tegak, kedua telapak kakinya menapak kukuh di atas karang maut. Hawa dingin merayap naik dari batu, namun Fathan mulai mengatur pola napas jurus pembuka perguruannya: menarik napas panjang melalui rongga perut, menahannya di dada bawah ulu hati dengan zikir asma Allah, lalu menghembuskannya pelan bagai helai sutra.

"Ushalli sunnatal tahajjudi rak'ataini lillahi ta'ala..." lafal niatnya bergaung sunyi di dalam dada.

Fathan mengangkat kedua tangannya ke dekat telinga. "Allahu Akbar!"

Suara takbir itu keluar mantap dari kerongkongannya, memecah kesunyian Pantai Sinangkalan yang beku. Seketika itu juga, seolah alam gaib di sekelilingnya terkejut oleh seruan kebesaran Sang Pencipta, kabut di permukaan danau tersentak mundur satu jengkal. Fathan bersedekap. Di balik keheningan bacaan Al-Fatihah yang ia lafalkan dengan nada pelan dan getir, detak jantung Fathan berdegup dengan ritme yang semakin cepat. Rasa cemas yang ia kubur dalam-dalam kini menyeruak ke permukaan kesadarannya: ketakutan bahwa dosanya belum terampuni, ketakutan bahwa kedatangannya ke Ranau malam ini hanyalah bentuk kesombongan darah muda yang menantang kutukan leluhur.

Rukuk dilalui dengan ketertundukan penuh. Punggungnya lurus, urat-urat kakinya menegang menahan goncangan angin lembah yang mendadak berembus kencang membawa serpihan air kabut yang membekukan wajah. Namun, kengerian sesungguhnya baru meletus ketika Fathan merendahkan tubuhnya untuk bersujud.

Ketika kedua telapak tangannya menempel pada kain sajadah, dan dahinya yang basah menyentuh permukaan batu ceper Sinangkalan, dunia Fathan mendadak berputar.

Sebuah dentuman frekuensi amat rendah merambat dari dasar danau!

Itu bukan suara gemuruh yang terdengar oleh telinga badaniah, melainkan gelombang infrasonik gaib yang merayap menembus kepadatan batu karang, merambat lewat tulang dahi Fathan, dan menghantam tepat di rongga dadanya. Gelombang itu bergetar dalam tempo yang aneh: berdenyut bagai detak jantung raksasa yang tertidur di kedalaman ratusan meter di bawah kakinya. Satu... dua... tiga... setiap denyutan danau itu memaksa jantung Fathan untuk menyamakan ritmenya.

*Dug... dug... dug...*

Dada Fathan terasa seperti dihimpit bongkahan timah seberat kuintal. Napasnya tercekat di tenggorokan. Di dalam rongga matanya yang terpejam, kegelapan malam mendadak berganti menjadi silatan-silatan kilat biru safir.

Di saat bersamaan, liontin safir warisan Kakek Bahri yang tergantung di lehernya bereaksi dahsyat. Batu permata kuno itu memanas seketika. Dari balik serat kain baju koko hitamnya yang tebal, seberkas pendaran cahaya biru safir elektrik terpancar terang benderang! Cahaya itu tidak panas membakar kulit, melainkan memancarkan getaran murni yang beresonansi keras melawan gelombang frekuensi hitam dari dasar danau. 

Air danau di sekeliling batu ceper mulai memperlihatkan lingkaran-lingkaran riak aneh, berpencar konsentris seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menjatuhi permukaan air yang tenang.

Dalam sujudnya yang terjepit antara sakratul ibadah dan cengkeraman teror gaib, air mata Fathan menetes membasahi sajadah Kakek Bahri. Tubuhnya menggigil hebat. Ini bukan sekadar fenomena alam atau sekadar uji nyali pesilat; ada kesadaran purba di dasar Danau Ranau yang mengenali darahnya, memanggil nama batinnya, dan menuntut pembayaran atas janji lama yang tak pernah ia pahami.

"Subhana rabbiyal a'la wa bihamdih..." bisik bibir Fathan gemetar, mengulang tasbih sujudnya untuk ketiga kali dengan seluruh sisa tenaga jiwa raga. "Subhana rabbiyal a'la wa bihamdih..."

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

Lihat selengkapnya